Hello Sydney! #1 (Proses seleksi dan nadzar)

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa merasakan kehidupan perkoas-an di Sydney, tepatnya di Westmead Hospital.

Insyaallah saya akan berbagi pengalaman selama di Sydney melalui tulisan-tulisan di blog ini tentang apa-apa yang sudah saya lalui.

Kok bisa dhila ke Sydney? Untuk keperluan apa? Funded? (pertanyaan orang-orang yang tau kabar saya akan kesini)

Pendaftaran dan proses seleksi

Mungkin topik pertama yang ingin saya bagikan adalah tentang proses seleksi dan perjuangan (ceileee) sampai akhirnya saya bisa jadi berangkat.

Sekitar bulan November tahun 2016 (saat itu saya sedang koas stase THT), setelah saya pulang dari RS UGM, saya beristirahat sejenak sambil scrolling facebook dari HP dan kemudian saya melihat sebuah pengumuman dari facebook Gamel FK UGM yang berjudul ‘Open Exchange untuk Koas’.  Sekilas saya melihat judulnya ini tidak biasa, karena jarang sekali ada penawaran exchange yang khusus untuk koas (karena biasanya exchange dilaksanakan saat S1) dengan beasiswa $3000. Saya excited saat itu. Karena resolusi yang saya buat saat S1 dulu di poin ‘going overseas funded’ sekaliiii aja belum tercapai hehehe.

Saya telepon orang tua waktu itu untuk meminta ijin mendaftar seleksi karena jika melihat waktunya, saya harus mengundur jadwal kelulusan saya menjadi gelombang 2 (mundur sekitar 3 bulan). Orang tua pun mengijinkan.

Saya persiapkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat. Untuk dokumen persyaratan sebetulnya standar seperti seleksi exchange lainnya. Berikut daftar persyaratannya :

  1. Kartu Tanda Mahasiswa
  2. Motivation Letter
  3. Transkrip nilai S1
  4. Valid legalized IELTS certificate with min score 6.5 (saya bold karena ada ceritanya ini nanti dibelakang hehe)
  5. Paspor (saat mendaftar saya belum punya paspor, setelah ditanyakan ke staf internasional relationnya, paspor bisa disusulkan kemudian)
  6. CV à Karena saya belum pernah membuat CV yang proper dalam bahasa inggris sebelumnya, saya meminta contoh CV Nabil Satria Faradis, teman IC saya yang kece abis (Makasih bil!). Walaupun saya cuma bisa bilang WOW begitu saya membuka CV yang dikirimkan oleh Nabil (serius beasiswa, prestasi dan karya dia buaaaanyakk bangettt!!).

Tentang Valid Legalized IELTS Certificate

Kalo dilihat dari kata-katanya agak ambigu ya. Saya menanyakan kepada staf hubungan internasional FK UGM (Mbak reni) apakah sertifikat IELTS nya harus yang official. Dan mbak Reni jawab yes saat itu T_T karena tulisannya ada ‘valid legalized’. Untuk seleksi internal bisa dilampirkan dulu sertifikat IELTS non-official, tetapi saat sudah terpilih nanti harus yang official. Wah udah mahal tesnya, saya belum ada persiapan apa-apa, dan belum tentu juga tes officialnya dapat 6.5 one go T_T. Akhirnya untuk proses seleksi internal saya hanya melampirkan sertifikat IELTS non-official. Urusan nanti harus yang official nanti saja dipikirnya ((kalau keterima)). Saya pun mendaftar. Oiya, dan saya bernadzar jika saya keterima, untuk memurnikan niat saya dan agar niat saya tidak terkontaminasi oleh niat-niat yang tidak baik, saya tidak akan posting di Instagram selama sebelum dan saat program berlangsung, dan akan saya post di akhir program saja dan selama program di blog ini untuk berbagi pengalaman (begitulah latar belakang tulisan ini muncul hehehe).

Singkat cerita, Jeng jeng! Kurang lebih sebulan kemudian pengumuman disampaikan melalui email dan menyatakan bahwa saya dan Galuh terpilih dari proses seleksi internal. Alhamdulillah diterima.

A

 

Dan ternyata Galuh juga belum punya sertifikat IELTS official! Kita pun menyanyakan kembali dan hasilnya masih sama, harus yang official T_T dan parahnya lagi maksimal 6 bulan sebelum keberangkatan which is bulan Januari 2017 (dan itu hanya 2 minggu setelah pengumuman) WOWWW gimana caranyaa belum ada persiapan dan bahkan daftar tes IELTS nya saja sudah ngantri T_T. Dan kami berdua sama-sama lagi Stase Anak yang terkenal sebagai stase terzombie selama koas!

Akhirnya kamipun nekat untuk mengulur-ngulur memberikan sertifikat IELTS aslinya saat itu dan ikut kursus IELTS singkat terlebih dahulu. Sebetulnya inginnya tidak perlu kursus karena kursusnyapun mahal…tetapi berhubung saya tidak akan bisa belajar sendiri saat stase anak ini kalau tidak kursus, saya minta ijin orang tua untuk ikut kursus IELTS dengan harga yang termurah dan kualitas bagus.

Saat itu saya dan Galuh mencari-cari tempat kursus IELTS. Dulu saat S1 saya pernah kursus tetapi di lembaga kursus yang bukan native speaker. Kami mencari yang native speaker dan maksimal hanya sebulan. Kami pun mendatangi IONS Yogyakarta dan menanyakan informasi program kursus yang tersedia.

Belajar IELTS

Program kursus yang diselenggarakan oleh IONS Yogyakarta ini terbagi menjadi 2, yaitu kelas reguler dan kelas privat. Kalau rahasia umumnya, kelas privat biasanya lebih mahal daripada kelas reguler. Tetapi ternyata setelah kami hitung-hitung, kelas privat jatuhnya jauh lebih murah daripada kelas reguler. Hanya saja kita perlu berjuang sedikit untuk mengumpulkan orang-orang yang mau ikut kursus di jadwal yang sama dan target yang sama dengan kita. Akhirnya dengan bermodal nekat dan doa kami pun broadcast open rectruitment kursus IELTS selama sebulan, in school, mixed native, 30 jam. Kami broadcast ke setiap grup yang kami punya (agar bisa segera dimulai). Ternyata tidak disangka-sangka, animonya sangat tinggi, pendaftar nya lebih banyak daripada kebutuhan! Terkumpullah kami berdelapan orang dengan masing-masing anak membayar 1,8 juta rupiah.

Singkat cerita, karena saya tidak ingin menyia-nyiakan uang orang tua untuk membiayai keinginan anaknya ini, saya intens banget belajar IELTS. Saya mengikuti kursus, dapat tips dan trik yang jitu untuk tes IELTS, dapat ilmu-ilmu baru yang sangat bermanfaat, dapat kenalan baru, dan belajar dari buku IELTS nya selama sebulan (bahkan lebih sering baca buku IELTS daripada referensi stase anak! Huhu maafkann) . Waktu itu metode belajar IELTS saya adalah sbb :

  • Kursus 3x/minggu pukul 19.00-20.30 (saat itu saya sedang stase anak dengan jadwal jaga 3x/minggu weekdays ditambah hari minggu pasti dapat satu shift jaga. Jadi sebetulnya saya zombie banget saat itu. Setelah pulang jam kerja koas kalau bukan kursus pasti ada jadwal jaga T_T, untungnya saya bersama kak titin dan kak ghaza yang dengan baiknya mau mengikuti kemauan adiknya ini memilih jadwal jaga. Terimakasih kakak!) Ya Allah alhamdulillah sudah terlewati dan diberi kesehatan T_T *masih ngga nyangka*.
  • Belajar dari textbook IELTS Cambridge. Berdasarkan rekomendasi Hasna Mardhiah (temen saya yang jago banget bahasa inggrisnya), buku IELTS yang recommended adalah terbitan Cambridge. Saya waktu itu cari download ebook dan audionya di internet dan dapat kumpulan soal edisi 1-8 (berhubung beli buku aslinya juga harganya jutjut-red: juta-jutaan). Dan pinjam buku The Official Cambridge Guide to IELTS aslinya dari Hasna (Terimakasih Hasna!). Jadi saat temen-temen saya tanya referensi buku belajar IELTS, ini recommended banget karena bahasanya enak, mudah dimengerti dan sistematis.   Saya print soal-soal di buku tersebut dan saya kerjakan dengan target satu set soal per hari.
  • Belajar dari kursus Online. Saya ikut kursus IELTS online free dari coursera.com yang bener-bener kebetulan waktu itu lagi buka kelas IELTS baru dan official dari orang-orang cambridge. Saya ikut kursus ini sesempetnya (dengan target mengasah writing), karena pada akhirnya tidak semua soal bisa saya kerjakan. Menurut saya, kursus online seperti ini bagus untuk melatih writing skills. Pesertanya ada ribuan orang dari seluruh dunia, dan disitulah kita saling mengoreksi dan berbagi feedback dengan tulisannya masing-masing. Dari awal sang pengajar sudah mengatakan bahwa jangan malas untuk melihat comment dan HARUS saling feedback satu sama lain dimana disitulah tempat kita belajar. Oiya lewat cousera inilah saya mengaplikasikan tips and trick writing yang saya dapatkan (jadi jangan lupa untuk belajar dulu format writing yang baik biar ga kopong-kopong banget saat menulis).
  • Belajar dari web online. Ini dia satu website yang saya rekomendasikan (berdasarkan rekomendasi native speaker juga di IONS): ieltsliz.com . Webnya ini kurang lebih materinya sama dengan materi saya belajar di IONS. Jadi buat temen-temen yang masih punya banyak waktu untuk belajar sendiri dan tidak ingin kursus, bisa belajar dari web ini. Penyampaian materinya sistematis dan mudah dimengerti. Perjuangannya hanya siapkan koneksi internet unlimited atau wifi access karena belajarnya dari video youtube hehehe.
  • Sering-sering dengerin audio, video, atau nonton film berbahasa inggris tanpa subtitle (terutama dengan aksen british). Hampir setiap waktu saat saya ada di rumah saya puter audio bahasa inggris dari laptop (padahal entah saya lagi nyuci atau ngejemur pakaian, tetep saya puter untuk membiasakan telinga hehe). Saya mendownload podcast british council, dan saya puter radio bbc (yang radio ini agak berat karena ngobrolnya cepet banget dan saya masih sering tidak menangkap obrolannya :P). Kalau podcast dari british council masih standarnya orang belajar bahasa inggris dan ada juga tentang berbahasa sehari-hari yang sering digunakan disana. Ini recommended!). Untuk film yang saya tonton sebetulnya tidak british, tapi karena saya suka banget film tersebut dan saya lumayan nangkep kalau ga ada subtitle nya, saya nonton Emergency Room TV Series. Saya puter ulang season-season yang sudah saya tonton hehehe. Untuk video nya, saya nonton TED Talk (cari yang berasal dari negara aksen british). Karena selain saya bisa melatih listening, saya dapet banyak ilmu dan inspirasi baru dari speakers nya.
  • Yang terakhir adalah latihan speaking dengan orang bule. Bagian ini thanks to Hasna lagi (dia banyak banget bantuin sayaaa). Berhubung hasna punya banyak temen orang bule, akhirnya dia meng-arrange waktu biar saya bisa video call sama temen bule nya tersebut. Saya sempet beberapa kali latihan speaking dan simulasi tes speaking IELTS bersama Kevin (temannya Hasna), walaupun dia berasal dari US, setidaknya melatih saya untuk bicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan speaking di IELTS (Terimakasih Kevin!)

Saya juga tanya-tanya ke teman saya yang sudah pernah tes IELTS official untuk memilih tempat tes, Wida dan Daus (Terimakasih Wid, Dau!). Dua-duanya pernah tes tetapi di negara berbeda. Wida pernah tes di British Council Jakarta dan katanya pake headset untuk listening nya (which is lebih enak daripada central speaker), dan Daus di Jepang (yang ini gabisa jadi acuan perbandingan sih dari Indonesia hahaha). Saya juga tanya-tanya topik pertanyaan writing dan speakingnya. Wida dulu ditanya tentang politik internasional gitu dan daus pertanyaannya sangat filosofis tentang kesabaran dan menunggu (duh!).

Saya akhirnya memutuskan untuk tes IELTS dari British Council. Mereka ternyata tidak punya kantor di Yogyakarta. Daftar via online à bayar via transfer à tes nya di hotel Harper Yogyakarta. Saya dapet tes speaking sehari sebelum tes yang lainnya (dan itu saya habis jaga malem di malam sebelumnya T_T). Ya Allah… kalo diinget-inget ngga ngerti lagi saya bisa diberikan kemudahan sama Allah SWT walaupun jadwal saya padat sekali waktu itu :”

Untuk part Listening nya pakai central speaker (harus konsentrasi betul-betul) karena satu ruangan bisa ratusan orang. Part reading soalnya standar tes IELTS. Sedangkan writingnya saya diminta menulis tentang 2 diagram yang saling berhubungan dan dapet pertanyaan tentang kebijakan transportasi. Di part Speaking ternyata yang mengujinya adalah orang Indonesia tetapi sangat fasih berbahasa Inggris British.

Alhamdulillah hasil tes nya memenuhi persyaratan. Band score saya sangat terbantu oleh reading dan listening (hahaha dasar orang pasif :P).

Wah panjang juga ternyata nulisnya.

Cerita tentang bagian pendaftaran dan perjuangan sebelum berangkat lainnya bersambung yaaa. Doakan saya masih sebulan lagi disini :))

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s