Taqwa = Taat dan Sabar

Habis lihat video pemudahijrahnya Ust. Hanan Attaki, terus yang paling makjleb dari isi kajiannya buat saya saat ini adalah tentang taqwa. Kata Ust. Hanan taqwa itu ga cuma tentang taat doang, tapi juga tentang sabar. Kalau orang tersebut taat mengerjakan perintah-perintah Allah SWT tapi belum bisa bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah SWT, maka dia belum mencapai sebuah ketaqwaan yang hakiki.

Terus mengaca pada diri sendiri. Saya? duh taat aja masih jauh, apalagi sabar 😦

Bentuk sabar itu yang bagaimana?

Di kehidupan nyatanya seperti apa? Kalau dipikir-pikir saya seharusnya bisa melakukan kesabaran-kesabaran di kehidupan saya sehari-hari. Sabar dan bukan berkeluh kesah.

Mulai dari bangun tidur. Sabar membangunkan sholat subuh (atau malah saya yang dibangunin sholat subuh?). Sabar menunggu antrian kamar mandi. Sabar menunggu lampu merah. Sabar mengantri karcis masuk RS. Sabar menunggu teman yang belum selesai mengerjakan tugas (atau saya yang belum selesai?). Sabar menunggu dokter pembimbing. Sabar dalam mengerjakan tanggung jawab yang diberikan ke kita. Contoh sabar yang sederhana.

Sabar yang lebih besar lagi? Banyak sekali contohnya di rumah sakit. Pasien yang bersabar dengan sakit yang di deritanya, sabar menjalani pengobatan. Sabar menempuh jarak sekian puluh bahkan ratus kilometer untuk mendapatkan pengobatan. Sabar mengantri berjam-jam untuk diperiksa beberapa menit oleh dokter. Sabar mengurus keluarganya yang karena sakit stroke sudah tidak bisa melakukan apapun secara fungsional. Sabar merelakan ayah, ibu, kakak, adik, atau saudaranya yang harus pulang mendahuluinya. Dan sabar-sabar yang lainnya.

Hei bukankah Allah SWT memberikan sebuah ujian kepada kita juga untuk menaikkan derajat kita jika kita mampu melaluinya? Libatkan juga Allah SWT dalam setiap usaha-usaha kesabaran yang kita lakukan.

-Dhila, ngomong ke diri sendiri, berusaha menjadi pribadi yang sabar-