Hello Sydney! #2 (Tentang Vaksin dan Visa)

Persyaratan IELTS sudah saya kirim. Kemudian saya dikirimkan file dari pihak University of Sydney berisi formulir elective yang harus saya isi yang juga berisi pilihan departemen yang ingin saya ambil. Saya diminta untuk memilih 5 departemen dan diurutkan dari yang paling priotitas. Saya memilih Emergency Medicine (gara-gara keseringan nonton ER :P) sebagai pilihan pertama dan diikuti Anesthesiology (karena ini skripsi saya wkwk), dan yang lainnya saya lupa milih apa hahaha. Sent.

Beberapa hari kemudian saya dikirimkan email bahwa saya diterima di departemen Obstetric and Gynaecology di Westmead Clinical Hospital! Wow jauh banget. Bahkan saya sepertinya tidak memilih pilihan ini 😛 Tapi tidak apa-apa, saya percaya semua yang Allah SWT takdirkan pasti ada alasannya 🙂

Pihak Westmead juga mengirimkan dokumen yang harus saya isi dan persyaratan vaksin untuk mengikuti elektif disana. Dokumen yang dipersiapkan meliputi:

Police Check (dari home country dan Australian Police Check).  

Tentang police check ini saya terkaget-kaget karena ternyata dibandingkan dengan Indonesia, police check Indonesia (atau biasa disebut SKCK) jauuuuuuh lebih murah dibanding Police Check Australia. SKCK Indonesia bisa kita dapatkan dengan hanya membayar 20 ribu rupiah sedangkan mengurus police check Australia dikenakan biaya AU $42. Kalau itungan orang sini sih ngga murah-murah amat tapi ya ga begitu mahal. Tetep aja tapi emang mental selalu mengkonversi harga menjadi rupiah jadi kerasa mahal banget untuk selembar surat hahaha.

Vaksinasi, Doctor Check, bebas TB

Kalau vaksin ini yang disyaratkan adalah Hepatitis B, MMR, Varicella, dan dTp.

Nah mengenai vaksin ini ada cerita menariknya juga.Untuk varicella (cacar air) kita boleh tidak perlu vaksinasi jika sudah pernah terkena Varicella. Jadi vaksinasi yang harus saya penuhi hanya 3 jenis. Tapi itu ternyata tidak mudah! Vaksinasi Hepatitis B saya untung saja sudah lengkap (karena saya koas berhubungan selalu dengan Rumah Sakit dan infeksi, saya merasa perlu untuk melengkapi vaksin ini). Hanya dulu ketika saya vaksinasi saya selalu lupa membawa kartu vaksinasinya, sehingga tidak ada dokumentasi resminya. Akhirnya saya meminta ke dokter di klinik saya vaksin (yang juga masih merupakan dosen saya) untuk bukti vaksinasinya. Alhamdulillah dapat dengan mudah.

Kemudian saya mencari vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) dan dTp. Waktu itu saya sedang stase anak dan alhamdulillahnya masih di daerah Yogyakarta. Saya mencari vaksin tersebut di RS Sardjito. Tetapi ternyata stok keduanya sedang kosong T_T. Di Sardjito adanya vaksin Td dan saya harus memesannya terlebih dahulu. Tempat untuk vaksinnya di klinik anak dan karena kebetulan saya sedang stase anak jadi mudah untuk akses klinik tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk vaksin Td sambil mencari tempat yang memiliki stok vaksin MMR. Saya sampai bertanya kepada dokter ahli vaksinasi di RS Sardjito dimana saya bisa mendapatkan vaksin MMR, dan beliau bilang stoknya memang benar-benar sedang kosong. Saya disarankan mencari alternatif lain seperti mengecek titer IgG Rubella dan Measles. Beliau juga bersedia jika diminta pernyataan yang menyatakan bahwa stok vaksin MMR di Indonesia sedang kosong. Saya pun mencoba saran beliau.

Mengecek IgG Rubella bisa dilakukan di RS Sardjito sedangkan IgG Measles harus di klinik swasta dan harganya lebih mahal dibandingkan dengan vaksinnya sendiri karena harus dikirimkan sampelnya ke luar negeri.

Setelah mengecek titer dan vaksin Td, sayapun mengirimkan dokumen tersebut ke pihak Westmead. Ternyata pihak Westmead tetap mempersyaratkan vaksin MMR dan harus dTp, tidak boleh Td. Akhirnya saya dan Galuh browsing dan tanya-tanya extra untuk mendapatkan vaksin tersebut. Saya sampai bertanya ke Biofarma Bandung, meminta tolong teman saya yang sedang koas di RSHS Bandung, RS Moewardi Solo, dan teman saya di Malaysia untuk menanyakan stok vaksin (Yaampuun kalo diinget-inget lebay banget yaa). Alhamdulillah kami menemukan informasi bahwa sebuah klinik vaksin di Jakarta memiliki stok vaksin MMR dan dTp. Betapa bahagianya kami saat itu. Tetapi kemudian kami pun bingung bagaimana akses ke Jakarta di saat kami koas seperti ini, dan apakah harus jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk vaksin? Harganya pun menjadi jauuh lebih mahal dibanding vaksinasi MMR saat di Indonesia ada stok karena vaksin MMR di klinik tersebut merupakan vaksin impor dari Singapura. Harga vaksin MMR satu dosis saat itu 750 ribu rupiah dan vaksin dTp 550 ribu rupiah. Tapi yasudahlah kepalang tanggung daripada mundur di tengah jalan, akhirnya kami mengatur waktu yang kosong agar kami bisa pergi ke Jakarta untuk vaksin MMR dan dTp. Kurang lebih 3 minggu kemudian saya berangkat ke Jakarta untuk vaksin tersebut (untungnya ada jadwal libur pergantian stase jadi saya berangkatnya dari Bandung sekalian pulang kampung hehe). Oiya untuk vaksin dTp cukup 1 dosis tetapi vaksin MMR harus 2 dosis. Jadi saat saya harus kembali ke Jakarta sebulan kemudian untuk vaksinasi dosis ke-2.

PhotoGrid_1501502660551

Untuk dokumen bebas TB bisa dengan mudah didapatkan pelayanannya di RS Sardjito dengan melakukan TST (Tuberculin Skin Test) atau X-Ray Thorax jika perlu.

Alhamdulillah setelah semua persyaratan lengkap (setelah diurus berbulan-bulan :”), saya mengirimkan dokumen tersebut ke pihak Westmead.

Setelah persyaratan di cek oleh pihak Westmead, kami dikirimkan surat pengantar visa untuk pembuatan visa ke Kedubes Australia.

Visa

Kami mendapatkan surat pengantar visa kurang lebih satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Dengan menghitung-hitung waktu yang ada, tidak mungkin saya dan Galuh mengurus langsung ke Jakarta karena kami harus menjalani koas dan sulit untuk ijin lebih dari sehari. Kami mencari alternatif tempat membuat visa Australia di Yogyakarta.  Ternyata visa Australia itu banyak sekali macamnya, mulai visa turis, bisnis, student, dan itu masih terbagi lagi beberapa subclass *saya bingung bacanya* haha. Setelah memutar-mutar mencari agen-agen visa, kami mendapatkan agen yang bersedia mengurus visa kami. Saat itu saya sedang stase Forensik di Klaten dan saya ijin untuk kembali ke Yogyakarta beberapa jam untuk memasukkan dokumen visa tersebut agar bisa jadi maksimal 2 minggu sebelum keberangkatan (syarat dari pihak Sydney Uni nya). Dokumen persyaratannya susah-susah gampang buat saya karena saya juga mengirimkan dokumen asli dari  Bandung (salah saya juga sih karena saya ga bawa dokumennya waktu saya liburan sebelumnya). Saya memasukkan dokumen visa hanya beberapa hari sebelum lebaran. Sempet deg-deg an juga karena waktu libur lebaran belum tentu terhitung sebagai waktu kerja untuk mereka, yang kata Kedubesnya rata-rata waktu pemrosesan visa sekitar 15 hari. Tapi yaudahlah kalo masih rejeki ga bakal kemana, saya pikir. Nothing to lose. Alhamdulillah ternyata waktu pemrosesan visa kami pas 15 hari terhitung dari kami memasukkan dokumen.

Oiya saat itu saya apply visa bisnis (karena ada LoA nya dari pihak Sydney Uni) dan Galuh apply visa turis. Visa ini sebelas dua belas sih, sama-sama termasuk visa visitor tetapi bedanya hanya biasanya jika ada LoA lebih disarankan untuk apply visa bisnis agar bisa diurus dengan lebih mudah. Untuk harganya sendiri visa visitor dikenai harga 1,9 juta rupiah melalui agen. Kalau apply langsung ke Kedubesnya lebih murah beberapa ratus ribu (saya lupa berapa).

Dokumen visa lengkap, kemudian kami kirimkan. Beberapa hari kemudian kami dibelikan tiket PP oleh pihak Sydney University.

Alhamdulillah, mimpi apaa coba dhila akhirnya jadi berangkat jugaaa :” (Insyaallah)

Advertisements

Hello Sydney! #1 (Proses seleksi dan nadzar)

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa merasakan kehidupan perkoas-an di Sydney, tepatnya di Westmead Hospital.

Insyaallah saya akan berbagi pengalaman selama di Sydney melalui tulisan-tulisan di blog ini tentang apa-apa yang sudah saya lalui.

Kok bisa dhila ke Sydney? Untuk keperluan apa? Funded? (pertanyaan orang-orang yang tau kabar saya akan kesini)

Pendaftaran dan proses seleksi

Mungkin topik pertama yang ingin saya bagikan adalah tentang proses seleksi dan perjuangan (ceileee) sampai akhirnya saya bisa jadi berangkat.

Sekitar bulan November tahun 2016 (saat itu saya sedang koas stase THT), setelah saya pulang dari RS UGM, saya beristirahat sejenak sambil scrolling facebook dari HP dan kemudian saya melihat sebuah pengumuman dari facebook Gamel FK UGM yang berjudul ‘Open Exchange untuk Koas’.  Sekilas saya melihat judulnya ini tidak biasa, karena jarang sekali ada penawaran exchange yang khusus untuk koas (karena biasanya exchange dilaksanakan saat S1) dengan beasiswa $3000. Saya excited saat itu. Karena resolusi yang saya buat saat S1 dulu di poin ‘going overseas funded’ sekaliiii aja belum tercapai hehehe.

Saya telepon orang tua waktu itu untuk meminta ijin mendaftar seleksi karena jika melihat waktunya, saya harus mengundur jadwal kelulusan saya menjadi gelombang 2 (mundur sekitar 3 bulan). Orang tua pun mengijinkan.

Saya persiapkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat. Untuk dokumen persyaratan sebetulnya standar seperti seleksi exchange lainnya. Berikut daftar persyaratannya :

  1. Kartu Tanda Mahasiswa
  2. Motivation Letter
  3. Transkrip nilai S1
  4. Valid legalized IELTS certificate with min score 6.5 (saya bold karena ada ceritanya ini nanti dibelakang hehe)
  5. Paspor (saat mendaftar saya belum punya paspor, setelah ditanyakan ke staf internasional relationnya, paspor bisa disusulkan kemudian)
  6. CV à Karena saya belum pernah membuat CV yang proper dalam bahasa inggris sebelumnya, saya meminta contoh CV Nabil Satria Faradis, teman IC saya yang kece abis (Makasih bil!). Walaupun saya cuma bisa bilang WOW begitu saya membuka CV yang dikirimkan oleh Nabil (serius beasiswa, prestasi dan karya dia buaaaanyakk bangettt!!).

Tentang Valid Legalized IELTS Certificate

Kalo dilihat dari kata-katanya agak ambigu ya. Saya menanyakan kepada staf hubungan internasional FK UGM (Mbak reni) apakah sertifikat IELTS nya harus yang official. Dan mbak Reni jawab yes saat itu T_T karena tulisannya ada ‘valid legalized’. Untuk seleksi internal bisa dilampirkan dulu sertifikat IELTS non-official, tetapi saat sudah terpilih nanti harus yang official. Wah udah mahal tesnya, saya belum ada persiapan apa-apa, dan belum tentu juga tes officialnya dapat 6.5 one go T_T. Akhirnya untuk proses seleksi internal saya hanya melampirkan sertifikat IELTS non-official. Urusan nanti harus yang official nanti saja dipikirnya ((kalau keterima)). Saya pun mendaftar. Oiya, dan saya bernadzar jika saya keterima, untuk memurnikan niat saya dan agar niat saya tidak terkontaminasi oleh niat-niat yang tidak baik, saya tidak akan posting di Instagram selama sebelum dan saat program berlangsung, dan akan saya post di akhir program saja dan selama program di blog ini untuk berbagi pengalaman (begitulah latar belakang tulisan ini muncul hehehe).

Singkat cerita, Jeng jeng! Kurang lebih sebulan kemudian pengumuman disampaikan melalui email dan menyatakan bahwa saya dan Galuh terpilih dari proses seleksi internal. Alhamdulillah diterima.

A

 

Dan ternyata Galuh juga belum punya sertifikat IELTS official! Kita pun menyanyakan kembali dan hasilnya masih sama, harus yang official T_T dan parahnya lagi maksimal 6 bulan sebelum keberangkatan which is bulan Januari 2017 (dan itu hanya 2 minggu setelah pengumuman) WOWWW gimana caranyaa belum ada persiapan dan bahkan daftar tes IELTS nya saja sudah ngantri T_T. Dan kami berdua sama-sama lagi Stase Anak yang terkenal sebagai stase terzombie selama koas!

Akhirnya kamipun nekat untuk mengulur-ngulur memberikan sertifikat IELTS aslinya saat itu dan ikut kursus IELTS singkat terlebih dahulu. Sebetulnya inginnya tidak perlu kursus karena kursusnyapun mahal…tetapi berhubung saya tidak akan bisa belajar sendiri saat stase anak ini kalau tidak kursus, saya minta ijin orang tua untuk ikut kursus IELTS dengan harga yang termurah dan kualitas bagus.

Saat itu saya dan Galuh mencari-cari tempat kursus IELTS. Dulu saat S1 saya pernah kursus tetapi di lembaga kursus yang bukan native speaker. Kami mencari yang native speaker dan maksimal hanya sebulan. Kami pun mendatangi IONS Yogyakarta dan menanyakan informasi program kursus yang tersedia.

Belajar IELTS

Program kursus yang diselenggarakan oleh IONS Yogyakarta ini terbagi menjadi 2, yaitu kelas reguler dan kelas privat. Kalau rahasia umumnya, kelas privat biasanya lebih mahal daripada kelas reguler. Tetapi ternyata setelah kami hitung-hitung, kelas privat jatuhnya jauh lebih murah daripada kelas reguler. Hanya saja kita perlu berjuang sedikit untuk mengumpulkan orang-orang yang mau ikut kursus di jadwal yang sama dan target yang sama dengan kita. Akhirnya dengan bermodal nekat dan doa kami pun broadcast open rectruitment kursus IELTS selama sebulan, in school, mixed native, 30 jam. Kami broadcast ke setiap grup yang kami punya (agar bisa segera dimulai). Ternyata tidak disangka-sangka, animonya sangat tinggi, pendaftar nya lebih banyak daripada kebutuhan! Terkumpullah kami berdelapan orang dengan masing-masing anak membayar 1,8 juta rupiah.

Singkat cerita, karena saya tidak ingin menyia-nyiakan uang orang tua untuk membiayai keinginan anaknya ini, saya intens banget belajar IELTS. Saya mengikuti kursus, dapat tips dan trik yang jitu untuk tes IELTS, dapat ilmu-ilmu baru yang sangat bermanfaat, dapat kenalan baru, dan belajar dari buku IELTS nya selama sebulan (bahkan lebih sering baca buku IELTS daripada referensi stase anak! Huhu maafkann) . Waktu itu metode belajar IELTS saya adalah sbb :

  • Kursus 3x/minggu pukul 19.00-20.30 (saat itu saya sedang stase anak dengan jadwal jaga 3x/minggu weekdays ditambah hari minggu pasti dapat satu shift jaga. Jadi sebetulnya saya zombie banget saat itu. Setelah pulang jam kerja koas kalau bukan kursus pasti ada jadwal jaga T_T, untungnya saya bersama kak titin dan kak ghaza yang dengan baiknya mau mengikuti kemauan adiknya ini memilih jadwal jaga. Terimakasih kakak!) Ya Allah alhamdulillah sudah terlewati dan diberi kesehatan T_T *masih ngga nyangka*.
  • Belajar dari textbook IELTS Cambridge. Berdasarkan rekomendasi Hasna Mardhiah (temen saya yang jago banget bahasa inggrisnya), buku IELTS yang recommended adalah terbitan Cambridge. Saya waktu itu cari download ebook dan audionya di internet dan dapat kumpulan soal edisi 1-8 (berhubung beli buku aslinya juga harganya jutjut-red: juta-jutaan). Dan pinjam buku The Official Cambridge Guide to IELTS aslinya dari Hasna (Terimakasih Hasna!). Jadi saat temen-temen saya tanya referensi buku belajar IELTS, ini recommended banget karena bahasanya enak, mudah dimengerti dan sistematis.   Saya print soal-soal di buku tersebut dan saya kerjakan dengan target satu set soal per hari.
  • Belajar dari kursus Online. Saya ikut kursus IELTS online free dari coursera.com yang bener-bener kebetulan waktu itu lagi buka kelas IELTS baru dan official dari orang-orang cambridge. Saya ikut kursus ini sesempetnya (dengan target mengasah writing), karena pada akhirnya tidak semua soal bisa saya kerjakan. Menurut saya, kursus online seperti ini bagus untuk melatih writing skills. Pesertanya ada ribuan orang dari seluruh dunia, dan disitulah kita saling mengoreksi dan berbagi feedback dengan tulisannya masing-masing. Dari awal sang pengajar sudah mengatakan bahwa jangan malas untuk melihat comment dan HARUS saling feedback satu sama lain dimana disitulah tempat kita belajar. Oiya lewat cousera inilah saya mengaplikasikan tips and trick writing yang saya dapatkan (jadi jangan lupa untuk belajar dulu format writing yang baik biar ga kopong-kopong banget saat menulis).
  • Belajar dari web online. Ini dia satu website yang saya rekomendasikan (berdasarkan rekomendasi native speaker juga di IONS): ieltsliz.com . Webnya ini kurang lebih materinya sama dengan materi saya belajar di IONS. Jadi buat temen-temen yang masih punya banyak waktu untuk belajar sendiri dan tidak ingin kursus, bisa belajar dari web ini. Penyampaian materinya sistematis dan mudah dimengerti. Perjuangannya hanya siapkan koneksi internet unlimited atau wifi access karena belajarnya dari video youtube hehehe.
  • Sering-sering dengerin audio, video, atau nonton film berbahasa inggris tanpa subtitle (terutama dengan aksen british). Hampir setiap waktu saat saya ada di rumah saya puter audio bahasa inggris dari laptop (padahal entah saya lagi nyuci atau ngejemur pakaian, tetep saya puter untuk membiasakan telinga hehe). Saya mendownload podcast british council, dan saya puter radio bbc (yang radio ini agak berat karena ngobrolnya cepet banget dan saya masih sering tidak menangkap obrolannya :P). Kalau podcast dari british council masih standarnya orang belajar bahasa inggris dan ada juga tentang berbahasa sehari-hari yang sering digunakan disana. Ini recommended!). Untuk film yang saya tonton sebetulnya tidak british, tapi karena saya suka banget film tersebut dan saya lumayan nangkep kalau ga ada subtitle nya, saya nonton Emergency Room TV Series. Saya puter ulang season-season yang sudah saya tonton hehehe. Untuk video nya, saya nonton TED Talk (cari yang berasal dari negara aksen british). Karena selain saya bisa melatih listening, saya dapet banyak ilmu dan inspirasi baru dari speakers nya.
  • Yang terakhir adalah latihan speaking dengan orang bule. Bagian ini thanks to Hasna lagi (dia banyak banget bantuin sayaaa). Berhubung hasna punya banyak temen orang bule, akhirnya dia meng-arrange waktu biar saya bisa video call sama temen bule nya tersebut. Saya sempet beberapa kali latihan speaking dan simulasi tes speaking IELTS bersama Kevin (temannya Hasna), walaupun dia berasal dari US, setidaknya melatih saya untuk bicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan speaking di IELTS (Terimakasih Kevin!)

Saya juga tanya-tanya ke teman saya yang sudah pernah tes IELTS official untuk memilih tempat tes, Wida dan Daus (Terimakasih Wid, Dau!). Dua-duanya pernah tes tetapi di negara berbeda. Wida pernah tes di British Council Jakarta dan katanya pake headset untuk listening nya (which is lebih enak daripada central speaker), dan Daus di Jepang (yang ini gabisa jadi acuan perbandingan sih dari Indonesia hahaha). Saya juga tanya-tanya topik pertanyaan writing dan speakingnya. Wida dulu ditanya tentang politik internasional gitu dan daus pertanyaannya sangat filosofis tentang kesabaran dan menunggu (duh!).

Saya akhirnya memutuskan untuk tes IELTS dari British Council. Mereka ternyata tidak punya kantor di Yogyakarta. Daftar via online à bayar via transfer à tes nya di hotel Harper Yogyakarta. Saya dapet tes speaking sehari sebelum tes yang lainnya (dan itu saya habis jaga malem di malam sebelumnya T_T). Ya Allah… kalo diinget-inget ngga ngerti lagi saya bisa diberikan kemudahan sama Allah SWT walaupun jadwal saya padat sekali waktu itu :”

Untuk part Listening nya pakai central speaker (harus konsentrasi betul-betul) karena satu ruangan bisa ratusan orang. Part reading soalnya standar tes IELTS. Sedangkan writingnya saya diminta menulis tentang 2 diagram yang saling berhubungan dan dapet pertanyaan tentang kebijakan transportasi. Di part Speaking ternyata yang mengujinya adalah orang Indonesia tetapi sangat fasih berbahasa Inggris British.

Alhamdulillah hasil tes nya memenuhi persyaratan. Band score saya sangat terbantu oleh reading dan listening (hahaha dasar orang pasif :P).

Wah panjang juga ternyata nulisnya.

Cerita tentang bagian pendaftaran dan perjuangan sebelum berangkat lainnya bersambung yaaa. Doakan saya masih sebulan lagi disini :))

 

Untuk ibadah

“Niatkan untuk ibadah”

Itu kata-kata yang mulai sering saya dengar sejak SMA. Saat itu saya bingung. Tidak terbayang bagaimana belajar yang diniatkan untuk ibadah. Karena sejak dulu saya belajar ya seperti memenuhi kewajiban anak sekolah. Masih sering terlintas belajar untuk mencari nilai. Biar nanti nilai di rapot bagus dan bisa masuk jurusan yang diinginkan. Jadi orang sukses. Seperti itulah mindset saya saat itu.

Kata-kata yang tidak saya mengerti bagaimana mengaplikasikannya. 

Tapi sebetulnya sayapun ingin meniatkan untuk ibadah. Yang saya yakini dulu, itu pasti sesuatu yang baik. Akhirnya setiap mau belajar atau sekolah yang bisa saya lakukan adalah mengucapkan secara lisan ‘saya niat belajar untuk ibadah Ya Allah…”

Semoga masih bernilai pahala yaa :”

Saat ini, di usia saya yang menjelang 23 ini, (semoga) lebih mengerti makna sesungguhnya belajar dan melakukan sesuatu yang lainnya untuk ibadah itu seperti apa. Saya tidak lagi selalu memasang target harus nilai bagus, harus seperti ini dan seperti itu. Hanya berharap semoga setiap apa yang saya lakukan diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Menakar

Tidak semua hal dalam hidup ini bisa ditakar

Tidak semua hal dalam semua urusan perlu ditakar

Adakalanya, ukuran kita tidak sama dengan ukuran orang lain

Kita hanya perlu mengerti bahwa setiap kita punya kekurangan

Kita hanya perlu memahami dan menyikapi sesuai keistimewaannya masing-masing

 

Adakalanya, tidak semua hal bisa kita paksakan seperti apa yang kita mau

Karena tidak setiap dari kita berada dalam satu tubuh yang sama

Adakalanya, kita tidak perlu memasang standar-standar yang harus dipenuhi

Karena pada akhirnya kitalah yang perlu menurunkan standar

 

Cukup kita menerima seseorang apa adanya, dan berbuat seperti apa kita ingin diperlakukan