Hari pertama di RS jejaring

Tulisan di bawah ini sudah mengendap hampir 3 bulan di laptop saya…

48884
Sumber : medpagetoday.com

Stase pertama yang saya jalani adalah Ilmu Penyakit Dalam. Agak deg-degan juga karena stase ini adalah stase besar dan dengan target-target penguasaan penyakit yang begitu luas. Karena ini adalah stase besar, kami bergabung dengan kelompok 16108 dan menjalani stase 10 minggu ini bersama-sama.

Seminggu pertama kami habiskan waktu untuk bimbingan koas dari para konsulen dan senior di RSUP dr. Sardjito. Dan minggu ini adalah hari senin di minggu kedua.

Saya bersama 4 orang lainnya kebetulan mendapatkan jadwal 2 minggu selanjutnya di RSA UGM. Dari kabar burung yang beredar, kasus Ilmu Penyakit Dalam di RS ini tidak sesibuk di RS jejaring lainnya. Pasiennya tidak terlalu banyak dikarenakan RS ini masih tergolong baru (usia 4 tahun menurut sang direktur).

Dan hari kemarin adalah hari senin (saya menuliskan ini di hari selasa karena kemarin saya terlalu lelah untuk menulis). Kami datang pukul 7 pagi dan mendapat sekilas orientasi rumah sakit hingga jam 10. Kemudian kami menemui dr. Putu SpPD sebagai penanggung jawab kami. Dokter putu adalah orang yang ramah dan lucu dengan suara cempreng dan halusnya. Beliau sangat ceria dan periang. Dari situ saya kemudian mulai sedikit demi sedikit mengamati bahwa dokter-dokter yang akan saya temui nantinya adalah orang-orang yang hebat dan disukai pasien karena sifatnya yang periang.

Setelah menemui dr. Putu, kami berlima membelah diri (kayak amuba aja) menjadi 3 kelompok. Dari pembicaraan bersama dr. Putu, wajib hukumnya kami belajar dan menemui dr. Agit karena beliau adalah ‘adik bungsu’ IPD yang sangat pintar, masih freshgrad, dan sangat semangat mengajarkan para koass. Saya dan dua teman saya akhirnya memasuki poli dr. Eko dan yang lainnya memasuki poli dr. Putu.

Dr. Eko adalah orang yang sangat ramah dan humoris. Semua pasien dan setiap saat dia selalu bersenda gurau (tentu dalam batas-batas kewajaran). Beliau mempersilakan kami untuk memeriksa para pasien dan kemudian mengkonsultasikannya kepada beliau.

Mayoritas pasien yang kami temui hari ini adalah pasien dyspepsia. Hmm, diagnosis ini memang masih sangat general menurut saya, dan ternyata banyak sekali faktor yang mencetuskan pasien dapat menderitadyspepsia. Terutama adalah faktor psikologis dan stress.

Selain itu, di Poli kami juga bertemu dengan pasien HHD LVH, PPOK disertai BTA + terapi 4 bulan, CHF, dan DM. Saat menjumpai pasienTB BTA +, kami tidak menyadari dan tidak memakai masker. Teman saya yang kebetulan memeriksa kemudian menjadi cemas karena dia kontak dengan sangat dekat ketika memeriksa tanpa menggunakan masker. Wahh, kalau dulu kami hanya mendapat cerita-cerita dan peringatan unutk berhati-hati dari konsulen, kemarin kami benar-benarmenghadapinya sendiri. Ya, menjadi dokter atau tenaga medis lainnya memiliki resiko sangat besar untuk tertular penyakit infeksius. Semoga Allah SWT melindungi kami, aamiin.

Setelah poli selesai, kami berkumpul kembali. Kami membagi jadwal jaga IGD untuk hari pertama ini disaat jadwal jaga dr. Agit. Singkat cerita, saya, dan dua teman saya  yang kebagian menjaga pada malam ini (dari jam 4 sore-8 malam).

Karena saya tidak membawa jaket saat itu,saya dan teman pulang ke rumah dahulu untuk mengambil jaket. Kami sampai ke IGD pukul 15.00 dan langsung menunaikan sholat ashar di mushola. Seusai sholat ashar dan kembali ke IGD, kami melihat kegawatdaruratan sedang terjadi di balik gorden warna merah. Pasien cardiac arrest, dan seorang kakak angkatan kami yang kebetulan juga berjaga pada saat itu sedang melakukan RJP. Sontak saya merinding dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Untung situasi saat itu tidak ada kepanikan. Tapi ya Allah, pasien pertama saya adalah pasien cardiac arrest di usia yang sudah sepuh.

Kami pun bergantian melakukan RJP hingga kira-kira 6 siklus. Epinefrin juga sudah masuk, tetapi ternyata pasien tersebut tidak bisa ROSC. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Di pasien pertama ada 1 nyawa yang hilang.

Saat itu, saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan yang saya rasakan. Syok, tidak tega karena melihat bahwa ternyata RJP yang asli di pasien sungguhan pasti akan mematahkan sternum pasien tersebut. Saya pegang akral nya yang dingin dan saya pandangi wajahnya. Ajal memang tidak bisa diduga kapan datangnya. Saat itu, hujan deras pun mengguyur wilayah kami, padahal sesaat sebelumnyacuaca masih sangat cerah.

Pasien-pasien lainnya pun berdatangan silih berganti, yang saya ingat, ada pasien yang visum et repertum, pasien anak dengan tertusuk duri ikan lele saat makan malam, pasien anak dengan kamasukan cutton bud di telinga kirinya seminggu yang lalu tetapi orang tua dan anak tersebut sangat tidak memperlihatkan kepanikan, mahasiswa dengan suspek dengue fever dan disertai penurunan trombosit, pasien TB relapse usia sepuh dengan apex paru yang sudah hilang dan disertai suara amforik, pasien kecelakaan motor karena miss komunikasi dengan temannya dan dia mendapat luka baret/gesekan, pasien dengan migrain, dan pasien dengan anemia di usia sepuh.

Pelajaran utama hari kemarin bagi saya adalah, bahwa melayani dengan hati akan terasa lebih melegakan dan lebih enak. Pasien anak, sangat sulit untuk mendapat kepercayaan darinya. Kita perlu melakukan pendekatan-pendekatan untuk anak-anak yang jauh berbeda dengan pendekatan pada pasien dewasa. Saya masih harus banyak belajar dan bersabar dengan pasien anak.

Pelajaran kedua hari kemarin adalah, kita tidak perlu lah mengejar kompetensi dengan terlalu berlebihan hingga merugikan orang lain. Karena saya juga percaya bahwa Allah SWT akan menolong kita dan semua yang terjadi pada saat koas ini adalah jodoh kita.

Baitul Quds, 5 April 2016 pukul 05.54

NB: mohon maaf banyak istilah medis yang tidak saya terjemahkan

 

(Pseudo) holiday

Pseudo kalau di bahasa kedokteran artinya ‘mirip dengan sesuatu’. Jadi bukan 100% asli.
Nah, seminggu ini ceritanya saya lagi (pseudo) holiday, mirip-dengan-libur yang ketiga kalinya selama koas.

Sering ada yang bertanya, emangnya kalau koas ga ada libur ya? atau, loh dhil emang libur dalam rangka apa? atau, kalian liburnya kapan aja sih?

Begini penjelasannya:

Jadi selama koas (yang kalau di UGM akan berlangsung selama 20 bulan) dan terdiri dari 14 stase, kami dijatah mendapat libur sekitar 6minggu, dan libur tersebut akan di sebar di sela-sela pergantian stase. Stase besar kami (Penyakit Dalam, Kandungan, Anak, dan Bedah) berlangsung 10 minggu, sedangkan stase kecil selama 4 minggu, ada juga satu stase super kecil (IKM) yang berlangsung 2 minggu.

Sekarang, saya sudah melewati 3 stase, yaitu Penyakit dalam, IKM, dan Kulit & Kelamin. Liburnya terhitung 1 minggu sebelum saya masuk koas (kelompok saya masuk 1 minggu lebih lama daripada kelompok lain), 1 minggu saat libur lebaran (2 minggu di akhir stase kulit dipecah menjadi 1 minggu di tengah dan 1 minggu di akhir), dan 1 minggu di akhir stase kulit.

Jadwal stase koas kelompok saya ini termasuk jadwal yang enak dengan pembagian Stase besar, stase kecil, dan stase libur yang merata dan berselang seling. Bahkan hampir setiap sebelum stase besar saya mendapat jatah libur. Kelompok lain ada yang mendapat 2 stase besar berturut-turut, atau libur 3 minggu berturut-turut, gak kebayang kan lumutan dan kering nya kayak apa -_-

Ya makanya disyukuri aja dil 😛

Kartu Kendali libur

Jadwal stase saya (a.k.a kartu kendali) selama koas. Liburnya yg saya beri emoticon 🙂