KKN is OVER

“Bu, Dhila mau KKN di Bangka, boleh ga?”

Bunyi WA saya kepada ibu 2,5 bulan yang lalu.

Pada awalnya, saya tidak membidik Bangka secara khusus sebagai tempat KKN yang akan saya kunjungi. Saya dulu sering bermimpi untuk KKN di belahan timur Indonesia. Akan tetapi karena periode KKN yang saya ikuti adalah periode sepi, muncullah Bangka sebagai tempat terjauh untuk melaksanakan KKN.

Tim KKN yang dikirim ke Bangka terbagi menjadi 3 Unit untuk ke 3 wilayah. Saya memilih Jelitik berdasarkan lokasinya yang paling timur di pulau tersebut sehingga paling dekat ke Belitung (siapa tau akan jalan-jalan ke Belitung :P). Saya tidak janjian dengan siapapun memilih lokasi tersebut. Bisa dibilang saya pasrah dengan siapapun saya akan sekelompok nantinya untuk hidup 24/7 selama 2 bulan ke depan.

Kelurahan yang saya datangi ternyata masih terbilang cukup ‘kota’. Jaraknya hanya 15 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Bangka. Disana kami ditugaskan untuk mengangkat permasalahan kesiapan masyarakat menyongsong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dicanangkan akan diluncurkan tahun 2018 oleh bapak bupati.

Berbagai program kami susun dan kami jalani selama 2 bulan. Tapi KKN tidak hanya tentang melaksakan program dan mendapat nilai. KKN bagi saya adalah sebuah proses pendewasaan karena kami hidup bersama dengan orang lain. KKN bagi saya adalah pembelajaran langsung tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang sesungguhnya.

Kelompok saya berjumlah 29 orang. Tentunya kelompok kami bukan fairytale yang hidup tanpa perselisihan. Drama-drama KKN tentu ada. Tapi saya bersyukur, drama kami hanya drama ringan-ringan saja dan segera selesai ketika masalah sudah teratasi.

Bersama 28 orang-orang keren inilah saya hidup selama 2 bulan terakhir. Rekor yang patut saya apresiasi karena kami memasak sendiri selama 2 bulan penuh untuk mencukupi kebutuhan makanan kami yang harus terpenuhi dengan budget 12rb/hari! Padahal makan di Bangka itu mahalnya luar biasa (jika dibandingkan di Jogja). Mukat (menjaring ikan), ngebabs (re: ngebabu-piket harian nyuci sejuta piring dan alat masak anak-anak), main ke pantai kapanpun kita mau, main ke kolong pak maman, naik hilux rame-rame kemana2, hingga hal-hal kecil dan seru lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan 28 orang luar biasa ini. Bersyukur bisa KKN di Jelitik dan bertemu masyarakatnya yang supeeeeer baik. Terimakasih Jelitik untuk segala ceritanya!

1512031024755.jpg
Bersama warga beberapa menit sebelum berpisah
DSCF5071.JPG
29 orang Tim KKN BBL-10
1512211676191.jpg
Di atas kapal menuju Pulau Kelapan 😛
IMG_20171203_104826_115.jpg
Dapat ikan setelah mukat. Yeiy!
Advertisements

tulisan kedua hari ini

tau gak. sekarang jam 1 malem. dan saya belom tidur. lebih tepatnya saya gabisa tidur. dan tetiba pengen nulis (lagi) untuk hari ini.

jadi saya baru pulang. gak baru juga sih, udah 2 jam yang lalu. saya baru pulang habis ketemuan dengan geng kecil masa alay puber bin galau-galauan saya. geng saya jaman SMP (saya mah anak nya nge gang ya gimana ya ._.)

terus saya jadi scroll laman saya ini. liat-liat tulisan yang dulu. karena… iceu habis buka kartu kalo saya punya blog (wkwkwk yaampun ceuu). jadilah saya pengen lihat tulisan-tulisan saya ini seberapa bermanfaat sih. sodara-sodara, blog saya ini ntar lagi beneran bakal dibaca lebih dari satu dua orang! (padahal paling nambah satu-dua orang).

terus saya baca-baca, ternyata 75% isinya curhat, 20% random, dan 5% tulisan serius.

tingkat kepentingannya paling 90% ngga penting, dan cuma 10% penting.

sampai di postingan terlama di blog ini, saya buka link tumblr saya yang dulu. terus scroll sampe habis.

dan ternyata saya malu. malu kok rasanya lebih wiser saya yang jaman dulu ya… lebih punya nyali buat bermimpi saya yang jaman dulu… lebih idealis dan berprinsip saya yang jaman dulu… terus sekarang rasa-rasa itu seperti lekang oleh waktu, terkikis sedikit demi sedikit #tsaaah

jadi, kemana perginya sebagian diri ini yang jaman dulu? #eh gimana ya ini struktur kalimatnya

 

Hello Sydney #5 (Hospital)

Westmead Hospital. Salah satu rumah sakit akademik sydney medical school dari 6 rumah sakit yang bekerjasama dengan mereka.

Bangunannya tidak baru. Tapi nyaman. Dari luar terlihat rumah sakit ini tidak terlalu besar. Tapi fasilitas pelayanannya selengkap rumah sakit besar-besar rujukan utama di Indonesia. Cancer center, Brain injury unit, NICU dengan berbagai level perawatan, PET-scan, MRI, fertility center, theatre dengan puluhan kamar operasi di dalamnya, dan masih banyak lagi ruangan-ruangan yang  belum saya masuki. Dan yang ga kalah kecenya, ada helipad yang aktif dipakai untuk transfer pasien!

Katanya, rumah sakit ini memang salah satu yang terbesar selain Blacktown dan Royal Alfred Hospital.

Begitu saya mendapat kabar bahwa saya akan ditempatkan disini, saya searching-searching di google dan instagram foto-foto rumah sakit ini. Tidak banyak foto yang beredar di internet. Yang saya dapat dan saya ingat adalah emergency room nya yang bagus hahaha.

IMG_20170730_112956_HDR.jpg
emergency room

Karena saya menjalani stase obstetrics and gynaecology, saya lebih banyak menghabiskan waktu di birth unit (di Indonesia namanya VK) dan poliklinik.

Birth Unit

Unit ini adalah ruangan yang dimasuki oleh ibu-ibu yang sudah ada tanda-tanda akan melahirkan ataupun yang akan diusahakan agar bayinya lahir segera. Baik sang ibu masuk dari poliklinik, dari ruang emergency, ataupun yang datang langsung setelah konsultasi dengan bidan via telepon.

Kapasitas unit ini kurang lebih 20 an pasien dengan setiap pasien memiliki ruangannya masing-masing. Oiya, yang saya suka dari sistem rumah sakit disini adalah tidak adanya penggolongan level kelas. Jadi tidak seperti di Indonesia yang setiap rumah sakit ada level kelas I,II,III, VIP, VVIP. Disini, semua pasien mendapat fasilitas yang sama, tidak dibeda-bedakan. Kecuali, jika pasien tersebut adalah pasien pribadi salah satu konsulen, maka dia tidak bisa menggunakan jaminan kesehatannya dan harus membayar private karena tidak akan ditangani oleh registrar atau trainee (istilah dari dokter-dokter yang sekolah spesialis atau subspesialis). Selebihnya, semua fasilitas yang didapatkan akan sama.

Kebetulan saya sempat mengambil foto salah satu ruangan di birth unit dengan seijin bidan disana.

IMG_20170826_083641_HDR.jpg
Ruangan pasien
IMG_20170826_083908_HDR.jpg
kamar mandi di setiap ruangan

Setiap ruangan sudah dilengkapi oleh bed, sofa, mesing CTG, wastafel beserta sabunnya, lemari storage untuk peralatan melahirkan, radiant warmer beserta obat dan alat emergency untuk neonatus, dan kamar mandi.

IMG_20170826_083924_HDR.jpg
Radiant Warmer. Di kanan kirinya lemari untuk kabel-kabel dan ada juga storage untuk alat-alat melahirkan

Setiap pasien memiliki satu bidan penanggung jawab (yang bertanggung jawab penuh dari pasien masuk sampai keluar). Setiap shift kerja, terdapat kurang lebih lima belas bidan. Jadi bisa dibayangkan jika lagi sepi pasien, satu bidan bisa jadi hanya memegang satu pasien sepanjang shiftnya (beda sekali dengan beban kerja bidan di Indonesia). Di setiap shift juga terdapat beberapa residen dan konsulen yang bertanggung jawab pada shift tersebut.

Poliklinik

Untuk polikliniknya, saya tidak mengambil banyak foto. Poliklinik terbagi menjadi beberapa bagian (kurang lebih sama seperti di RSUP Sardjito). Terdapat poli gyn dan poli obs. Setiap pasien akan memasuki ruangan sesuai dengan keluhannya masing-masing (apakah gyn jika berkaitan dengan masalah kewanitaan, atau obs jika berkaitan dengan masalah kandungan). Di poliklinik juga terdapat DAU (Daily Assessment Unit) dimana ibu hamil yang kandungannya bermasalah akan dilakukan monitoring dan observasi selama beberapa jam, dan juga Fetal Welfare Clinic dimana jika terdapat kecurigaan dengan gangguan kesejahteraan janin, juga akan diperiksa disini.

Setiap pasien yang akan berkunjung ke poliklinik, akan dibuatkan jadwal terlebih dahulu dari beberapa hari sebelumnya. Jadi dalam sehari, sudah ada plot waktu pasien yang akan periksa. Bagi pasien, hal ini sangat menguntungkan karena pasien tinggal memperkirakan jam berapa ia harus datang jika ia dijadwalkan untuk periksa jam sekian. Jika pasien tersebut tidak tiba pada waktu yang ditentukan, maka harus diganti ke hari lain (sejauh tidak emergency). Dokter disini bisa menghabiskan 30 menit hingga 1 jam hanya untuk seorang pasien! Mereka betul-betul menangani pasien tersebut secara keseluruhan.

Sisi lain yang saya suka. Dokter tidak memakai white coat. Apalagi medical student. Jadi tidak terlalu terlihat yang mana dokter yang mana yang bukan. Satu-satunya pengenal yang kita punya adalah ID card, dan hanya dengan menggunakan ID card itulah kita bisa memasuki ruangan (karena setiap pintu di kunci menggunakan sensor). Pada beberapa unit, termasuk Birth Unit, kita diharuskan untuk berganti pakaian luar dengan baju bersih (mereka menyebutnya scrub). Dan jika dari kamar operasi ingin keluar dari kamar operasi, diharuskan memakan gown putih yang sudah disediakan.

Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga selama 4 minggu saya di Westmead Hospital. Saya berkesimpulan bahwa dimanapun lokasinya, health care service itu sama saja. Prosedurnya sama, tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah providernya dan teknologi. Masalah teknologi gausah ditanya… Yang bisa diubah tanpa membutuhkan banyak biaya adalah pelayanan. Di Westmead ini saya melihat betul contoh pelayanan yang dilakukan dengan ramah oleh setiap provider. Melahirkan dengan mendengarkan ucapan-ucapan yang baik. Dan juga setiap orang yang menghargai proses belajar, menghargai setiap pendapat yang disampaikan.

Bukan, bukan berarti orang Indonesia tidak ramah. Bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan pelayanan yang demikian ramahnya di Indonesia. Hanya saja, sistem di Indonesia masih sering membuat stress level yang tinggi dengan pasien yang membludak sehingga pelayanan yang ramah bukan menjadi prioritas utama.

IMG_20170826_083512_HDR.jpg
Bersama Midwife di Birth Unit

 

Hello Sydney #4 (City of Sydney)

Saya tinggal bukan di tengah kota Sydney. Westmead Hospital berada di bagian barat Kota Sydney. Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan kereta untuk sampai di City Center. City Center Sydney adalah lokasi tujuan wisata para turis karena memang disana banyak sekali objek wisata yang touristy seperti Sydney Opera House, Sydney Bridge, Darling Harbour, dan masih banyak lagi. Selama hampir 3 minggu saya berada disini, saya sudah berkali-kali mengunjungi City Centre. Tetapi tetap saja masih ada tempat-tempat yang belum saya datangi karena lokasinya memang ada yang tidak berdekatan dan takes time karena saya berjalan kaki.

Pusat kota ini menurut saya cukup terawat. Saya dan Galuh bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk berjalan dan menikmati pemandangan yang indah. Berjalan kaki disini walaupun seharian tidak terasa lelah dan aneh. Karena sepanjang perjalanan udara yang berhembus sangat sejuk, tidak banyak polusi udara dari kendaraan, dan pemandangan yang dilihat sangat menyegarkan mata. Juga tidak terasa aneh karena bukan hanya kami yang berjalan kaki berjam-jam, banyak orang-orang yang lalu lalang berjalan kaki baik untuk berwisata, pulang kerja, pulang sekolah, dan lain sebagainya.

IMG_20170729_135455_BURST16
Bersama orang-orang yang berjalan kaki

Kami mengunjungi Sydney Opera House pertama kalinya saat hari kedua kami disini. Kami berhenti di Central Station dan berjalan kaki (mengikuti petunjuk dari Google Map) menuju kesana. Yang belakangan kami tahu bahwa cukup jauh jika kami berhenti di Central Station dan seharusnya berhenti di Circular Quay atau Wynyard Station. Tapi saat itu kami sangat menikmati pejalanan (maklum lah jarang liat yang seger-seger di tengah kota di Indonesia wkwk).

Kami melewati Town Hall, George St.,  Darling Harbour, dan sebuah taman indah yang belakangan kita ketahui bahwa itu Barangaroo.

IMG_20170815_164202_HDR
Pemandangan dari Barangaroo. Bisa menikmati sunset sambil duduk2 di bebatuan ini dengan backsound deburan suara ombak. Suka!
IMG_20170729_125942_HDR
Central Station
IMG_20170729_135054
Darling Harbour
IMG_20170729_170803_HHT
Yeay! akhirnya sampai di Opera House

Satu hal yang saya sangat suka di Kota Sydney ini adalah tidak banyak sampah bertebaran. Jarang sekali saya lihat cleaner yang membersihkan sampah, menyapu, atau membersihkan toilet. Dan tetap saja tidak banyak sampah yang bertebaran.

Royal Botanic Garden

Ini adalah salah satu taman favorit saya dan Galuh. Kami berkali-kali menghabiskan sore di tempat ini. Taman ini adalah taman terbesar di kota Sydney yang letaknya tidak jauh dari Sydney Opera House. Tidak dikenakan biaya masuk untuk menikmati taman ini. Di dalamnya terdapat banyak tanaman-tanaman dari berbagai belahan dunia. Orang-orang banyak yang menikmati taman sambil duduk-duduk di rumput atau menggelar alas untuk piknik. Tempat ini juga menjadi tempat favorit untuk menikmati sunset. Taman ini juga bersih. Di dalamnya ada toko yang menjual berbagai macam bibit dan produk dari tanaman-tanaman yang ada di taman ini.

IMG_20170826_161605_HDR
Royal Botanic Garden (lihat bunga seger-seger bikin refreshing mata!)
PANO_20170826_162852
Royal Botanic Garden
IMG_20170806_170534_HDR
Burung-burung seperti ini ada dimana-mana!
IMG_20170826_164456_HDR
Lihat sunset dari Royal Botanic Garden

Hello Sydney! #3 (Indonesia ngga kalah bagus!)

For the first time saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Jadi seperti for the first time hal-hal lainnya, jiwa-jiwa norak saya muncul.

Saya berangkat dari Yogyakarta dengan maskapai Garuda Indonesia (Alhamdulillah dibeliin garuda hehe) menuju Sydney dengan transit terlebih dahulu di Jakarta. Berangkat dari Yogyakarta selepas isya (karena pesawat delay). Sampailah saya di bandara Soekarno-Hatta atau yang lebih gampang disebut Cengkareng ini. Saya menuju terminal 3 untuk keberangkatan selanjutnya. Dan WOWW bandaranya bagus banget!

Di terminal 3 ini tidak penuh sesak orang berlalu lalang, banyak saya lihat warga negara asing disini. Tapi saya ga ketemu artis (lah terus kenapa wkwk). Sepertinya terminal 3 ini baru di renovasi dan saat saya kesana kemarin masih kinclong.

Saya, yang biasanya ga sering selfie akhirnya selfie-selfie juga disini. Tapi memang karena niat saya ingin mendokumentasikan setiap perjalanan ke Sydney ini sih jadi saya keluarkan tongsis (terimakasih Vilah yang sudah mengingatkan saya untuk membawa tongsis dan beli pas beberapa jam sebelum berangkat hahaha *untung deket rumah*). Yaaa kapan lagi coba saya bisa ke Sydney 😛

Pesawat kami yang kedua juga delay. Kami baru brangkat dari Cengkareng pukul 01.00. Kami menunggu sekitar 3 jam sejak tiba di Jakarta. Dan emang dasar saya orangnya suka kelaparan kalo ga makan nasi, saya makan dulu (harganya mahal sih di bandara) dan bisa tidur dimana saja, saya ketiduran di ruang tunggu 😛

Kami berangkat dari Cengkareng dengan pesawat jenis Airbus (yang dari Jogja Boeing). Tapi masih ga bisa bedain sih yang jenis airbus yang mana *ga terlalu merhatiin*. Perjalanan menuju Sydney berlangsung 7 jam (15 menitnya muter di barat bandara Kingsford Smith Sydney gara-gara bandaranya traffic saking banyaknya pesawat yang mau mendarat). Alhamdulillah saya ga kelaparan lagi di pesawat karena makanan datang silih berganti hehehe.

Bandara Kingsford Smith cukup besar, tapi sepertinya lebih luas Cengkareng *atau saya yang kurang explore*. Kami berdua dijemput oleh pihak University of Sydney dan diantarkan ke Westmead Hospital. Sambutan mereka sangat hangat walaupun mereka menunggu lama karena pesawatnya delay T_T. Kami juga ditemani untuk membeli kartu SIM di bandara agar HP bisa segera digunakan.

Meluncurlah kami ke Westmead Hospital.

Westmead adalah nama sebuah daerah di Sydney, bagian dari Parramatta, yang terletak di sebelah barat dari bandara dan City Center. Dan Westmead ini adalah rumah sakit pemerintah di daerah tersebut (sejenis RSUD lah kalo di Indonesia).

Kami diantarkan untuk mengambil kunci kamar dan diajak quick tour di student accomodationnya tersebut.

Kalau dibandingkan dengan student accomodation di Indonesia, disini nyaman pake banget. Karena semua fasilitas basic sudah ada seperti kasur, meja belajar, lemari, lampu meja belajar, cermin, hanger, handuk, selimut, seprai, bantal, AC. Sedangkan fasilitas bersamanya tersedia kamar mandi, dapur (beserta peralatannya dan kulkas), mesin cuci, living room, TV, dan tempat seterika, wifi. Dan semua air bisa panas dan dingin. Jadi untuk kebutuhan dasar disini sudah terpenuhi. Ternyata kemudian saya mengetahui untuk ukuran orang sini harga student accomodation di Westmead sangat murah (kalo di Indonesia udah dapet kos eksklusif padahal :P). Harganya $50 per minggu.

PANO_20170728_144837
Ini dia kamar saya. Sengaja difoto sebelum berantakan hahaha

Selain itu yang mau saya highlight disini adalah tentang toiletnya. Ternyata saudara-saudara ga perlu berkecil hati kondisi pertoiletan di Indonesia itu sudah cukup bersih. Disini karena kebanyakan orang make nya tisu, ga pake air, tisu-tisu tersebut bisa bertebaran kemana-mana. Dan maka dari itu saya yang agak toilet problem, sampai saat ini belum pernah buang air kecil di tempat umum (kalo ngga kepepet saya lebih prefer nunggu balik ke asrama baru buang air di toilet asrama). Kalau di Indonesia, mayoritas di tempat-tempat umum seperti stasiun, bandara, pusat kota, dsb itu bersih. Ternyata Indonesia ngga kalah bagus untuk hal yang satu ini. Sebenernya pengen sih nampilin salah satu contoh toilet yang sempet saya foto, tapi ngga usah deh heheheh.

Tapi teringat, salah satu teman saya pernah cerita waktu dia ke Jerman dia juga sama kayak saya karena ga tahan dengan toilet tanpa air. Dia kena ISK (infeksi saluran kemih) pas pulang ke Indonesia L. Jadi hati-hati juga. Semoga ngga yaa…

 

Hello Sydney! #2 (Tentang Vaksin dan Visa)

Persyaratan IELTS sudah saya kirim. Kemudian saya dikirimkan file dari pihak University of Sydney berisi formulir elective yang harus saya isi yang juga berisi pilihan departemen yang ingin saya ambil. Saya diminta untuk memilih 5 departemen dan diurutkan dari yang paling priotitas. Saya memilih Emergency Medicine (gara-gara keseringan nonton ER :P) sebagai pilihan pertama dan diikuti Anesthesiology (karena ini skripsi saya wkwk), dan yang lainnya saya lupa milih apa hahaha. Sent.

Beberapa hari kemudian saya dikirimkan email bahwa saya diterima di departemen Obstetric and Gynaecology di Westmead Clinical Hospital! Wow jauh banget. Bahkan saya sepertinya tidak memilih pilihan ini 😛 Tapi tidak apa-apa, saya percaya semua yang Allah SWT takdirkan pasti ada alasannya 🙂

Pihak Westmead juga mengirimkan dokumen yang harus saya isi dan persyaratan vaksin untuk mengikuti elektif disana. Dokumen yang dipersiapkan meliputi:

Police Check (dari home country dan Australian Police Check).  

Tentang police check ini saya terkaget-kaget karena ternyata dibandingkan dengan Indonesia, police check Indonesia (atau biasa disebut SKCK) jauuuuuuh lebih murah dibanding Police Check Australia. SKCK Indonesia bisa kita dapatkan dengan hanya membayar 20 ribu rupiah sedangkan mengurus police check Australia dikenakan biaya AU $42. Kalau itungan orang sini sih ngga murah-murah amat tapi ya ga begitu mahal. Tetep aja tapi emang mental selalu mengkonversi harga menjadi rupiah jadi kerasa mahal banget untuk selembar surat hahaha.

Vaksinasi, Doctor Check, bebas TB

Kalau vaksin ini yang disyaratkan adalah Hepatitis B, MMR, Varicella, dan dTp.

Nah mengenai vaksin ini ada cerita menariknya juga.Untuk varicella (cacar air) kita boleh tidak perlu vaksinasi jika sudah pernah terkena Varicella. Jadi vaksinasi yang harus saya penuhi hanya 3 jenis. Tapi itu ternyata tidak mudah! Vaksinasi Hepatitis B saya untung saja sudah lengkap (karena saya koas berhubungan selalu dengan Rumah Sakit dan infeksi, saya merasa perlu untuk melengkapi vaksin ini). Hanya dulu ketika saya vaksinasi saya selalu lupa membawa kartu vaksinasinya, sehingga tidak ada dokumentasi resminya. Akhirnya saya meminta ke dokter di klinik saya vaksin (yang juga masih merupakan dosen saya) untuk bukti vaksinasinya. Alhamdulillah dapat dengan mudah.

Kemudian saya mencari vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) dan dTp. Waktu itu saya sedang stase anak dan alhamdulillahnya masih di daerah Yogyakarta. Saya mencari vaksin tersebut di RS Sardjito. Tetapi ternyata stok keduanya sedang kosong T_T. Di Sardjito adanya vaksin Td dan saya harus memesannya terlebih dahulu. Tempat untuk vaksinnya di klinik anak dan karena kebetulan saya sedang stase anak jadi mudah untuk akses klinik tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk vaksin Td sambil mencari tempat yang memiliki stok vaksin MMR. Saya sampai bertanya kepada dokter ahli vaksinasi di RS Sardjito dimana saya bisa mendapatkan vaksin MMR, dan beliau bilang stoknya memang benar-benar sedang kosong. Saya disarankan mencari alternatif lain seperti mengecek titer IgG Rubella dan Measles. Beliau juga bersedia jika diminta pernyataan yang menyatakan bahwa stok vaksin MMR di Indonesia sedang kosong. Saya pun mencoba saran beliau.

Mengecek IgG Rubella bisa dilakukan di RS Sardjito sedangkan IgG Measles harus di klinik swasta dan harganya lebih mahal dibandingkan dengan vaksinnya sendiri karena harus dikirimkan sampelnya ke luar negeri.

Setelah mengecek titer dan vaksin Td, sayapun mengirimkan dokumen tersebut ke pihak Westmead. Ternyata pihak Westmead tetap mempersyaratkan vaksin MMR dan harus dTp, tidak boleh Td. Akhirnya saya dan Galuh browsing dan tanya-tanya extra untuk mendapatkan vaksin tersebut. Saya sampai bertanya ke Biofarma Bandung, meminta tolong teman saya yang sedang koas di RSHS Bandung, RS Moewardi Solo, dan teman saya di Malaysia untuk menanyakan stok vaksin (Yaampuun kalo diinget-inget lebay banget yaa). Alhamdulillah kami menemukan informasi bahwa sebuah klinik vaksin di Jakarta memiliki stok vaksin MMR dan dTp. Betapa bahagianya kami saat itu. Tetapi kemudian kami pun bingung bagaimana akses ke Jakarta di saat kami koas seperti ini, dan apakah harus jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk vaksin? Harganya pun menjadi jauuh lebih mahal dibanding vaksinasi MMR saat di Indonesia ada stok karena vaksin MMR di klinik tersebut merupakan vaksin impor dari Singapura. Harga vaksin MMR satu dosis saat itu 750 ribu rupiah dan vaksin dTp 550 ribu rupiah. Tapi yasudahlah kepalang tanggung daripada mundur di tengah jalan, akhirnya kami mengatur waktu yang kosong agar kami bisa pergi ke Jakarta untuk vaksin MMR dan dTp. Kurang lebih 3 minggu kemudian saya berangkat ke Jakarta untuk vaksin tersebut (untungnya ada jadwal libur pergantian stase jadi saya berangkatnya dari Bandung sekalian pulang kampung hehe). Oiya untuk vaksin dTp cukup 1 dosis tetapi vaksin MMR harus 2 dosis. Jadi saat saya harus kembali ke Jakarta sebulan kemudian untuk vaksinasi dosis ke-2.

PhotoGrid_1501502660551

Untuk dokumen bebas TB bisa dengan mudah didapatkan pelayanannya di RS Sardjito dengan melakukan TST (Tuberculin Skin Test) atau X-Ray Thorax jika perlu.

Alhamdulillah setelah semua persyaratan lengkap (setelah diurus berbulan-bulan :”), saya mengirimkan dokumen tersebut ke pihak Westmead.

Setelah persyaratan di cek oleh pihak Westmead, kami dikirimkan surat pengantar visa untuk pembuatan visa ke Kedubes Australia.

Visa

Kami mendapatkan surat pengantar visa kurang lebih satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Dengan menghitung-hitung waktu yang ada, tidak mungkin saya dan Galuh mengurus langsung ke Jakarta karena kami harus menjalani koas dan sulit untuk ijin lebih dari sehari. Kami mencari alternatif tempat membuat visa Australia di Yogyakarta.  Ternyata visa Australia itu banyak sekali macamnya, mulai visa turis, bisnis, student, dan itu masih terbagi lagi beberapa subclass *saya bingung bacanya* haha. Setelah memutar-mutar mencari agen-agen visa, kami mendapatkan agen yang bersedia mengurus visa kami. Saat itu saya sedang stase Forensik di Klaten dan saya ijin untuk kembali ke Yogyakarta beberapa jam untuk memasukkan dokumen visa tersebut agar bisa jadi maksimal 2 minggu sebelum keberangkatan (syarat dari pihak Sydney Uni nya). Dokumen persyaratannya susah-susah gampang buat saya karena saya juga mengirimkan dokumen asli dari  Bandung (salah saya juga sih karena saya ga bawa dokumennya waktu saya liburan sebelumnya). Saya memasukkan dokumen visa hanya beberapa hari sebelum lebaran. Sempet deg-deg an juga karena waktu libur lebaran belum tentu terhitung sebagai waktu kerja untuk mereka, yang kata Kedubesnya rata-rata waktu pemrosesan visa sekitar 15 hari. Tapi yaudahlah kalo masih rejeki ga bakal kemana, saya pikir. Nothing to lose. Alhamdulillah ternyata waktu pemrosesan visa kami pas 15 hari terhitung dari kami memasukkan dokumen.

Oiya saat itu saya apply visa bisnis (karena ada LoA nya dari pihak Sydney Uni) dan Galuh apply visa turis. Visa ini sebelas dua belas sih, sama-sama termasuk visa visitor tetapi bedanya hanya biasanya jika ada LoA lebih disarankan untuk apply visa bisnis agar bisa diurus dengan lebih mudah. Untuk harganya sendiri visa visitor dikenai harga 1,9 juta rupiah melalui agen. Kalau apply langsung ke Kedubesnya lebih murah beberapa ratus ribu (saya lupa berapa).

Dokumen visa lengkap, kemudian kami kirimkan. Beberapa hari kemudian kami dibelikan tiket PP oleh pihak Sydney University.

Alhamdulillah, mimpi apaa coba dhila akhirnya jadi berangkat jugaaa :” (Insyaallah)