#notetoself

a good moral story
 


 
thank you dr. Rosadi, Sp.B, Sp.BP for showing us this video

Advertisements

KKN is OVER

“Bu, Dhila mau KKN di Bangka, boleh ga?”

Bunyi WA saya kepada ibu 2,5 bulan yang lalu.

Pada awalnya, saya tidak membidik Bangka secara khusus sebagai tempat KKN yang akan saya kunjungi. Saya dulu sering bermimpi untuk KKN di belahan timur Indonesia. Akan tetapi karena periode KKN yang saya ikuti adalah periode sepi, muncullah Bangka sebagai tempat terjauh untuk melaksanakan KKN.

Tim KKN yang dikirim ke Bangka terbagi menjadi 3 Unit untuk ke 3 wilayah. Saya memilih Jelitik berdasarkan lokasinya yang paling timur di pulau tersebut sehingga paling dekat ke Belitung (siapa tau akan jalan-jalan ke Belitung :P). Saya tidak janjian dengan siapapun memilih lokasi tersebut. Bisa dibilang saya pasrah dengan siapapun saya akan sekelompok nantinya untuk hidup 24/7 selama 2 bulan ke depan.

Kelurahan yang saya datangi ternyata masih terbilang cukup ‘kota’. Jaraknya hanya 15 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Bangka. Disana kami ditugaskan untuk mengangkat permasalahan kesiapan masyarakat menyongsong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dicanangkan akan diluncurkan tahun 2018 oleh bapak bupati.

Berbagai program kami susun dan kami jalani selama 2 bulan. Tapi KKN tidak hanya tentang melaksakan program dan mendapat nilai. KKN bagi saya adalah sebuah proses pendewasaan karena kami hidup bersama dengan orang lain. KKN bagi saya adalah pembelajaran langsung tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang sesungguhnya.

Kelompok saya berjumlah 29 orang. Tentunya kelompok kami bukan fairytale yang hidup tanpa perselisihan. Drama-drama KKN tentu ada. Tapi saya bersyukur, drama kami hanya drama ringan-ringan saja dan segera selesai ketika masalah sudah teratasi.

Bersama 28 orang-orang keren inilah saya hidup selama 2 bulan terakhir. Rekor yang patut saya apresiasi karena kami memasak sendiri selama 2 bulan penuh untuk mencukupi kebutuhan makanan kami yang harus terpenuhi dengan budget 12rb/hari! Padahal makan di Bangka itu mahalnya luar biasa (jika dibandingkan di Jogja). Mukat (menjaring ikan), ngebabs (re: ngebabu-piket harian nyuci sejuta piring dan alat masak anak-anak), main ke pantai kapanpun kita mau, main ke kolong pak maman, naik hilux rame-rame kemana2, hingga hal-hal kecil dan seru lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan 28 orang luar biasa ini. Bersyukur bisa KKN di Jelitik dan bertemu masyarakatnya yang supeeeeer baik. Terimakasih Jelitik untuk segala ceritanya!

1512031024755.jpg
Bersama warga beberapa menit sebelum berpisah
DSCF5071.JPG
29 orang Tim KKN BBL-10
1512211676191.jpg
Di atas kapal menuju Pulau Kelapan 😛
IMG_20171203_104826_115.jpg
Dapat ikan setelah mukat. Yeiy!