Pernah gini yak

Random banget tiba-tiba wida ngirim foto malem-malem begini ke grup

Tanda kalo kita pernah muda dan gawl pada masanya

1482071978165.JPEG
Pernah gini yak (1). Dari dulu dah nyari jodoh dari atas belum turun2 wk

 

1482072015475.JPEG
Pernah gini yak (2). Sangar juga manjat2 atap 😛
1482071963151.jpg
Pernah gini yak (3). Foto kekinian jaman dulu

Ini anak2 geng gawl saya pada jamannya. Namanya PLUOK PLUOK.

Lakilaki dan perempuan

Jadi laki-laki itu..

Dia pasti akan menjadi seorang pemimpin, memberi nafkah, memiliki tanggung jawab lebih karena menjadi pundak bagi wanita dan anak-anaknya..

Bagai dahan, dia harus tumbuh kokoh, diterpa angin tetap berdiri tegak, dia punya tujuan sejauh mana dia akan tumbuh.

Maka, mereka butuh mengembangkan diri, menggapai mimpi-mimpinya, memiliki rasa dan ambisi terhadap sesuatu.

Biarkanlah, mereka menjadi prioritas utama.

Jadi perempuan itu..

Dia pasti akan menjadi seorang yang paling dibutuhkan, walaupun kehadirannya tak selalu bisa dirasakan oleh mata, tapi oleh rasa yang timbul dari hati..

Bagai akar, kehadirannya memberikan nutrisi, membuat kokoh dahan yang tumbuh diatasnya. Tidak terlihat, kecuali kalau kita gali tanahnya..

Maka, mungkin tak perlulah ia tumbuh tinggi menjulang. Cukup lah ia secara terus menerus menyalurkan nutrisi itu untuk dahan, batang, dan daun-daun agar tumbuh subur.

NB: Kadang terfikir, hei untuk apa kau sekolah tinggi-tinggi kalau mengurus rumah saja kau tidak bisa. Tapi, kenapa anak FK jaman sekarang mayoritas berjenis kelamin perempuan ya? Kan bikin galau.. kalau banyak dari kita yang memutuskan untuk menjadi akar seutuhnya, akan banyak lah negeri ini kekurangan tenaga untuk kesehatan masyarakatnya

 

 

Cuma gak biasa aja

Kalau ditanya saya cuek?

Saya ga paham sih definisi cuek indikator pastinya apa. Yang saya tau, saya emang ga biasa melakukan hal-hal yang biasanya orang se-kromosom-an dengan saya lakukan. Misalnya kalo ketemu temen heboh seketika, peluk2an, cipika cipiki, terus bilang ‘kangen’. Saya ngga bilang seperti itu ngga baik ya. Cuma…ngga saya banget aja.. rasanya awkward aja kalo saya yang ngelakuin. Tapi bukan berarti saya cuek, bukan berarti saya ngga segitu senengnya seperti yang lainnya saat ketemu dengan teman. Cumaa,  ngga biasa aja..

Kalau dilihat saya ngga ikutan ngobrol padahal lagi seru2nya?

Yang ini pilihan saya sih. Saat yang lain lagi seru banget kayaknya ngobrolin si ini waktu itu blablabla, si itu kemarin diginiin loh blablabla, si ini orangnya tu blablablablabla .. DUH. Udah mulai ga nyaman aja nih telinga. Terus hati saya ikut dagdigdug, defense mechanism saya bakal saya aktifin lagi nih. Kalau saya tiba2 terus nunduk, sok sibuk melakukan sesuatu, dan kemudian ngga terlihat merhatiin lagi… Berarti saya lagi menghindari ikut-ikutan… Bukan berarti saya cuek, cuma gak biasa aja… Ini pilihan saya sih, saya memilih biar hati ini kemudian ga ada perasaan ngga enak setelahnya…

Untuk hal-hal yang saya gak biasa tapi buat lingkungan saya biasa, rasanya gimana ya… eerrrr ngga nyaman aja.. ngga normalkah? tapi kalo kata dosen saya apalah definisi normal itu, cuma konstruksi sosial…

Embung dan Tebing

Yap, ceritanya karena lagi stase jiwa (dan selalu ada hikmah dalam setiap stase), saya menyadari bahwa saya kurang piknik akhir-akhir ini.

Seperti biasa, teman jalan yang selalu available adalah anak gycen. Mendadak ide jalan-jalan ke nglanggeran pun muncul H-1 berangkat. Waktu itu, kondisinya cuma ada saya, pipeh, dan nida. Kami bertiga pun merencanakan untuk jalan ke ngalanggeran di pagi buta.

Di hari minggu kami merencanakan untuk nginep di rumah pipeh agar jarak ke nglanggeran tidak terlalu jauh. Terutama biar bangun dan bener-bener berangkat habis subuh siiih, seenggaknya walaupun ga dapet sunrise pemandangannya masih bagus gitu laaah hahaha

Saya dan nida pun datang ke tempat pipeh jam 21.30 (malem banget yak wkwk). Kami tidur di satu tempat yang sama agar terbangun. Hari senin nya (senin tanggal merah), alhamdulillah saya beneran kebangun ketika adzan shubuh terdengar (rumah pipeh deket banget dengan masjid). Dengan mengumpulkan niat yang kuat kami pun bersiap2 untuk berangkat (percayalah, walaupun sudah diniatkan H-sekian untuk bener2 berangkat habis shubuh, adaaaa aja godaannya buat ga jadi berangkat pas hari H).
Akhirnya kami jalan molor-molor dikit sekitar jam 5 pagi, itupun setelah berdiskusi jadinnya mau ke nglanggeran yang mana (secara, wisata di nglanggeran banyak banget). Kami memutuskan untuk pergi ke Embung dan dijalan pulang ke tebing Breksi. Untungnya waktu tempuh antara rumah pipeh dengan embung cuma 36 menit menurut google map.

Embung Nglanggeran

Dan jeng jeeeng. Bersyukur banget kita ga salah milih waktu, karena ternyata ketika nyampe sana bener2 masih sepi dari pengunjung. Embung pun serasa milik kita hahaha

IMG_20161212_063848_1.jpg
Sejauh mata memandang, isinya cuma kita bertiga

Jadi embung ini adalah sejenis waduk (?) yang sengaja dibuat untuk menampung air. Kalau kita mendaki gunung purba dan sampe ke puncak, pemandangan yang tersaji di bawah salah satunya adalah embung ini. Dari atas kelihatannya seperti kolam renang, tapi ternyata setelah saya kesini ada ikan-ikan juga di dalamnya. Saya juga kurang ngerti sih fungsi embung ini untuk apa. Yang saya tahu oleh warga sekitar, tempat ini juga buat tempat wisata. Karena letaknya juga cukup tinggi, kita juga bisa melihat pemandangan yang baguus banget dari pinggir-pinggir embung. Lumayan banget buat refreshing mata 😛

Untuk mencapai lokasi ini, kita bisa masuk dari awah wonosari. Ikutin aja belokan ke arah gunung purba, melewati rumah-rumah warga. Setelah puskesmas pathuk 3 belok kanan (ke arah gunung purba). Lokasi embung ini setelah gunung purba, jadi nanti pasti ngelewatin dulu parkiran2 wisatawan yang mau naik gunung purba. Ikutin petunjuk jalannya aja, terus sekitar 2 km akan sampai di retribusi. Tiketnya cuma 10.000/orang plus bayar parkir 2.000/motor. Dan kita sudah bisa menikmati pemandangannya yang seger banget.

IMG_20161212_063629.jpg
Embung dari atas, di sekelilingnya ada bukit dan awan-awan

Air di embung ini juga cukup bersih, tenang, dan tidak banyak sampah. Sampe-sampe saya pengen nyemplung berenang disana 😛

Tebing Breksi

Setelah dari embung, kami pun turun kembali dan belok di per4an lampu merah pas baru turun dari wonosari. Menuju destinasi kedua, tempat yang dari dulu ingin saya kunjungi karena lagi hits (katanya..) di instagram : tebing breksi.

Karena asam lambung sudah mulai naik, mampir sebentar di soto pinggir jalan. Sotonya juga lumayan enak, namanya soto apa tapi saya lupa hehehe.

Dengan bantuan waze sampailah kami di tebing breksi. Kalau tidak salah, jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Dan ternyata RAME BANGET PENGUNJUNG.

Tempat ini terkenal karena fotogenik sih katanya. Dulunya tebing breksi ini merupakan penggalian kapur. Setelah penggalian selesai, terbentuk tebing-tebing tinggi menjulang yang ternyata diminati orang-orang untuk foto. Banyak juga pasangan-pasangan yang foto pre wed disini. Jadilah tujuan utama kita kesini adalah untuk FOTO FOTO.

Sempat kecewa dan sedih karena ternyata kita kesiangan. Kalau sudah banyak pengunjung, bisa ditebak foto-foto juga ga bisa sepuasnya. Tapi, kami pun tetap mencoba untuk nyari spot-spot kosong dan bagus untuk foto.

Tiga puluh menit berlalu, tapi kita tidak menemukan spot foto yang bagus dan kondisi tidak banyak orang.. (ya maklum sih namanya juga tempat rekreasi hehe). Terlintas untuk menyerah dan pulang saja lah…

Sambil menuju parkiran motor, kami iseng lewat bagian depan tebing yang ternyata tidak terlalu banyak orang. Dan ternyata ada satu spot yang bener-bener kosong dari pengunjung dan sepertinya kalau foto disana, tebingnya pun bisa kelihatan.

Senangnyaaa akhirnya ketemu spot foto baguuus :))

IMG_20161212_090405_1.jpg
Itu tuh tebingnya yang di belakang
IMG_20161212_090604_1.jpg
Foto merem ala ala

Karena kita bukan hobi fotografi, ya standar bagus kita adalah yang kelihatan kitanya dan tebingnya hahaha. Lumayang buat bukti pernah kesana 😛

Setelah foto-foto di tempat kosong tadi, kami pun pulang yeayy!

Pesan moral : jangan lupa piknik, karena piknik bisa membuat diri kita sehat dan masuk dalam definisi sehat menurut WHO (sehat fisik, sehat mental, dan sehat sosial)

Welcoming December

Hello december! even though too late to say, because already at the 7th.

I’ll spend this last-31-days in psychiatric division. To some extent, i think it is a field which has the most ‘abstract’ skills to examine a patient. Becoming a HET-like department and seems like to experience this for a second time. Can’t wait to see what may  be happen for the next 4 weeks. I hope to get new perception, insight, and become more open-minded toward stigmatized-mental-problem that suffered by people around me.