Cerita Stase Anak (Part 2)

Dulu saya pernah nulis tentang stase anak ya? Dan berhubung ternyata sudah saya beri judul Part 1, berarti ada lanjutannya ya harusnya hihihi

Tapi ini cerita bukan di stase anak, saya sudah move on ke stase lain. Tetep cerita tentang anak-anak kok hehe

Malam itu saya jaga IGD. Saya lagi stase anestesi (cerita stase anestesi besok-besok yaa). Koas anestesi jaganya di ruang resusitasi (ruang yang untuk pasien merah a.k.a pasien gawat darurat). Kebetulan, pasien malam itu sedikit, cuma 2 pasien.. akhirnya malam itu saya habiskan untuk tidur di meja penerimaan pasien.

Paginya, tidak ada juga pasien yang datang. Akhirnya sambil menunggu jam operan jaga, saya main ke tempat pemeriksaan anak, menengok teman saya koas anak yang jaga sendirian malam itu. Kemudian, seorang pasien anak datang dengan keluhan demam, diantar oleh ibu dan ayahnya. Kalau tidak salah, pagi itu masih jam 6 kurang. Saya bantu-bantu teman saya memeriksa anak tersebut. Sambil dokter residennya menganamnesis (menanyakan keluhan) anak kepada sang ibu. Saya dan teman saya memeriksa sang anak yang di gendong oleh bapaknya.

Sang ibu menceritakan keluhan anaknya dengan suara agak keras sehingga saya yang berjarak 3 meter dari situ bisa mendengar. Beberapa detik kemudian terdengar suara sang ibu menjadi sesenggukan. Kemudian saya lihat, sang ibu menitikkan air mata sambil terus bercerita. Terlihat, raut wajah sang ibu sangat panik dan bingung sehingga cerita sang ibu pun sulit dimengerti karena menceritakannya loncat-loncat. Dokter residennya kemudian meminta sang ibu untuk tenang. Saya berpikir dalam hati, ah mungkin ini anak satu-satunya dan baru pertama kali sakit.

Ternyata setelah mendengar cerita dari sang ibu, anak ini sudah pernah dirawat karena infeksi CMV. Dulu, keluhannya sering sekali demam, sedikit-sedikit demam dan sulit sembuh. Ternyata setelah diperiksakan, sang anak terinfeksi CMV.

Saya menerka-nerka saat itu. Sepertinya sang ibu panik karena dia tidak ingin melihat anaknya kesakitan saat sakit dahulu kala. Tapi di sisi lain, saya juga tidak tahu kondisi dahulu saat anak tsb sakit seberapa parah. Sudahlah, saya anggap saja ibunya memang sedih melihat anaknya sakit…

Tetapi, kepanikan sang ibu ini memang agak tidak wajar. Beberapa menit kemudian sang ibu berlari mencari dokter residen dan meminta anaknya untuk di asap. Entah, sang ibu menunjuk-nunjuk lokasi dulu anaknya di asap ketika di IGD. Padahal, tidak ada indikasi anak tersebut perlu di uap/asap (nebu). Akhirnya sang residen pun meminta sang ibu untuk duduk dan menenangkan diri terlebih dahulu.

Ya, itulah yang terjadi saat stase anak yang tidak ada di stase-stase lainnya. Pelajaran di stase anak yang ga ada di stase-stase lainnya. Karena kita bukan cuma menangani pasiennya tetapi keluarganya (terutama ibunya) saat sedang panik. Jadi, kalau bercita-cita jadi spesialis anak, berlatihlah komunikasi yang baik dan benar dengan ibu-ibu #eh kesimpulannya jadi ngaco

Advertisements

Cinta Pada Pandangan Pertama

Pernah kan ngerasain namanya cinta pada pandangan yang pertama atau bahasa kerennya love at the first sight?

Saya? Juga pernah.

Cinta pada pandangan pertama saya terjadi waktu saya semester 4. Sekitar akhir tahun kalau tidak salah. Waktu itu saya tidak mengenal sama sekali seperti apa.

Ternyata setelah itu saya diajak berkenalan oleh seseorang. Orang yang memperkenalkan ini juga keren. Tambah cinta lah saya ni (ibarat barang jualan lagi dipromosiin sama mbak2 SPG cantik, walau gatau barangnya sama sekali bakal keliatan menarik). Ternyata setelah berkenalan, saya jadi tambah penasaran, tambah suka, tambah pengen tau. Cinta pandangan pertama saya berlanjut. Dan dia yang menemani saya sampai saya lulus sarjana.

Terus beberapa bulan yang lalu saya dipertemukan kembali dengan cinta pandangan pertama saya.  Saya semakin mengenalnya lebih dalam. Lebih tau seluk beluknya. Lebih banyak berinteraksi dengannya. Ternyata semakin menarik.

Kalo namanya orang lagi jatuh cinta, selalu bahagia bukan hari-harinya? Mau cemberut kayak gimana orang disekitarnya, tetep aja bahagia. Mau orang marah-marah, kedengerannya kayak orang lagi nyanyi-nyanyi (ini lebay sih wkwkwk *saya agak waham sepertinya*).  Sebulan itu saya bahagia setiap hari. Hari-hari dilalui dengan penuh semangat.

Beberapa minggu yang lalu saya harus berpisah lagi dengan cinta pada pandangan pertama saya. Akankah takdir ini akan membawa saya untuk bertemu kembali dengannya? Ataukah saya akan dipertemukan dengan cinta-cinta yang lain?

-Dhilah yang lagi lebay dan merindukan cinta pandangan pertamanya-

Gara-gara cinta pertamanya dhila menghabiskan TV series 12 season dalam 2,5 tahun hahaha