ENT Wonderland

In a baper-ing mode right now huhuhu

And due to my writing in english is not good enough, i’ll use this blog as a tool to practice my english. Thus, sorry for the mistakes and feel free to correct me in the comment box below ๐Ÿ˜€ (emang ada yang baca, lol)

Today is the last day of my ENT station in RS UGM. I really enjoy this last 2 weeks! Big thanks to our doctors, dr. Mahatma Sotya Bawono, SpTHT-KL, M.Sc (dr. Boni) and dr. Ignatius Adhi Akuntanto, SpTHT-KL (dr. Adhi), for all the things you have taught us. They are really such a great yet inspiring doctors i’ve ever met ๐Ÿ˜€

When i came to the hospital 2 weeks ago, i did not expect anything despite of seeing various diseases, gaining experiences that could contribute to my competences in ENT skills, and knowledge to manage the patients. Yet, i feel like i get more than i expected!

Sooo many lessons to be learned after going through this station. The main valuable lesson is that being a doctor is not only about how you manage patients’ disease, also to treat the patients with full of respect in your own way as well. Not merely by theoritical meaning which i’ve been taught in undergraduate school.

The fact that this is over, makes me baper-ing to left the policlinic (doesn’t mean i want to extend my ENT station, lol :D)

From this, i’ll attach our wefie-time in the rooftop of the hospital (fyi, actually this place is soon-to-be-helipad like in ER TV series hahaha). Due to personal commitment of avoiding share any white-coat photos in my instagram, please allow me to share here. Hope you don’t mind to see these, just an expression of happiness ๐Ÿ˜€ (emang ada yang liat, lol)

PS : Unfortunately, dr. Adhi, SpTHT-KL wasn’t able to join us because he was in surgery ๐Ÿ˜ฆ

photogrid_1480146209910
‘ENT Laskar’ in RS UGM with dr. Boni, SpTHT-KL, M.Sc (Taken by a really-decent-doctor,dr. Agung, SpB-KBDย  )
1480141667278
Wefie time! (with dr. Agung, SpB-KBD)
img-20161126-wa0004
The-failed-imprisoned-pose (once again, taken by dr. Agung)
Advertisements

#throwback koas mata

Sudah berapa bulan lama ya saya tidak menulis? hehehe

Tulisan ini tentang dunia per-koas-an ‘lagi’ yang saya jalani satu bulan terakhir.. Kali ini tentang stase mata.

Sebelum saya masuk stase ini, ย mata menurut saya adalah alat indera yang paling rapuh, yang kayaknya kalo bola mata disentuh sedikit saja bisa mencederai bagian-bagian belakangnya. Dan saya ingat sekali kuliah yang gambar-gambarnya paling mengerikan dulu ketika S1 adalah kuliah tentang trauma mata.

Sebulan kemarin, saya menjalani stase ini dengan dosen pembimbing klinik yang masih muda dan easy going. Dan ternyata mata bukan organ yang serapuh itu. Bahkan tindakan jahit menjahit bola mata juga bisa dilakukan seperti jahit menjahit kulit (tentunya dengan alat yang disesuaikan).

Stase ini banyak memberikan pelajaran buat saya. Pelajaran pertama adalah bahwa dengan sebuah keharusan, ternyata saya bisa lebih banyak belajar hehe. Loh kok? iya, karena saya dapet dosen pembimbing yang menilai mini cex dengan mengamati kami memeriksa pasien secara langsung. Bahkan di minggu pertama saya sudah dijadwalkan mini cex dengan beliau (padahal secara koas baru minggu pertama kan belum ngerti apa-apa -_- *alasan*). Akhirnya karena itulah dari hari kedua saya sudah periksa-periksa pasien dan baca-baca textbook hehe.

Pelajaran yang kedua adalah do not overthink about something, unless you go through it by yourself.ย Kalau yang ini akumulasi dari stase-stase sebelumnya juga sih. Akhir-akhir ini saya lebih banyak memilah dan memilih informasi yang ‘katanya’ dan bersifat sangat subjektif tergantung dari perspektif masing-masing orang. Karena, dunia per-koas-an sangat rentan dengan hal seperti itu. Misalnya, ketika kita mendapat stase jejaring di Rumah Sakit A, dengan dokter B, kemudian ada yang bilang kalau di rumah sakit tersebut dokternya blablablablabla… Nah ini yang tidak selalu benar… saya sebisa mungkin menjadikan informasi tersebut hanya untuk berhati-hati, jangan sampai informasi yang demikian membuat saya kemudian menjadi ragu melakukan sesuatu selama saya berada dalam koridor aturan yang berlaku.. karena sekali lagi, informasi seperti ini sangat bersifat subjektif… Dan di stase ini, terbuktilah bahwa overthinking itu akan sangat merugikan..

Pelajaran yang ketiga… huft… *tarik nafas dulu*… ini the hardest part. The first time ever and i hope it will be the last. Pelajarannya? let the time heals a scar…

Maaf ya tulisan ini jadinya curhatan gak jelas dari saya…