Hello Sydney! #3 (Indonesia ngga kalah bagus!)

For the first time saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Jadi seperti for the first time hal-hal lainnya, jiwa-jiwa norak saya muncul.

Saya berangkat dari Yogyakarta dengan maskapai Garuda Indonesia (Alhamdulillah dibeliin garuda hehe) menuju Sydney dengan transit terlebih dahulu di Jakarta. Berangkat dari Yogyakarta selepas isya (karena pesawat delay). Sampailah saya di bandara Soekarno-Hatta atau yang lebih gampang disebut Cengkareng ini. Saya menuju terminal 3 untuk keberangkatan selanjutnya. Dan WOWW bandaranya bagus banget!

Di terminal 3 ini tidak penuh sesak orang berlalu lalang, banyak saya lihat warga negara asing disini. Tapi saya ga ketemu artis (lah terus kenapa wkwk). Sepertinya terminal 3 ini baru di renovasi dan saat saya kesana kemarin masih kinclong.

Saya, yang biasanya ga sering selfie akhirnya selfie-selfie juga disini. Tapi memang karena niat saya ingin mendokumentasikan setiap perjalanan ke Sydney ini sih jadi saya keluarkan tongsis (terimakasih Vilah yang sudah mengingatkan saya untuk membawa tongsis dan beli pas beberapa jam sebelum berangkat hahaha *untung deket rumah*). Yaaa kapan lagi coba saya bisa ke Sydney 😛

Pesawat kami yang kedua juga delay. Kami baru brangkat dari Cengkareng pukul 01.00. Kami menunggu sekitar 3 jam sejak tiba di Jakarta. Dan emang dasar saya orangnya suka kelaparan kalo ga makan nasi, saya makan dulu (harganya mahal sih di bandara) dan bisa tidur dimana saja, saya ketiduran di ruang tunggu 😛

Kami berangkat dari Cengkareng dengan pesawat jenis Airbus (yang dari Jogja Boeing). Tapi masih ga bisa bedain sih yang jenis airbus yang mana *ga terlalu merhatiin*. Perjalanan menuju Sydney berlangsung 7 jam (15 menitnya muter di barat bandara Kingsford Smith Sydney gara-gara bandaranya traffic saking banyaknya pesawat yang mau mendarat). Alhamdulillah saya ga kelaparan lagi di pesawat karena makanan datang silih berganti hehehe.

Bandara Kingsford Smith cukup besar, tapi sepertinya lebih luas Cengkareng *atau saya yang kurang explore*. Kami berdua dijemput oleh pihak University of Sydney dan diantarkan ke Westmead Hospital. Sambutan mereka sangat hangat walaupun mereka menunggu lama karena pesawatnya delay T_T. Kami juga ditemani untuk membeli kartu SIM di bandara agar HP bisa segera digunakan.

Meluncurlah kami ke Westmead Hospital.

Westmead adalah nama sebuah daerah di Sydney, bagian dari Parramatta, yang terletak di sebelah barat dari bandara dan City Center. Dan Westmead ini adalah rumah sakit pemerintah di daerah tersebut (sejenis RSUD lah kalo di Indonesia).

Kami diantarkan untuk mengambil kunci kamar dan diajak quick tour di student accomodationnya tersebut.

Kalau dibandingkan dengan student accomodation di Indonesia, disini nyaman pake banget. Karena semua fasilitas basic sudah ada seperti kasur, meja belajar, lemari, lampu meja belajar, cermin, hanger, handuk, selimut, seprai, bantal, AC. Sedangkan fasilitas bersamanya tersedia kamar mandi, dapur (beserta peralatannya dan kulkas), mesin cuci, living room, TV, dan tempat seterika, wifi. Dan semua air bisa panas dan dingin. Jadi untuk kebutuhan dasar disini sudah terpenuhi. Ternyata kemudian saya mengetahui untuk ukuran orang sini harga student accomodation di Westmead sangat murah (kalo di Indonesia udah dapet kos eksklusif padahal :P). Harganya $50 per minggu.

PANO_20170728_144837
Ini dia kamar saya. Sengaja difoto sebelum berantakan hahaha

Selain itu yang mau saya highlight disini adalah tentang toiletnya. Ternyata saudara-saudara ga perlu berkecil hati kondisi pertoiletan di Indonesia itu sudah cukup bersih. Disini karena kebanyakan orang make nya tisu, ga pake air, tisu-tisu tersebut bisa bertebaran kemana-mana. Dan maka dari itu saya yang agak toilet problem, sampai saat ini belum pernah buang air kecil di tempat umum (kalo ngga kepepet saya lebih prefer nunggu balik ke asrama baru buang air di toilet asrama). Kalau di Indonesia, mayoritas di tempat-tempat umum seperti stasiun, bandara, pusat kota, dsb itu bersih. Ternyata Indonesia ngga kalah bagus untuk hal yang satu ini. Sebenernya pengen sih nampilin salah satu contoh toilet yang sempet saya foto, tapi ngga usah deh heheheh.

Tapi teringat, salah satu teman saya pernah cerita waktu dia ke Jerman dia juga sama kayak saya karena ga tahan dengan toilet tanpa air. Dia kena ISK (infeksi saluran kemih) pas pulang ke Indonesia L. Jadi hati-hati juga. Semoga ngga yaa…

 

Hello Sydney! #2 (Tentang Vaksin dan Visa)

Persyaratan IELTS sudah saya kirim. Kemudian saya dikirimkan file dari pihak University of Sydney berisi formulir elective yang harus saya isi yang juga berisi pilihan departemen yang ingin saya ambil. Saya diminta untuk memilih 5 departemen dan diurutkan dari yang paling priotitas. Saya memilih Emergency Medicine (gara-gara keseringan nonton ER :P) sebagai pilihan pertama dan diikuti Anesthesiology (karena ini skripsi saya wkwk), dan yang lainnya saya lupa milih apa hahaha. Sent.

Beberapa hari kemudian saya dikirimkan email bahwa saya diterima di departemen Obstetric and Gynaecology di Westmead Clinical Hospital! Wow jauh banget. Bahkan saya sepertinya tidak memilih pilihan ini 😛 Tapi tidak apa-apa, saya percaya semua yang Allah SWT takdirkan pasti ada alasannya 🙂

Pihak Westmead juga mengirimkan dokumen yang harus saya isi dan persyaratan vaksin untuk mengikuti elektif disana. Dokumen yang dipersiapkan meliputi:

Police Check (dari home country dan Australian Police Check).  

Tentang police check ini saya terkaget-kaget karena ternyata dibandingkan dengan Indonesia, police check Indonesia (atau biasa disebut SKCK) jauuuuuuh lebih murah dibanding Police Check Australia. SKCK Indonesia bisa kita dapatkan dengan hanya membayar 20 ribu rupiah sedangkan mengurus police check Australia dikenakan biaya AU $42. Kalau itungan orang sini sih ngga murah-murah amat tapi ya ga begitu mahal. Tetep aja tapi emang mental selalu mengkonversi harga menjadi rupiah jadi kerasa mahal banget untuk selembar surat hahaha.

Vaksinasi, Doctor Check, bebas TB

Kalau vaksin ini yang disyaratkan adalah Hepatitis B, MMR, Varicella, dan dTp.

Nah mengenai vaksin ini ada cerita menariknya juga.Untuk varicella (cacar air) kita boleh tidak perlu vaksinasi jika sudah pernah terkena Varicella. Jadi vaksinasi yang harus saya penuhi hanya 3 jenis. Tapi itu ternyata tidak mudah! Vaksinasi Hepatitis B saya untung saja sudah lengkap (karena saya koas berhubungan selalu dengan Rumah Sakit dan infeksi, saya merasa perlu untuk melengkapi vaksin ini). Hanya dulu ketika saya vaksinasi saya selalu lupa membawa kartu vaksinasinya, sehingga tidak ada dokumentasi resminya. Akhirnya saya meminta ke dokter di klinik saya vaksin (yang juga masih merupakan dosen saya) untuk bukti vaksinasinya. Alhamdulillah dapat dengan mudah.

Kemudian saya mencari vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) dan dTp. Waktu itu saya sedang stase anak dan alhamdulillahnya masih di daerah Yogyakarta. Saya mencari vaksin tersebut di RS Sardjito. Tetapi ternyata stok keduanya sedang kosong T_T. Di Sardjito adanya vaksin Td dan saya harus memesannya terlebih dahulu. Tempat untuk vaksinnya di klinik anak dan karena kebetulan saya sedang stase anak jadi mudah untuk akses klinik tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk vaksin Td sambil mencari tempat yang memiliki stok vaksin MMR. Saya sampai bertanya kepada dokter ahli vaksinasi di RS Sardjito dimana saya bisa mendapatkan vaksin MMR, dan beliau bilang stoknya memang benar-benar sedang kosong. Saya disarankan mencari alternatif lain seperti mengecek titer IgG Rubella dan Measles. Beliau juga bersedia jika diminta pernyataan yang menyatakan bahwa stok vaksin MMR di Indonesia sedang kosong. Saya pun mencoba saran beliau.

Mengecek IgG Rubella bisa dilakukan di RS Sardjito sedangkan IgG Measles harus di klinik swasta dan harganya lebih mahal dibandingkan dengan vaksinnya sendiri karena harus dikirimkan sampelnya ke luar negeri.

Setelah mengecek titer dan vaksin Td, sayapun mengirimkan dokumen tersebut ke pihak Westmead. Ternyata pihak Westmead tetap mempersyaratkan vaksin MMR dan harus dTp, tidak boleh Td. Akhirnya saya dan Galuh browsing dan tanya-tanya extra untuk mendapatkan vaksin tersebut. Saya sampai bertanya ke Biofarma Bandung, meminta tolong teman saya yang sedang koas di RSHS Bandung, RS Moewardi Solo, dan teman saya di Malaysia untuk menanyakan stok vaksin (Yaampuun kalo diinget-inget lebay banget yaa). Alhamdulillah kami menemukan informasi bahwa sebuah klinik vaksin di Jakarta memiliki stok vaksin MMR dan dTp. Betapa bahagianya kami saat itu. Tetapi kemudian kami pun bingung bagaimana akses ke Jakarta di saat kami koas seperti ini, dan apakah harus jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk vaksin? Harganya pun menjadi jauuh lebih mahal dibanding vaksinasi MMR saat di Indonesia ada stok karena vaksin MMR di klinik tersebut merupakan vaksin impor dari Singapura. Harga vaksin MMR satu dosis saat itu 750 ribu rupiah dan vaksin dTp 550 ribu rupiah. Tapi yasudahlah kepalang tanggung daripada mundur di tengah jalan, akhirnya kami mengatur waktu yang kosong agar kami bisa pergi ke Jakarta untuk vaksin MMR dan dTp. Kurang lebih 3 minggu kemudian saya berangkat ke Jakarta untuk vaksin tersebut (untungnya ada jadwal libur pergantian stase jadi saya berangkatnya dari Bandung sekalian pulang kampung hehe). Oiya untuk vaksin dTp cukup 1 dosis tetapi vaksin MMR harus 2 dosis. Jadi saat saya harus kembali ke Jakarta sebulan kemudian untuk vaksinasi dosis ke-2.

PhotoGrid_1501502660551

Untuk dokumen bebas TB bisa dengan mudah didapatkan pelayanannya di RS Sardjito dengan melakukan TST (Tuberculin Skin Test) atau X-Ray Thorax jika perlu.

Alhamdulillah setelah semua persyaratan lengkap (setelah diurus berbulan-bulan :”), saya mengirimkan dokumen tersebut ke pihak Westmead.

Setelah persyaratan di cek oleh pihak Westmead, kami dikirimkan surat pengantar visa untuk pembuatan visa ke Kedubes Australia.

Visa

Kami mendapatkan surat pengantar visa kurang lebih satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Dengan menghitung-hitung waktu yang ada, tidak mungkin saya dan Galuh mengurus langsung ke Jakarta karena kami harus menjalani koas dan sulit untuk ijin lebih dari sehari. Kami mencari alternatif tempat membuat visa Australia di Yogyakarta.  Ternyata visa Australia itu banyak sekali macamnya, mulai visa turis, bisnis, student, dan itu masih terbagi lagi beberapa subclass *saya bingung bacanya* haha. Setelah memutar-mutar mencari agen-agen visa, kami mendapatkan agen yang bersedia mengurus visa kami. Saat itu saya sedang stase Forensik di Klaten dan saya ijin untuk kembali ke Yogyakarta beberapa jam untuk memasukkan dokumen visa tersebut agar bisa jadi maksimal 2 minggu sebelum keberangkatan (syarat dari pihak Sydney Uni nya). Dokumen persyaratannya susah-susah gampang buat saya karena saya juga mengirimkan dokumen asli dari  Bandung (salah saya juga sih karena saya ga bawa dokumennya waktu saya liburan sebelumnya). Saya memasukkan dokumen visa hanya beberapa hari sebelum lebaran. Sempet deg-deg an juga karena waktu libur lebaran belum tentu terhitung sebagai waktu kerja untuk mereka, yang kata Kedubesnya rata-rata waktu pemrosesan visa sekitar 15 hari. Tapi yaudahlah kalo masih rejeki ga bakal kemana, saya pikir. Nothing to lose. Alhamdulillah ternyata waktu pemrosesan visa kami pas 15 hari terhitung dari kami memasukkan dokumen.

Oiya saat itu saya apply visa bisnis (karena ada LoA nya dari pihak Sydney Uni) dan Galuh apply visa turis. Visa ini sebelas dua belas sih, sama-sama termasuk visa visitor tetapi bedanya hanya biasanya jika ada LoA lebih disarankan untuk apply visa bisnis agar bisa diurus dengan lebih mudah. Untuk harganya sendiri visa visitor dikenai harga 1,9 juta rupiah melalui agen. Kalau apply langsung ke Kedubesnya lebih murah beberapa ratus ribu (saya lupa berapa).

Dokumen visa lengkap, kemudian kami kirimkan. Beberapa hari kemudian kami dibelikan tiket PP oleh pihak Sydney University.

Alhamdulillah, mimpi apaa coba dhila akhirnya jadi berangkat jugaaa :” (Insyaallah)

Hello Sydney! #1 (Proses seleksi dan nadzar)

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa merasakan kehidupan perkoas-an di Sydney, tepatnya di Westmead Hospital.

Insyaallah saya akan berbagi pengalaman selama di Sydney melalui tulisan-tulisan di blog ini tentang apa-apa yang sudah saya lalui.

Kok bisa dhila ke Sydney? Untuk keperluan apa? Funded? (pertanyaan orang-orang yang tau kabar saya akan kesini)

Pendaftaran dan proses seleksi

Mungkin topik pertama yang ingin saya bagikan adalah tentang proses seleksi dan perjuangan (ceileee) sampai akhirnya saya bisa jadi berangkat.

Sekitar bulan November tahun 2016 (saat itu saya sedang koas stase THT), setelah saya pulang dari RS UGM, saya beristirahat sejenak sambil scrolling facebook dari HP dan kemudian saya melihat sebuah pengumuman dari facebook Gamel FK UGM yang berjudul ‘Open Exchange untuk Koas’.  Sekilas saya melihat judulnya ini tidak biasa, karena jarang sekali ada penawaran exchange yang khusus untuk koas (karena biasanya exchange dilaksanakan saat S1) dengan beasiswa $3000. Saya excited saat itu. Karena resolusi yang saya buat saat S1 dulu di poin ‘going overseas funded’ sekaliiii aja belum tercapai hehehe.

Saya telepon orang tua waktu itu untuk meminta ijin mendaftar seleksi karena jika melihat waktunya, saya harus mengundur jadwal kelulusan saya menjadi gelombang 2 (mundur sekitar 3 bulan). Orang tua pun mengijinkan.

Saya persiapkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat. Untuk dokumen persyaratan sebetulnya standar seperti seleksi exchange lainnya. Berikut daftar persyaratannya :

  1. Kartu Tanda Mahasiswa
  2. Motivation Letter
  3. Transkrip nilai S1
  4. Valid legalized IELTS certificate with min score 6.5 (saya bold karena ada ceritanya ini nanti dibelakang hehe)
  5. Paspor (saat mendaftar saya belum punya paspor, setelah ditanyakan ke staf internasional relationnya, paspor bisa disusulkan kemudian)
  6. CV à Karena saya belum pernah membuat CV yang proper dalam bahasa inggris sebelumnya, saya meminta contoh CV Nabil Satria Faradis, teman IC saya yang kece abis (Makasih bil!). Walaupun saya cuma bisa bilang WOW begitu saya membuka CV yang dikirimkan oleh Nabil (serius beasiswa, prestasi dan karya dia buaaaanyakk bangettt!!).

Tentang Valid Legalized IELTS Certificate

Kalo dilihat dari kata-katanya agak ambigu ya. Saya menanyakan kepada staf hubungan internasional FK UGM (Mbak reni) apakah sertifikat IELTS nya harus yang official. Dan mbak Reni jawab yes saat itu T_T karena tulisannya ada ‘valid legalized’. Untuk seleksi internal bisa dilampirkan dulu sertifikat IELTS non-official, tetapi saat sudah terpilih nanti harus yang official. Wah udah mahal tesnya, saya belum ada persiapan apa-apa, dan belum tentu juga tes officialnya dapat 6.5 one go T_T. Akhirnya untuk proses seleksi internal saya hanya melampirkan sertifikat IELTS non-official. Urusan nanti harus yang official nanti saja dipikirnya ((kalau keterima)). Saya pun mendaftar. Oiya, dan saya bernadzar jika saya keterima, untuk memurnikan niat saya dan agar niat saya tidak terkontaminasi oleh niat-niat yang tidak baik, saya tidak akan posting di Instagram selama sebelum dan saat program berlangsung, dan akan saya post di akhir program saja dan selama program di blog ini untuk berbagi pengalaman (begitulah latar belakang tulisan ini muncul hehehe).

Singkat cerita, Jeng jeng! Kurang lebih sebulan kemudian pengumuman disampaikan melalui email dan menyatakan bahwa saya dan Galuh terpilih dari proses seleksi internal. Alhamdulillah diterima.

A

 

Dan ternyata Galuh juga belum punya sertifikat IELTS official! Kita pun menyanyakan kembali dan hasilnya masih sama, harus yang official T_T dan parahnya lagi maksimal 6 bulan sebelum keberangkatan which is bulan Januari 2017 (dan itu hanya 2 minggu setelah pengumuman) WOWWW gimana caranyaa belum ada persiapan dan bahkan daftar tes IELTS nya saja sudah ngantri T_T. Dan kami berdua sama-sama lagi Stase Anak yang terkenal sebagai stase terzombie selama koas!

Akhirnya kamipun nekat untuk mengulur-ngulur memberikan sertifikat IELTS aslinya saat itu dan ikut kursus IELTS singkat terlebih dahulu. Sebetulnya inginnya tidak perlu kursus karena kursusnyapun mahal…tetapi berhubung saya tidak akan bisa belajar sendiri saat stase anak ini kalau tidak kursus, saya minta ijin orang tua untuk ikut kursus IELTS dengan harga yang termurah dan kualitas bagus.

Saat itu saya dan Galuh mencari-cari tempat kursus IELTS. Dulu saat S1 saya pernah kursus tetapi di lembaga kursus yang bukan native speaker. Kami mencari yang native speaker dan maksimal hanya sebulan. Kami pun mendatangi IONS Yogyakarta dan menanyakan informasi program kursus yang tersedia.

Belajar IELTS

Program kursus yang diselenggarakan oleh IONS Yogyakarta ini terbagi menjadi 2, yaitu kelas reguler dan kelas privat. Kalau rahasia umumnya, kelas privat biasanya lebih mahal daripada kelas reguler. Tetapi ternyata setelah kami hitung-hitung, kelas privat jatuhnya jauh lebih murah daripada kelas reguler. Hanya saja kita perlu berjuang sedikit untuk mengumpulkan orang-orang yang mau ikut kursus di jadwal yang sama dan target yang sama dengan kita. Akhirnya dengan bermodal nekat dan doa kami pun broadcast open rectruitment kursus IELTS selama sebulan, in school, mixed native, 30 jam. Kami broadcast ke setiap grup yang kami punya (agar bisa segera dimulai). Ternyata tidak disangka-sangka, animonya sangat tinggi, pendaftar nya lebih banyak daripada kebutuhan! Terkumpullah kami berdelapan orang dengan masing-masing anak membayar 1,8 juta rupiah.

Singkat cerita, karena saya tidak ingin menyia-nyiakan uang orang tua untuk membiayai keinginan anaknya ini, saya intens banget belajar IELTS. Saya mengikuti kursus, dapat tips dan trik yang jitu untuk tes IELTS, dapat ilmu-ilmu baru yang sangat bermanfaat, dapat kenalan baru, dan belajar dari buku IELTS nya selama sebulan (bahkan lebih sering baca buku IELTS daripada referensi stase anak! Huhu maafkann) . Waktu itu metode belajar IELTS saya adalah sbb :

  • Kursus 3x/minggu pukul 19.00-20.30 (saat itu saya sedang stase anak dengan jadwal jaga 3x/minggu weekdays ditambah hari minggu pasti dapat satu shift jaga. Jadi sebetulnya saya zombie banget saat itu. Setelah pulang jam kerja koas kalau bukan kursus pasti ada jadwal jaga T_T, untungnya saya bersama kak titin dan kak ghaza yang dengan baiknya mau mengikuti kemauan adiknya ini memilih jadwal jaga. Terimakasih kakak!) Ya Allah alhamdulillah sudah terlewati dan diberi kesehatan T_T *masih ngga nyangka*.
  • Belajar dari textbook IELTS Cambridge. Berdasarkan rekomendasi Hasna Mardhiah (temen saya yang jago banget bahasa inggrisnya), buku IELTS yang recommended adalah terbitan Cambridge. Saya waktu itu cari download ebook dan audionya di internet dan dapat kumpulan soal edisi 1-8 (berhubung beli buku aslinya juga harganya jutjut-red: juta-jutaan). Dan pinjam buku The Official Cambridge Guide to IELTS aslinya dari Hasna (Terimakasih Hasna!). Jadi saat temen-temen saya tanya referensi buku belajar IELTS, ini recommended banget karena bahasanya enak, mudah dimengerti dan sistematis.   Saya print soal-soal di buku tersebut dan saya kerjakan dengan target satu set soal per hari.
  • Belajar dari kursus Online. Saya ikut kursus IELTS online free dari coursera.com yang bener-bener kebetulan waktu itu lagi buka kelas IELTS baru dan official dari orang-orang cambridge. Saya ikut kursus ini sesempetnya (dengan target mengasah writing), karena pada akhirnya tidak semua soal bisa saya kerjakan. Menurut saya, kursus online seperti ini bagus untuk melatih writing skills. Pesertanya ada ribuan orang dari seluruh dunia, dan disitulah kita saling mengoreksi dan berbagi feedback dengan tulisannya masing-masing. Dari awal sang pengajar sudah mengatakan bahwa jangan malas untuk melihat comment dan HARUS saling feedback satu sama lain dimana disitulah tempat kita belajar. Oiya lewat cousera inilah saya mengaplikasikan tips and trick writing yang saya dapatkan (jadi jangan lupa untuk belajar dulu format writing yang baik biar ga kopong-kopong banget saat menulis).
  • Belajar dari web online. Ini dia satu website yang saya rekomendasikan (berdasarkan rekomendasi native speaker juga di IONS): ieltsliz.com . Webnya ini kurang lebih materinya sama dengan materi saya belajar di IONS. Jadi buat temen-temen yang masih punya banyak waktu untuk belajar sendiri dan tidak ingin kursus, bisa belajar dari web ini. Penyampaian materinya sistematis dan mudah dimengerti. Perjuangannya hanya siapkan koneksi internet unlimited atau wifi access karena belajarnya dari video youtube hehehe.
  • Sering-sering dengerin audio, video, atau nonton film berbahasa inggris tanpa subtitle (terutama dengan aksen british). Hampir setiap waktu saat saya ada di rumah saya puter audio bahasa inggris dari laptop (padahal entah saya lagi nyuci atau ngejemur pakaian, tetep saya puter untuk membiasakan telinga hehe). Saya mendownload podcast british council, dan saya puter radio bbc (yang radio ini agak berat karena ngobrolnya cepet banget dan saya masih sering tidak menangkap obrolannya :P). Kalau podcast dari british council masih standarnya orang belajar bahasa inggris dan ada juga tentang berbahasa sehari-hari yang sering digunakan disana. Ini recommended!). Untuk film yang saya tonton sebetulnya tidak british, tapi karena saya suka banget film tersebut dan saya lumayan nangkep kalau ga ada subtitle nya, saya nonton Emergency Room TV Series. Saya puter ulang season-season yang sudah saya tonton hehehe. Untuk video nya, saya nonton TED Talk (cari yang berasal dari negara aksen british). Karena selain saya bisa melatih listening, saya dapet banyak ilmu dan inspirasi baru dari speakers nya.
  • Yang terakhir adalah latihan speaking dengan orang bule. Bagian ini thanks to Hasna lagi (dia banyak banget bantuin sayaaa). Berhubung hasna punya banyak temen orang bule, akhirnya dia meng-arrange waktu biar saya bisa video call sama temen bule nya tersebut. Saya sempet beberapa kali latihan speaking dan simulasi tes speaking IELTS bersama Kevin (temannya Hasna), walaupun dia berasal dari US, setidaknya melatih saya untuk bicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan speaking di IELTS (Terimakasih Kevin!)

Saya juga tanya-tanya ke teman saya yang sudah pernah tes IELTS official untuk memilih tempat tes, Wida dan Daus (Terimakasih Wid, Dau!). Dua-duanya pernah tes tetapi di negara berbeda. Wida pernah tes di British Council Jakarta dan katanya pake headset untuk listening nya (which is lebih enak daripada central speaker), dan Daus di Jepang (yang ini gabisa jadi acuan perbandingan sih dari Indonesia hahaha). Saya juga tanya-tanya topik pertanyaan writing dan speakingnya. Wida dulu ditanya tentang politik internasional gitu dan daus pertanyaannya sangat filosofis tentang kesabaran dan menunggu (duh!).

Saya akhirnya memutuskan untuk tes IELTS dari British Council. Mereka ternyata tidak punya kantor di Yogyakarta. Daftar via online à bayar via transfer à tes nya di hotel Harper Yogyakarta. Saya dapet tes speaking sehari sebelum tes yang lainnya (dan itu saya habis jaga malem di malam sebelumnya T_T). Ya Allah… kalo diinget-inget ngga ngerti lagi saya bisa diberikan kemudahan sama Allah SWT walaupun jadwal saya padat sekali waktu itu :”

Untuk part Listening nya pakai central speaker (harus konsentrasi betul-betul) karena satu ruangan bisa ratusan orang. Part reading soalnya standar tes IELTS. Sedangkan writingnya saya diminta menulis tentang 2 diagram yang saling berhubungan dan dapet pertanyaan tentang kebijakan transportasi. Di part Speaking ternyata yang mengujinya adalah orang Indonesia tetapi sangat fasih berbahasa Inggris British.

Alhamdulillah hasil tes nya memenuhi persyaratan. Band score saya sangat terbantu oleh reading dan listening (hahaha dasar orang pasif :P).

Wah panjang juga ternyata nulisnya.

Cerita tentang bagian pendaftaran dan perjuangan sebelum berangkat lainnya bersambung yaaa. Doakan saya masih sebulan lagi disini :))

 

Untuk ibadah

“Niatkan untuk ibadah”

Itu kata-kata yang mulai sering saya dengar sejak SMA. Saat itu saya bingung. Tidak terbayang bagaimana belajar yang diniatkan untuk ibadah. Karena sejak dulu saya belajar ya seperti memenuhi kewajiban anak sekolah. Masih sering terlintas belajar untuk mencari nilai. Biar nanti nilai di rapot bagus dan bisa masuk jurusan yang diinginkan. Jadi orang sukses. Seperti itulah mindset saya saat itu.

Kata-kata yang tidak saya mengerti bagaimana mengaplikasikannya. 

Tapi sebetulnya sayapun ingin meniatkan untuk ibadah. Yang saya yakini dulu, itu pasti sesuatu yang baik. Akhirnya setiap mau belajar atau sekolah yang bisa saya lakukan adalah mengucapkan secara lisan ‘saya niat belajar untuk ibadah Ya Allah…”

Semoga masih bernilai pahala yaa :”

Saat ini, di usia saya yang menjelang 23 ini, (semoga) lebih mengerti makna sesungguhnya belajar dan melakukan sesuatu yang lainnya untuk ibadah itu seperti apa. Saya tidak lagi selalu memasang target harus nilai bagus, harus seperti ini dan seperti itu. Hanya berharap semoga setiap apa yang saya lakukan diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

The secret life of an anaesthetist: if surgeons are the blood, we are the brains

Sumber : Disini

You have to get used to being invisible as an anaesthetist. A large percentage of the public has no idea that we’re medically qualified. I’ve been asked how many GCSEs you need to be an anaesthetist. In fact our training is as long as that of a surgeon. It takes seven years of specialist studies after you’ve already completed two years of basic general training; and that’s after five or six years at medical school.

Patients always remember the name of their surgeon, never that of their anaesthetist. But it’s still a hugely rewarding job. We’re everywhere in the hospital. In theatre obviously, but also in intensive care, on the wards, in the emergency department, and in the pain clinic, with those who are really suffering. We assess people’s fitness for surgery, how likely they are to suffer complications, and support them through the operation itself and into the postoperative period.

When you first start anaesthetising patients early on in your career it’s terrifying. You know that if you get it wrong you might kill someone. Our drugs stop people breathing and it’s our job to take over that function. Even after nine years I still get a frisson of nerves in some situations. I hide it though; it’s an important part of the job to stay calm at all times. If there’s an emergency during an operation the team looks to the anaesthetist for leadership, as the surgeon is often too focused on fixing the immediate problem. If you panic, it spreads and the team loses the ability to function efficiently.

Anaesthesia is a very safety-oriented speciality; we’ve led the way in reducing patient harm by looking at human factors, using simulation training and reporting “near misses”. By sharing episodes where a patient has nearly come to harm, we hope to address the causes and prevent actual harm from occurring in the future. We’ve embraced ideas from aviation and other high-reliability industries about how a team functions effectively. We try to flatten the hierarchy in theatre so that the least qualified individual can raise concerns without feeling intimidated. This makes it especially frustrating when patients come to harm after they leave your care because the rest of the system is struggling to cope.

There are so many gaps in rotas of doctors, nurses and the wider healthcare team, and the proposed junior doctor contract changes will only make this worse. The outlook for patients who suffer complications after surgery is determined not by the presence of the complication, but by how quickly it is picked up and dealt with. This simply can’t happen when workloads are too high.

I look after one patient at a time. This ability to offer a premium level of care is one of the reasons I became an anaesthetist in the first place. On the wards each doctor will be responsible for up to 30 people a day, and even more at night. I can see with each heartbeat what the patient’s blood pressure is in the operating theatre; on the wards, it might only be checked once every four hours.

The speciality is a broad church, so there is room for all personality types. But given the precision involved there is perhaps a tendency to obsessive traits. I’ve worked with colleagues who have a 10-minute ritual for putting in an intravenous cannula that had to be completed in the correct sequence. Our postgraduate exams are renowned for being tricky but they are really a test of commitment. We’re experts in physiology, pharmacology, and physics; we have to know about everything from cellular respiration to how our drugs work, to the internal workings of a defibrillator.

Patients are usually nervous when they arrive in my anaesthetic room. It’s an exercise in trust to place your whole life in the hands of others. Every anaesthetist will have their spiel, some small talk to distract the patient from their imminent surgery. I ask them about family, talk about their favourite place to visit, what they do for a living. I modify my “going to sleep” talk depending on the small talk that’s gone before. If they love travelling, I’ll talk about a white sandy beach, with crystal clear waters, a gentle breeze. The more nervous they are, the longer they take to go to sleep. Many young, usually male, patients have commented as the drugs take effect that it feels just like a Saturday night. I’ve also been asked if I liked to have sex in a vest – I decided not to pursue what he meant by that when he woke up.

Every anaesthetist has a secret weapon when working in the operating theatre. We always work with an assistant, who might be a nurse or an operating department practitioner (ODP). The very best of them could do my job without thinking twice, but they choose even greater anonymity than the anaesthetist enjoys. Many a time I’ve had my bacon saved by an astute ODP. Some appear to have powers of extrasensory perception; I turn to ask for something and there it is in my hand.

I’ve also worked with many theatre colleagues with a wicked sense of humour. Before my first unsupervised operating shift, I confessed to the ODP that I’d never worked alone before. He paused and stuttered that neither had he, it was his first day at work, being newly qualified. I spent the entire day terrified that some disaster would befall us, and we wouldn’t be up to the challenge. At the end of the day he came clean – he’d been doing the job for 20 years.

Frustrations creep in to the job when the system fails. I often arrive at 7.30am (30 minutes before my shift begins), so I can find space on the pre-op ward to see my patients in private, find out their history and take the time to address any concerns. It’s then immensely distressing when operations are cancelled due to lack of beds, or lack of notes, or the surgeon’s been double booked, or you are moved to another job at short notice. Anaesthesia can also become routine; it’s a far cry from the early days of the speciality when unpredictable drugs were used without monitoring. If the patient is fit, it’s rare for them to come to harm from a general anaesthetic.

It is important to have other interests to distract from the stresses, strains and occasional boredom of the job. In my spare time I’m a volunteer doctor for the ambulance service. Being under a car in a ditch in the rain at 2am is very different from the bright lights of the operating theatre. Some of my colleagues are real polymaths. There are painters, musicians, novelists, as well as some quite serious sports people. The coffee room in the morning is the preserve of the middle-aged man in lycra. We see every day the damaging effects of too little aerobic fitness, so we’re staving off our own mortality.

The best bits? Reassuring nervous patients, rendering labouring women pain-free with the magic of epidural analgesia and, of course, merciless surgeon baiting. I’ll ask if they need me to Google instructions for the operation, or if they’ll be finished before new year. We say there’s a blood-brain barrier between the surgeon and the anaesthetist: they’re the blood, and we’re the brains.

Anestesi dan segala cerita

Judulnya ga kreatif. Udah ga tau lagi mau ngasih judul apa haha

Yap. 4 minggu di stase ini. Dengan tempat berputar-putar di OK, IGD, ICU, lapangan, dan ruang parade 🙂

Padahal kalo saya bukan anak FK nih, pasti sejauh mata memandang spesialis anestesi (Sp.An) itu ga keliatan wujudnya, entah dimana orangnya, cuma namanya doang yang ada (kok jadi kayak apa gitu ya haha). Terus cuma tau kalo spesialis anestesi itu kerjanya bius-bius doang…

Ternyata salah besar saudara-saudara. SpAn itu ada dimana-mana. Mulai dari pintu depan RS (a.k.a IGD) sampe yang belakang-belakang kayak OK (ruang operasi) dan ICU itu mereka bekerja. Dan pekerjaan mereka ngga ada yang ringan. Mereka adalah ujung tombak penanganan pasien-pasien kritis. Nanti saya share habis ini postingan bagus buat yang mau tau anestesi itu kayak gimana.

Selain itu, kalo di kampus saya nih ada tambahan satu tempat lagi yaitu LAPANGAN. Yap. Stase anestesi adalah stase plus-plus buat koas karena ada stase lapangan namanya. Iya ituloh literally lapangan. Ada lapangan bola, tenis, badminton, lapangan sepeda (?), lapangan pengajian…

Empat minggu yang bahagia sih kalo bisa saya bilang. Memang beban kerjanya sebetulnya banyak banget, karena pagi harus ikut parade (laporan pagi) jam 06.30, lanjut ikut operasi sampe waktu yang tidak bisa ditentukan (kalo ga beruntung operasinya lama banget), lanjut lagi ikut stase lapangan entah itu bola tenis atau badminton, lanjut lagi habis maghrib pre op (visite) pasien operasi besoknya di bangsal), baru deh pulang ke rumah tidur dengan nyenyak di kasur empuk. Kalo jaga? yaa habis pre op itu meluncur ke ICU atau IGD dan tidak bisa tidur di kasur empuk :”). Besoknya gitu lagi. Teruuus aja selama 4 minggu ga berenti-berenti. Jadi sebenernya kehidupan koas stase anes adalah di rumah sakit (mirip-mirip sama stase anak).

Tapi saya bahagia. Haha. Ngga tau juga kenapa bahagia. Orang-orang juga pada heran ngeliat saya bahagia-bahagia aja sama stase ini :”)

Kemudian saya mulai mikir-mikir mundur.

Mungkin, faktor pertama adalah karena teman. Teman kelompok saya ini adalah gemeli (teman abadi) yang ditakdirkan karena absen akhir selalu bersama kalau pembagiannya urut absen. Jadi yaa akan selalu menyenangkan karena kita udah tau satu sama lain. Jadinya di OK juga suka ketawa-ketawa ga jelas karena seringnya kita nganggur duduk-duduk sambil monitoring pasien dan obrolan random kita :”). Stase ini juga mainnya team work. Jadi pas ujian, karena orang-orangnya udah biasa, jadi ya udah klop dengan pembagian tugas masing-masing.

Faktor kedua adalah jejaring. Alhamdulillah saya dapet stase luar kota di RS yang operasi hariannya ga banyak-banyak banget, tapi tetep dapet kompetensi. Konsulen disana juga baik-baik, perawat dan staf sana juga asik-asik. Alhamdulillah.

Faktor ketiga adalah residen yang asik. Kalo yang ini subjektif sih. Tapi menurut saya secara umum residen anes itu orangnya kocak, asik, dan baik hati *ceileee. HAHA iya karena obrolan-obrolan dan becandaan-becandaan random mereka bisa bikin kita ngakak dan ngga suntuk di OK :”). Oiya bahkan saya ketemu residen yang ternyata beliau ini akan praktik di dekat kampung halaman saya karena tugas belajar darisana. Wah takjub banget ada orang Cimahi yang ketemu di jogja dan ntar prakteknya di deket rumah. Dunia sungguh sempit.

Faktor keempat adalah konsulen anes yang diam-diam menghanyutkan *apasi* tetapi tentunya baik hati. Maksudnya diam-diam menghanyutkan itu kalo lagi ada pasien yang tiba-tiba kritis, mereka biasa dengan cool, tenang, dan gerak cepat tentunya menangani pasien itu. Jadi bukan kayak koas yang heboh pertama kali ngeliat pasien kritis kesana kemari rusuh gitu (ingin rasanya gerak cepat menolong pasien tapi hati sulit untuk terlalu tenang dan ujung-ujungnya don’t know what to do) Duh susah deh mendeskripsikannya.Tapi beliau-beliau ini baik hati. Ada konsulen yang suka melakukan pembantaian pas parade pagi, tapi di luar itu beliau baik hati.

Terus apa lagi ya.. oiya ini faktor terakhir dan belum saya ceritakan. Stase lapangan. Tugas koas putri disini adalah memotong semangka (untuk dimakan para pemain) dan koas putra adalah mengambil bola, atau beberapa orang ikut main. Stase ini banyak yang ga suka. Tapi kalau buat saya ini justru adalah refreshing setelah seharian (bahkan lebih) di RS. Mungkin karena ini kali ya penyebabnya kenapa residen anes itu kompak-kompak dan high spirit banget. Karena mereka suka olahraga.

Sekian cerita tentang stase anes. Oiya saya juga jadi chief di stase ini, kerjanya lebih ekstra lagi daripada anggota biasa, tapi saya bahagia. Haha. Sekian.

1495582235569.jpg
Bersama Gemeli saat ujian (menyemangati kicoy yang bagging selama operasi)
1494060587133.jpg
Bersama dr. Dwi, SpAn (konsulen di RS jejaring)

 

1495181241586.jpg
Bersama dr. Untung, SpAn, KIC (dokter pembimbing yang baik hati)
IMG-20170519-WA0016.jpg
Bersama Chief (ciyee sekarang udah chief aja dok) dr. AHI yang bentar lagi jadi SpAn, residen yang saya buntutin pas penelitian skripsi :”)

 

 

Being considerate

Satu hal yang saya rasa menjadi pembelajaran utama selama saya menjadi koas adalah being considerate.

Being considerate over everything

Misalnya nih, mau ngehubungin konsulen (dokter spesialis), mikir dulu yang ngehubungin siapa, lewat apa, berkenan tidak lewat WA, atau lewat sms, atau telp.. Terus mikir lagi kata-kata yang pas dan sopan gimana, kata-kata yang menkode pesan kita untuk dibalas itu gimana, baru deh sent

Terus juga misal lagi jaga, ada pasien, kita pengen banget nanganin pasien itu, tapi mikir dulu enak gak ya minta ke residennya, kapan ya timing yang pas buat minta ijin ke residen, baru deh habis itu bener-bener bilang ke residennya

Terus lagi ini saya lagi di stase forensik, lagi jaga igd pula. Saya jadi inget kemarin pas balik ke jogja naik motor, saya lebih hati-hati daripada biasanya, lebih pertimbangan kalo mau nyalip-nyalip kendaraan. Karena selama saya jaga forensik ternyata banyak banget kasus kecelakaan di jalan, apalagi pengendara motor…

#hikmahstaseforensik