Memperbaiki logika #1

just found #notetoself reminder from blogwalking

sedekah

sedekah-2

coba dil perbaiki logikanya selama ini, bismillah

full video link : disini

Advertisements

“Mbak koaaas”… “Partuuus”

Akhirnya ada kesempatan untuk nulis lagi… hehe udah banyak banget yang pengen ditulis tapi belum kesampean dari kemaren-kemaren.

Jadi sekarang saya sedang minggu ke lima stase obsgin-stands for Obstetri and Gynecology- atau yang lebih populer disebut dengan kandungan. Kalau dokter spesialisnya bergelar SpOG

Sebetulnya, masalah yang ditangani oleh spesialisasi ini bukan cuma masalah kandungan dan kehamilan, tetapi masalah kewanitaan lainnya. Dan itulah mengapa spesialisasi ini termasuk spesialisasi yang besar, yaaa karena ternyata memang masalah wanita lebih kompleks dari masalah pria dan masalahnya lebih banyak walaupun organnya cuma organ kewanitaan (rahim, sel telur, vagina). Dan berhubung saya juga wanita, saya excited dengan stase ini.

Tiga minggu pertama saya berada di Sarjito, jaga bangsal, jaga VK, dan ikut poliklinik. Ya, walaupun bantu-bantunya cuma sedikit, karena as always di Sardjito banyak sekali residen dan kita cuma bantu-bantu ngukur tekanan darah, nadi, suhu, respirasi, denyut jantung janin, dll tapi bisa menjadi bekal sebelum saya dikirim ke rumah sakit jejaring. Dan kemarin di Sardjito hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah melihat ibu melahirkan secara langsung sebelum saya ke luar kota wkwk.

baby-sleeping-in-mothers-arms
Sumber : http://www.google.com

Banyak sekali hal “pertama kali” di stase ini. Saya jadi ingin merinci hal-hal yang sejauh ini berkesan di stase obsgin :

  1. Seperti yang saya sebutkan diatas, saya sangat menunggu-nunggu menyaksikan persalinan (partus) di Sardjito *maklum lah koas obsgin baru*, dan entah bersamaan kebetulan ga rejeki banget saya kebagian jaga kamar bersalin di 2 hari terakhir dan cuma 1x sebelum ke luar kota. Jadilah, doa saya sebelum jaga kenceng banget, minta sama Allah biar ada ibu yang melahirkan pas saya jaga. Dan saya sampe minta doa juga loh ke ibu saya lewat telepon haha. Bunyi doanya kurang lebih begini “Ya Allah, semoga ada yang melahirkan pas saya jaga…”. Padahaaaal di peraturan koas tidak tertulis ada hal-hal yang “tabu” di saat kita jaga, katanya jangan bilang “asiiik sepi banget” karena kemudian pasien akan berdatangan dan kemudian kita akan menjadi kewalahan mendadak. Atau jangan berdoa “semoga ada pasien blablabla…” karena kemudian akan menjadi banyak pasien blablabla nya. Daan… JENG JENG ternyata pas saya jaga banyak sekali kasus ibu hamil yang butuh perhatian dan kasusnya sulit… sampe-sampe ga bisa tidur (alias gak enak ke residennya untuk ijin tidur, karena residennya pusing memikirkan sang ibu). Setelah kondisi cukup aman dan tertangani, sekitar jam 2 pagi saya ijin tidur (dan sejauh itu belum ada ibu yang melahirkan)… Paginya, sekitar jam 4 pagi saya bangun untuk mengecek kondisi ibu-ibu hamil, saya kaget ketika memasuki salah satu ruangan, melihat perut sang ibu sudah kempes. Dan spontan sang ibu berkata melihat wajah saya yang kebingungan “sudah lahir dokter anaknya…”. Dan saya beneran speechless saat itu, antara sedih dan senang. Senang karena sang ibu sudah tidak merintih kesakitan seperti saat sebelum saya tinggal tidur, dan sedih karena Saya melewatkan partus yang ditunggu-tunggu T_T. Dan hanya pasien tersebut yang menurut perhitungan akan melahirkan disaat saya jaga. Wahaha… ga rejeki banget… atau mungkin do’anya kurang spesifik yaa? harusnya “Ya Allah, semoga ada yang melahirkan dan bisa saya saksikan di saat saya jaga”. Alhasil, sampai pergi ke luar kota, saya belum pernah menyaksikan secara langsung proses ibu melahirkan..
  2. Di rumah sakit jejaring, akhirnya untuk pertama kalinya melihat ibu melahirkan. Perasaan saya ketika itu? saya teringat ibu saya. Serius. Yang saya rasakan saat itu, saya membayangkan betapa sakitnya ibu saya saat akan menyaksikan saya lahir ke dunia. Dan betapa hebatnya Allah menciptakan sedemikian rupa seorang makhluk di dalam makhluk hingga kemudian untuk pertama kalinya menangis sebagai respon bernafas yang pertama kalinya. Dan tangisan pertama adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu.
  3. Pertama kalinya juga melihat janin yang masih kecil dan bergerak-gerak di monitor USG, dan amazing banget lihatnyaa ❤❤❤
  4. Untuk pertama kalinya juga, saya masuk ke kamar operasi sebagai asisten steril (alias ikut berperan dalam berjalannya operasi). Dulu saya pernah masuk ke ruang operasi, tetapi tidak mengerjakan apa-apa. Dan yang pertama kali berperan ini, saya merasa sangat bodoh wkwk. Tiba-tiba saya blank dan lupa dengan prosedur steril *saking bingungnya dengan orientasi kamar operasi yang baru saya masuki*, celingak celinguk gak jelas, tapi alhamdulillah staff di ruang operasi baik-baik dan mau membantu menjelaskan kepada saya dengan sabar apa yang harus saya lakukan hehehe. Dan operasi pertama saya adalah pengangkatan rahim, dan berlangsung 3 JAM, karena komplikasi. Saya setengah mau pingsan saat itu. Melihat darah dimana-mana, dan untuk itu saya harus berkali-kali lihat ke arah atap untuk menghilangkan pemandangan tersebut. Tapi saya juga membanyangkan dokter yang mengoperasi pasti lebih lelah daripada saya… jadi saya ga boleh kalah dong dengan dokternya, masa tumbang duluan 😛
  5. Dan pertama kalinya saya menggendong, mengganti popok dan baju, membersihkan bayi yang baru lahir masih merah-merahnya. Hal yang ini terjadi karena bu bidan yang meminta saya “mbak koaaaas, tolong itu bayinya di gantiin baju”. Sebetulnya saya ga pernah bisa dan ga pernah lihat, tapi karena bu bidan yang minta, saya ga bisa nolak… Saya pikir bayi tsb adalah anak kesekian, sebelum saya gendong saya tanya dulu ke orang tuanya, dan ternyata JENG JENG ANAK PERTAMA yang artinya berarti si ibu dan keluarganya belum pernah gantiin baju bayi. Bahkan sang ibu yang saat itu sedang inisiasi menyusui dini kikuk sekali memindahkan anaknya ke pangkuan tangan saya. Akhirnya saya sok sok an bisa dan berlagak sedikit meyakinkan seperti saya sudah sering menggendong bayi haha. Tapi alhamdulillah proses membersihkan dan mengganti baju bayi berjalan lancar.

*capek juga nulisnya*

Mungkin sekian dulu cerita dari stase obsgin, let’s see the last 5 weeks here 🙂 semoga bisa dapet banyak ilmu, pengalaman, dan hikmah dari stase ini

Banyumas, 1 September 2016 pukul 01:07