The Beauty

beauty_face-1456083

Sumber : http://www.google.com (keyword: beauty)

Isi dari tulisan ini sebagian besar terinspirasi dari kuliah dan presentasi teman saya yang berjudul sama seperti judul tulisan ini.

Cantik dan tampan. Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin menjadi cantik dan tampan? Setiap orang setidaknya sekali dalam hidupnya pasti ingin dibilang cantik atau tampan, apakah dia seorang selebritis, seorang model, bahkan seorang alim sekalipun.

Tapi apakah sebetulnya cantik itu? Bagaimana seseorang dikatakan orang yang tampan? Apakah yang berhidung mancung, pesek, setengah mancung setengah pesek, mancung 5 cm, mancung 10 cm? Berkulit putih seperti chelsea olivia, hitam manis seperti anggun c sasmi, atau seperti oprah winfrey?

Berdasarkan diskusi saat saya kuliah, cantik adalah sebuah konstruksi sosial. Image cantik adalah sebuah pandangan yang terbentuk dari lingkungan sosial kita. Yang dikatakan cantik disini mungkin saja berbeda dengan yang dikatakan cantik disana. Cantik menurut orang indonesia bisa jadi tidak cantik menurut orang eropa. Sama seperti cantik menurut si ini belum tentu cantik menurut si itu. Dan anggapan cantik atau tampan juga akan mengalami perubahan dinamis seiring berjalannya waktu. Cantiknya era 70 an mungkin berbeda dengan cantik di era 90an. Cantik adalah subjektif.

Karena pembahasan cantik ini akan terlalu luas berdasarkan sosial nya masing-masing, mari kita kerucutkan di lingkungan kita saja, Indonesia.

Trend nya saat ini (karena saya merupakan generasi 90an, dalam tulisan saya akan menghubungkan dengan jaman saya :P), karena banyak yang sedang demam korea, seseorang dikatakan cantik atau tampan jika punya wajah oval, kulit putih, tidak ada jerawat di wajah, kutilang (kurus tinggi langsing), hidung mancung, dan tidak ada lemak berlebih di wajah. Ini memang anggapan physically.

Maka, saat ini klinik-klinik kecantikan sangat menjamur dan semakin berkembang apalagi di kawasan per-kampus-an. Dulu, akses klinik kecantikan ini mungkin tidak bisa didapatkan oleh orang-orang sebanyak jaman sekarang. Dulu klinik kecantikan ini mungkin hanya bisa diakses oleh orang-orang high-class atau orang-orang yang memang job nya sangat physical. Tapi saat ini klinik-klinik ini sudah dapat diakses oleh lebih banyak orang. Bahkan mahasiswa (yang notabene nya duitnya pas2an) sudah mendominasi sebagai customer klinik-klinik kecantikan di sekitar kampus. Tidak heran, semakin hari semakin banyak klinik kecantikan yang tumbuh di sekitaran kampus.

Seperti misteri telur dan ayam, klinik kecantikan ini juga sulit ditelusuri apakah didahului oleh kebutuhan pasar atau adanya klinik ini yang mendorong kebutuhan konsumen?

Orang-orang yang dulu merasa asing dengan klinik kecantikan, saat ini malah merasa kurang jika belum pernah ke klinik kecantikan. Dulu yang merasa tidak butuh, sekarang melakukan perawatan di klinik mungkin sudah dimasukkan ke anggaran bulanan. Kalau sudah ada klinik kecantikan seperti ini, what you wanna do is your own right.

Sayangnya, terkadang kita lupa bahwa setiap trend yang berkembang di masyarakat, pasti memiliki akibat untuk masyarakat itu sendiri, baik itu akibat negatif atau positif. Berkembangnya klinik kecantikan dan berbondong-bondongnya orang untuk perawatan di klinik tersebut akan membuat image cantik yang baru. Orang-orang ingin menjadi cantik seperti itu. Akan tetapi tidak semua orang bisa mengakses klinik tersebut. Ya, memang melakukan perawatan membutuhkan extra cost yang harus kita sisihkan. Dan inilah yang akan membuat gap yang besar antara yang mampu perawatan dan tidak mampu perawatan.

Untungnya, dalam hal kecantikan ini Indonesia belum seperti sebuah negara di suatu belahan dunia yang lain. Di negara tersebut, mayoritas pekerjaan menuntut calon pegawainya untuk cantik secara fisik (menurut konstruksi sosial mereka). Kesempatan pada orang yang cantik secara fisik ini akan lebih besar dibanding yang lain. Kalau sudah seperti ini, maka gap yang ada pun akan semakin besar. Logikanya, akan terbentuk 2 golongan seperti ini (hanya berdasarkan asumsi saya) :

  1. Orang yang mampu -> perawatan rutin -> cantik -> mudah mendapatkan pekerjaan dan naik tingkat -> penghasilan bertambah -> budget untuk perawatan bertambah -> perawatan yang lebih advance -> dst.
  2. Orang yang tidak mampu -> tidak bisa perawatan -> kalah dalam persaingan mendapatkan pekerjaan -> tidak punya kerja -> tidak ada penghasilan -> jangankan perawatan, kebutuhan primer pun sulit dipenuhi -> dst.

Akibatnya, yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin miskin. Dan bukan suatu hal yang mustahil di Indonesia suatu saat nanti trend nya akan bergeser seperti ini. Dan kita bisa jadi menjadi salah satu yang berperan dalam keadaan ini.

Sosial media, tayangan di televisi, dan obrolan sehari-hari kita juga mungkin saja berperan banyak dalam membentuk image ‘cantik’ saat ini. Ya, mungkin kita harus lebih sering mengingat-ingat bahwa cantik secara fisik belum tentu akan membuat hidup kita bahagia. Cantik secara fisik belum tentu akan selalu membawa kebaikan setiap saat. Cantik yang lebih indah adalah cantik dalam segala perbuatan kita, kalau bahasa kerennya inner beauty 😛

Selamat membangun kecantikan dari dalam diri masing-masing guys! Buat abang-abangnya juga, selamat membangun ketampanan dari dalam diri masing-masing!

Di penghujung tahun dan menjelang ujian.

Yogyakarta, 30 Desember 2015

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s