Kebaikan karena kebiasaan

Kebaikan yang hadir dalam hidup kita sering kali kita rasakan dalam bermacam-macam momen.

Kebaikan sesederhana menjawab salam, membalas sapaan, mengucapkan terimakasih, tersenyum, dan meminta tolong terasa membekas bila diucapkan dengan perkataan yang baik.

Ada kebaikan yang saya lihat disini dan saya yakin ini timbul sebagai sebuah kebiasaan. Tapi semua kebiasaan pada awalnya bukanlah kebiasaan bukan?

Seperti cara mencuci baju. Pertama kali diajari bagaimana cara mencuci baju dengan baik dan benar. Apakah dikucek, disikat, diinjak-injak. Apakah dibilas sekali, dua kali, tiga kali. Pada awalnya semua itu diberi tahu, entah oleh ibu, ayah, nenek, atau bahkan teman sekalipun. Seiring berjalannya waktu, cara yang diajarkan pun menjadi sebuah kebiasaan yang secara tidak sadar kita lakukan dan akan terasa mengganjal saat tidak melakukannya.

Conscious menjadi unconscious.

Pun dengan kebaikan-kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan berulang-ulang akan menghadirkan kebiasaan. Saya melihatnya disini. Seseorang yang melakukan kebaikan karena mengerti akan kesulitan, harapan, dan pengorbanan orang lain. Dan itu dilakukannya terhadap semua orang tidak memandang siapa.

Semoga kebaikan-kebaikan seperti itu menular.

KKN is OVER

“Bu, Dhila mau KKN di Bangka, boleh ga?”

Bunyi WA saya kepada ibu 2,5 bulan yang lalu.

Pada awalnya, saya tidak membidik Bangka secara khusus sebagai tempat KKN yang akan saya kunjungi. Saya dulu sering bermimpi untuk KKN di belahan timur Indonesia. Akan tetapi karena periode KKN yang saya ikuti adalah periode sepi, muncullah Bangka sebagai tempat terjauh untuk melaksanakan KKN.

Tim KKN yang dikirim ke Bangka terbagi menjadi 3 Unit untuk ke 3 wilayah. Saya memilih Jelitik berdasarkan lokasinya yang paling timur di pulau tersebut sehingga paling dekat ke Belitung (siapa tau akan jalan-jalan ke Belitung :P). Saya tidak janjian dengan siapapun memilih lokasi tersebut. Bisa dibilang saya pasrah dengan siapapun saya akan sekelompok nantinya untuk hidup 24/7 selama 2 bulan ke depan.

Kelurahan yang saya datangi ternyata masih terbilang cukup ‘kota’. Jaraknya hanya 15 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Bangka. Disana kami ditugaskan untuk mengangkat permasalahan kesiapan masyarakat menyongsong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dicanangkan akan diluncurkan tahun 2018 oleh bapak bupati.

Berbagai program kami susun dan kami jalani selama 2 bulan. Tapi KKN tidak hanya tentang melaksakan program dan mendapat nilai. KKN bagi saya adalah sebuah proses pendewasaan karena kami hidup bersama dengan orang lain. KKN bagi saya adalah pembelajaran langsung tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang sesungguhnya.

Kelompok saya berjumlah 29 orang. Tentunya kelompok kami bukan fairytale yang hidup tanpa perselisihan. Drama-drama KKN tentu ada. Tapi saya bersyukur, drama kami hanya drama ringan-ringan saja dan segera selesai ketika masalah sudah teratasi.

Bersama 28 orang-orang keren inilah saya hidup selama 2 bulan terakhir. Rekor yang patut saya apresiasi karena kami memasak sendiri selama 2 bulan penuh untuk mencukupi kebutuhan makanan kami yang harus terpenuhi dengan budget 12rb/hari! Padahal makan di Bangka itu mahalnya luar biasa (jika dibandingkan di Jogja). Mukat (menjaring ikan), ngebabs (re: ngebabu-piket harian nyuci sejuta piring dan alat masak anak-anak), main ke pantai kapanpun kita mau, main ke kolong pak maman, naik hilux rame-rame kemana2, hingga hal-hal kecil dan seru lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan 28 orang luar biasa ini. Bersyukur bisa KKN di Jelitik dan bertemu masyarakatnya yang supeeeeer baik. Terimakasih Jelitik untuk segala ceritanya!

1512031024755.jpg
Bersama warga beberapa menit sebelum berpisah
DSCF5071.JPG
29 orang Tim KKN BBL-10
1512211676191.jpg
Di atas kapal menuju Pulau Kelapan 😛
IMG_20171203_104826_115.jpg
Dapat ikan setelah mukat. Yeiy!

tulisan kedua hari ini

tau gak. sekarang jam 1 malem. dan saya belom tidur. lebih tepatnya saya gabisa tidur. dan tetiba pengen nulis (lagi) untuk hari ini.

jadi saya baru pulang. gak baru juga sih, udah 2 jam yang lalu. saya baru pulang habis ketemuan dengan geng kecil masa alay puber bin galau-galauan saya. geng saya jaman SMP (saya mah anak nya nge gang ya gimana ya ._.)

terus saya jadi scroll laman saya ini. liat-liat tulisan yang dulu. karena… iceu habis buka kartu kalo saya punya blog (wkwkwk yaampun ceuu). jadilah saya pengen lihat tulisan-tulisan saya ini seberapa bermanfaat sih. sodara-sodara, blog saya ini ntar lagi beneran bakal dibaca lebih dari satu dua orang! (padahal paling nambah satu-dua orang).

terus saya baca-baca, ternyata 75% isinya curhat, 20% random, dan 5% tulisan serius.

tingkat kepentingannya paling 90% ngga penting, dan cuma 10% penting.

sampai di postingan terlama di blog ini, saya buka link tumblr saya yang dulu. terus scroll sampe habis.

dan ternyata saya malu. malu kok rasanya lebih wiser saya yang jaman dulu ya… lebih punya nyali buat bermimpi saya yang jaman dulu… lebih idealis dan berprinsip saya yang jaman dulu… terus sekarang rasa-rasa itu seperti lekang oleh waktu, terkikis sedikit demi sedikit #tsaaah

jadi, kemana perginya sebagian diri ini yang jaman dulu? #eh gimana ya ini struktur kalimatnya

 

Hello Sydney #5 (Hospital)

Westmead Hospital. Salah satu rumah sakit akademik sydney medical school dari 6 rumah sakit yang bekerjasama dengan mereka.

Bangunannya tidak baru. Tapi nyaman. Dari luar terlihat rumah sakit ini tidak terlalu besar. Tapi fasilitas pelayanannya selengkap rumah sakit besar-besar rujukan utama di Indonesia. Cancer center, Brain injury unit, NICU dengan berbagai level perawatan, PET-scan, MRI, fertility center, theatre dengan puluhan kamar operasi di dalamnya, dan masih banyak lagi ruangan-ruangan yang  belum saya masuki. Dan yang ga kalah kecenya, ada helipad yang aktif dipakai untuk transfer pasien!

Katanya, rumah sakit ini memang salah satu yang terbesar selain Blacktown dan Royal Alfred Hospital.

Begitu saya mendapat kabar bahwa saya akan ditempatkan disini, saya searching-searching di google dan instagram foto-foto rumah sakit ini. Tidak banyak foto yang beredar di internet. Yang saya dapat dan saya ingat adalah emergency room nya yang bagus hahaha.

IMG_20170730_112956_HDR.jpg
emergency room

Karena saya menjalani stase obstetrics and gynaecology, saya lebih banyak menghabiskan waktu di birth unit (di Indonesia namanya VK) dan poliklinik.

Birth Unit

Unit ini adalah ruangan yang dimasuki oleh ibu-ibu yang sudah ada tanda-tanda akan melahirkan ataupun yang akan diusahakan agar bayinya lahir segera. Baik sang ibu masuk dari poliklinik, dari ruang emergency, ataupun yang datang langsung setelah konsultasi dengan bidan via telepon.

Kapasitas unit ini kurang lebih 20 an pasien dengan setiap pasien memiliki ruangannya masing-masing. Oiya, yang saya suka dari sistem rumah sakit disini adalah tidak adanya penggolongan level kelas. Jadi tidak seperti di Indonesia yang setiap rumah sakit ada level kelas I,II,III, VIP, VVIP. Disini, semua pasien mendapat fasilitas yang sama, tidak dibeda-bedakan. Kecuali, jika pasien tersebut adalah pasien pribadi salah satu konsulen, maka dia tidak bisa menggunakan jaminan kesehatannya dan harus membayar private karena tidak akan ditangani oleh registrar atau trainee (istilah dari dokter-dokter yang sekolah spesialis atau subspesialis). Selebihnya, semua fasilitas yang didapatkan akan sama.

Kebetulan saya sempat mengambil foto salah satu ruangan di birth unit dengan seijin bidan disana.

IMG_20170826_083641_HDR.jpg
Ruangan pasien
IMG_20170826_083908_HDR.jpg
kamar mandi di setiap ruangan

Setiap ruangan sudah dilengkapi oleh bed, sofa, mesing CTG, wastafel beserta sabunnya, lemari storage untuk peralatan melahirkan, radiant warmer beserta obat dan alat emergency untuk neonatus, dan kamar mandi.

IMG_20170826_083924_HDR.jpg
Radiant Warmer. Di kanan kirinya lemari untuk kabel-kabel dan ada juga storage untuk alat-alat melahirkan

Setiap pasien memiliki satu bidan penanggung jawab (yang bertanggung jawab penuh dari pasien masuk sampai keluar). Setiap shift kerja, terdapat kurang lebih lima belas bidan. Jadi bisa dibayangkan jika lagi sepi pasien, satu bidan bisa jadi hanya memegang satu pasien sepanjang shiftnya (beda sekali dengan beban kerja bidan di Indonesia). Di setiap shift juga terdapat beberapa residen dan konsulen yang bertanggung jawab pada shift tersebut.

Poliklinik

Untuk polikliniknya, saya tidak mengambil banyak foto. Poliklinik terbagi menjadi beberapa bagian (kurang lebih sama seperti di RSUP Sardjito). Terdapat poli gyn dan poli obs. Setiap pasien akan memasuki ruangan sesuai dengan keluhannya masing-masing (apakah gyn jika berkaitan dengan masalah kewanitaan, atau obs jika berkaitan dengan masalah kandungan). Di poliklinik juga terdapat DAU (Daily Assessment Unit) dimana ibu hamil yang kandungannya bermasalah akan dilakukan monitoring dan observasi selama beberapa jam, dan juga Fetal Welfare Clinic dimana jika terdapat kecurigaan dengan gangguan kesejahteraan janin, juga akan diperiksa disini.

Setiap pasien yang akan berkunjung ke poliklinik, akan dibuatkan jadwal terlebih dahulu dari beberapa hari sebelumnya. Jadi dalam sehari, sudah ada plot waktu pasien yang akan periksa. Bagi pasien, hal ini sangat menguntungkan karena pasien tinggal memperkirakan jam berapa ia harus datang jika ia dijadwalkan untuk periksa jam sekian. Jika pasien tersebut tidak tiba pada waktu yang ditentukan, maka harus diganti ke hari lain (sejauh tidak emergency). Dokter disini bisa menghabiskan 30 menit hingga 1 jam hanya untuk seorang pasien! Mereka betul-betul menangani pasien tersebut secara keseluruhan.

Sisi lain yang saya suka. Dokter tidak memakai white coat. Apalagi medical student. Jadi tidak terlalu terlihat yang mana dokter yang mana yang bukan. Satu-satunya pengenal yang kita punya adalah ID card, dan hanya dengan menggunakan ID card itulah kita bisa memasuki ruangan (karena setiap pintu di kunci menggunakan sensor). Pada beberapa unit, termasuk Birth Unit, kita diharuskan untuk berganti pakaian luar dengan baju bersih (mereka menyebutnya scrub). Dan jika dari kamar operasi ingin keluar dari kamar operasi, diharuskan memakan gown putih yang sudah disediakan.

Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga selama 4 minggu saya di Westmead Hospital. Saya berkesimpulan bahwa dimanapun lokasinya, health care service itu sama saja. Prosedurnya sama, tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah providernya dan teknologi. Masalah teknologi gausah ditanya… Yang bisa diubah tanpa membutuhkan banyak biaya adalah pelayanan. Di Westmead ini saya melihat betul contoh pelayanan yang dilakukan dengan ramah oleh setiap provider. Melahirkan dengan mendengarkan ucapan-ucapan yang baik. Dan juga setiap orang yang menghargai proses belajar, menghargai setiap pendapat yang disampaikan.

Bukan, bukan berarti orang Indonesia tidak ramah. Bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan pelayanan yang demikian ramahnya di Indonesia. Hanya saja, sistem di Indonesia masih sering membuat stress level yang tinggi dengan pasien yang membludak sehingga pelayanan yang ramah bukan menjadi prioritas utama.

IMG_20170826_083512_HDR.jpg
Bersama Midwife di Birth Unit