Kebaikan karena kebiasaan

Kebaikan yang hadir dalam hidup kita sering kali kita rasakan dalam bermacam-macam momen.

Kebaikan sesederhana menjawab salam, membalas sapaan, mengucapkan terimakasih, tersenyum, dan meminta tolong terasa membekas bila diucapkan dengan perkataan yang baik.

Ada kebaikan yang saya lihat disini dan saya yakin ini timbul sebagai sebuah kebiasaan. Tapi semua kebiasaan pada awalnya bukanlah kebiasaan bukan?

Seperti cara mencuci baju. Pertama kali diajari bagaimana cara mencuci baju dengan baik dan benar. Apakah dikucek, disikat, diinjak-injak. Apakah dibilas sekali, dua kali, tiga kali. Pada awalnya semua itu diberi tahu, entah oleh ibu, ayah, nenek, atau bahkan teman sekalipun. Seiring berjalannya waktu, cara yang diajarkan pun menjadi sebuah kebiasaan yang secara tidak sadar kita lakukan dan akan terasa mengganjal saat tidak melakukannya.

Conscious menjadi unconscious.

Pun dengan kebaikan-kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan berulang-ulang akan menghadirkan kebiasaan. Saya melihatnya disini. Seseorang yang melakukan kebaikan karena mengerti akan kesulitan, harapan, dan pengorbanan orang lain. Dan itu dilakukannya terhadap semua orang tidak memandang siapa.

Semoga kebaikan-kebaikan seperti itu menular.

Advertisements

tulisan kedua hari ini

tau gak. sekarang jam 1 malem. dan saya belom tidur. lebih tepatnya saya gabisa tidur. dan tetiba pengen nulis (lagi) untuk hari ini.

jadi saya baru pulang. gak baru juga sih, udah 2 jam yang lalu. saya baru pulang habis ketemuan dengan geng kecil masa alay puber bin galau-galauan saya. geng saya jaman SMP (saya mah anak nya nge gang ya gimana ya ._.)

terus saya jadi scroll laman saya ini. liat-liat tulisan yang dulu. karena… iceu habis buka kartu kalo saya punya blog (wkwkwk yaampun ceuu). jadilah saya pengen lihat tulisan-tulisan saya ini seberapa bermanfaat sih. sodara-sodara, blog saya ini ntar lagi beneran bakal dibaca lebih dari satu dua orang! (padahal paling nambah satu-dua orang).

terus saya baca-baca, ternyata 75% isinya curhat, 20% random, dan 5% tulisan serius.

tingkat kepentingannya paling 90% ngga penting, dan cuma 10% penting.

sampai di postingan terlama di blog ini, saya buka link tumblr saya yang dulu. terus scroll sampe habis.

dan ternyata saya malu. malu kok rasanya lebih wiser saya yang jaman dulu ya… lebih punya nyali buat bermimpi saya yang jaman dulu… lebih idealis dan berprinsip saya yang jaman dulu… terus sekarang rasa-rasa itu seperti lekang oleh waktu, terkikis sedikit demi sedikit #tsaaah

jadi, kemana perginya sebagian diri ini yang jaman dulu? #eh gimana ya ini struktur kalimatnya

 

Untuk ibadah

“Niatkan untuk ibadah”

Itu kata-kata yang mulai sering saya dengar sejak SMA. Saat itu saya bingung. Tidak terbayang bagaimana belajar yang diniatkan untuk ibadah. Karena sejak dulu saya belajar ya seperti memenuhi kewajiban anak sekolah. Masih sering terlintas belajar untuk mencari nilai. Biar nanti nilai di rapot bagus dan bisa masuk jurusan yang diinginkan. Jadi orang sukses. Seperti itulah mindset saya saat itu.

Kata-kata yang tidak saya mengerti bagaimana mengaplikasikannya. 

Tapi sebetulnya sayapun ingin meniatkan untuk ibadah. Yang saya yakini dulu, itu pasti sesuatu yang baik. Akhirnya setiap mau belajar atau sekolah yang bisa saya lakukan adalah mengucapkan secara lisan ‘saya niat belajar untuk ibadah Ya Allah…”

Semoga masih bernilai pahala yaa :”

Saat ini, di usia saya yang menjelang 23 ini, (semoga) lebih mengerti makna sesungguhnya belajar dan melakukan sesuatu yang lainnya untuk ibadah itu seperti apa. Saya tidak lagi selalu memasang target harus nilai bagus, harus seperti ini dan seperti itu. Hanya berharap semoga setiap apa yang saya lakukan diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Kebaikan perempuan

satu lagi. 

Sumber : disini

kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yaitu mengalah, mengabdi, dan menerima–menerima dari awal sampai akhir. kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yang apabila tidak ditunaikan, dirinya sendiri yang akan kekurangan, kesusahan. yang apabila ditunaikan, dirinya sendiri yang akan dicukupkan, dibahagiakan.

Kebaikan laki-laki

Err… Ingin reblog, tapi udah ga pake tumblr lagi

Ijin share ya mbak, sumber disini

kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.

kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.

tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.

maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.

maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.

karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu.
maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. 🙂