Perjalanan

Ada detik yang tak kunjung usai

Untuk sebuah perjalanan

Ada hati yang tak bisa pindah

Saat perjalanan akan dimulai

Ada ikhlas yang tercapai

Karena harus seperti itulah akhirnya

Ada rela yang dipendam

Pada pundak pundak pemanjat doa

Aku dan sebuah perjalananku

Entah kini atau nanti, hati tidak mudah untuk berdamai

Aku dan perjalananku

Kini, hanya kita tinggal bersama

Advertisements

Merapi

Kemarin. Saat saya di rumah mbah, pagi pagi merapi terbatuk-batuk. Saya dan kakak saya melihat keluar apa yg terjadi. Para tetangga pun keluar dari rumahnya masing-masing. Semua pandangan tertuju ke arah utara, dimana gunung merapi berada.

Awan hitam mengepul di atas gunung tersebut. Membumbung tinggi ke langit. Diiringi suara tetangga yang sedang saling menerka apa yang terjadi pada merapi. Apakah akan kemudian meletus dengan letusan yg lebih besar?

Tak berapa lama kemudian. Awan hitam mulai bergerak, menuruni gunung, bergerak ke arah selatan. Seketika cahaya matahari tertupi oleh awan tersebut. Saya yang kemudian mengantar mbah cukur rambut, berhenti sejenak melihat fenomena alam yang baru pertama kali saya alami ini.

Saat itu saya hanya terkesiap. Betapa Maha Besarnya Allah SWT terhadap apa-apa yang terjadi di muka bumi ini. Saya merasa sangat kecil, kecil sekali dan tidak berdaya. Dalam hitungan menit, awan tersebut sudah cukup jauh bergerak ke selatan.

Saya sudah bersiap dengan masker untuk saya dan mbah. Saya sudah bersiap dengan hujan abu yang mungkin kami temui selepas kami keluar dari tempat cukur rambut.

Tapi ternyata awan tidak melintas lama di atas kami. Seketika pandangan menjadi terang kembali. Hujan abu pun tidak terjadi.

Betapa Maha Kuasa nya Allah SWT atas apa-apa yang terjadi di bumi. Kita hanya bisa bersiap-siap. Kun fayakun. Segala sesuatu bisa terjadi jika Allah SWT menghendaki.

So, what’s next?

Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama blog ini cuma saya buka apps nya untuk baca-baca dan like tulisan orang.

Kehidupan saya sudah berubah menjadi seorang pengangguran wkwkwkwk dan keinginan menulis dan menyelesaikan tulisan2 draft selalu muncul kalo saya lagi pengangguran. Long story short, alhamdulillah seminggu yang lalu udah selesai UKMPPD. Walaupun sekarang masih menunggu hasil dan banyak-banyak berdo’a agar saya dan temen2 saya lulus semua di UKMPPD ini, jadilah saya pengangguran sekarang.

Dan akhirnya saya mulai merasakan apa yang temen2 non sejurusan saya rasakan beberapa tahun lebih awal dari saya. Mungkin bisa dibilang quarter life crisis.

Agak lucu juga sih. Setiap saya kumpul sama temen-temen lain non sejurusan, mereka selalu menganggap bahwa jalan seorang dokter itu udah pasti. Ngga perlu lagi galau-galau in masalah kerja dimana, dapet kerja atau ngga, lanjut kemana, lanjut ngapain, atau lanjut nikah aja (?). Soalnya katanya dokter itu pasti dibutuhin dimana-mana, jadi tenang aja pasti dapet kerjaan.

Padahal sebenernya ngga semudah dan seindah itu. Dan kalau ngga berusaha nyari kerjaan ya ga bakal juga dapet kerjaan. Saya akhirnya merasakan kegalauan tentang apa yang akan saya lakukan. Semakin banyak opsi jalan dokter yang bisa dilewati, semakin saya bingung. Dan saya kebetulan adalah orang yang dapet pencerahannya telat (baru di akhir-akhir masa kuliah) kalo ternyata jalan seorang dokter itu bisa macem-macem banget. Ada dokter yang kerja di Rumah Sakit, bisa jadi dia seorang klinisi (bertemu pasien) atau struktural di manajemen rumah sakit. Ada yang kerja di pemerintahan, ngurusin masalah kesehatan orang banyak bukan individu. Ada juga yang kerja di perusahaan. Ada yang kerja di puskesmas. Ada yang kerja di IGD. Ada yang lanjut sekolah lagi, jadi peneliti, jadi dosen. Banyak banget.

Sayapun mencoba untuk menata lagi apa-apa saja yang mau saya usahakan. Walaupun tentu saja saya cuma bisa berusaha, kalau memang menurut Allah SWT itu bukan yang terbaik untuk saya, pasti akan diganti dengan yang lebih baik.

Dan sekarang semakin kerasa aja bahwa tiap orang punya time zone sendiri-sendiri. Comparing with other is not fair. Semua punya jalan masing-masing.

Be grateful, complaint less, pray more 🙂

Kebaikan karena kebiasaan

Kebaikan yang hadir dalam hidup kita sering kali kita rasakan dalam bermacam-macam momen.

Kebaikan sesederhana menjawab salam, membalas sapaan, mengucapkan terimakasih, tersenyum, dan meminta tolong terasa membekas bila diucapkan dengan perkataan yang baik.

Ada kebaikan yang saya lihat disini dan saya yakin ini timbul sebagai sebuah kebiasaan. Tapi semua kebiasaan pada awalnya bukanlah kebiasaan bukan?

Seperti cara mencuci baju. Pertama kali diajari bagaimana cara mencuci baju dengan baik dan benar. Apakah dikucek, disikat, diinjak-injak. Apakah dibilas sekali, dua kali, tiga kali. Pada awalnya semua itu diberi tahu, entah oleh ibu, ayah, nenek, atau bahkan teman sekalipun. Seiring berjalannya waktu, cara yang diajarkan pun menjadi sebuah kebiasaan yang secara tidak sadar kita lakukan dan akan terasa mengganjal saat tidak melakukannya.

Conscious menjadi unconscious.

Pun dengan kebaikan-kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan berulang-ulang akan menghadirkan kebiasaan. Saya melihatnya disini. Seseorang yang melakukan kebaikan karena mengerti akan kesulitan, harapan, dan pengorbanan orang lain. Dan itu dilakukannya terhadap semua orang tidak memandang siapa.

Semoga kebaikan-kebaikan seperti itu menular.

KKN is OVER

“Bu, Dhila mau KKN di Bangka, boleh ga?”

Bunyi WA saya kepada ibu 2,5 bulan yang lalu.

Pada awalnya, saya tidak membidik Bangka secara khusus sebagai tempat KKN yang akan saya kunjungi. Saya dulu sering bermimpi untuk KKN di belahan timur Indonesia. Akan tetapi karena periode KKN yang saya ikuti adalah periode sepi, muncullah Bangka sebagai tempat terjauh untuk melaksanakan KKN.

Tim KKN yang dikirim ke Bangka terbagi menjadi 3 Unit untuk ke 3 wilayah. Saya memilih Jelitik berdasarkan lokasinya yang paling timur di pulau tersebut sehingga paling dekat ke Belitung (siapa tau akan jalan-jalan ke Belitung :P). Saya tidak janjian dengan siapapun memilih lokasi tersebut. Bisa dibilang saya pasrah dengan siapapun saya akan sekelompok nantinya untuk hidup 24/7 selama 2 bulan ke depan.

Kelurahan yang saya datangi ternyata masih terbilang cukup ‘kota’. Jaraknya hanya 15 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Bangka. Disana kami ditugaskan untuk mengangkat permasalahan kesiapan masyarakat menyongsong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dicanangkan akan diluncurkan tahun 2018 oleh bapak bupati.

Berbagai program kami susun dan kami jalani selama 2 bulan. Tapi KKN tidak hanya tentang melaksakan program dan mendapat nilai. KKN bagi saya adalah sebuah proses pendewasaan karena kami hidup bersama dengan orang lain. KKN bagi saya adalah pembelajaran langsung tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang sesungguhnya.

Kelompok saya berjumlah 29 orang. Tentunya kelompok kami bukan fairytale yang hidup tanpa perselisihan. Drama-drama KKN tentu ada. Tapi saya bersyukur, drama kami hanya drama ringan-ringan saja dan segera selesai ketika masalah sudah teratasi.

Bersama 28 orang-orang keren inilah saya hidup selama 2 bulan terakhir. Rekor yang patut saya apresiasi karena kami memasak sendiri selama 2 bulan penuh untuk mencukupi kebutuhan makanan kami yang harus terpenuhi dengan budget 12rb/hari! Padahal makan di Bangka itu mahalnya luar biasa (jika dibandingkan di Jogja). Mukat (menjaring ikan), ngebabs (re: ngebabu-piket harian nyuci sejuta piring dan alat masak anak-anak), main ke pantai kapanpun kita mau, main ke kolong pak maman, naik hilux rame-rame kemana2, hingga hal-hal kecil dan seru lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan 28 orang luar biasa ini. Bersyukur bisa KKN di Jelitik dan bertemu masyarakatnya yang supeeeeer baik. Terimakasih Jelitik untuk segala ceritanya!

1512031024755.jpg
Bersama warga beberapa menit sebelum berpisah
DSCF5071.JPG
29 orang Tim KKN BBL-10
1512211676191.jpg
Di atas kapal menuju Pulau Kelapan 😛
IMG_20171203_104826_115.jpg
Dapat ikan setelah mukat. Yeiy!