Untuk apa

Kemarin pagi pertama kalinya saya menyaksikan kerasnya kehidupan antar residen, akhirnya kemarin seharian saya ngga mood masuk koas dan pergi ke RS, cuma tidur2an di rumah dan ikut stase lapangan tapi terus terngiang kejadian kemarin pagi.

Kemudian saya menemukan sebuah tulisan yang kebetulan pas banget

Kekerasan Dalam Pendidikan Dokter Spesialis

(Stop Bullying Dalam Dunia Pendidikan Spesialisasi)

Saya banyak menerima keluhan dan pengaduan dari adik adik dan teman teman residen tentang kekerasan yang mereka terima dalam pendidikan. Banyak yang tidak saya pedulikan karena toleransi dan ambang batas kesensitifan saya masih terlalu tinggi untuk hal itu. Pribadi saya pernah berada pada posisi yang sama, mulai dari residen yunior sampai “chief” residen, melihat langsung pembullian oleh senior kepada yunior. Saya sebetulnya ingin perbaikan didalam program pendidikan residen , tetapi sejauh itu tidak berakibat fatal saya lebih senang melalui perbaikan internal. Tetapi ambang batas tersebut menurun karena tangisan seorang peserta didik.

Ada yang salah dengan pendidikan dokter spesialis kita dalam konteks hubungan senior dan yunior, penderitaan dan kesengsaraan dianggap hal yang wajar. Kekasaran dan kebengisan senior dianggap bagian cara mendidik yunior sehingga lebih tahan menghadapi tekanan didunia nyata. Hal itu sering dimanfaatkan oleh residen senior sehingga pembullian yang mereka lakukan selalu ada pembenaran dan selalu ada alasan.

Hari ini saya menerima “screen capture” dari WA antara residen dalam salah satu bidang ilmu dan potongannya saya tuliskan, bukan dari FKUI/RSCM . Saya akhirnya terpaksa menyampaikan hal ini dalam bentuk tulisan di medsos. Basah mata saya membacanya. Generasi muda dokter calon spesialis memiliki bahasa yang sangat kasar dan memalukan. Kita seolah berada didalam kebun binatang. Mohon maaf” screen shoot” nya tidak akan saya lampirkan dan tidak akan saya sebarkan. Karena juga ikut memalukan saya sebagai pendidik. Ini hanya potongan kecil dari sebuah potongan besar ditangan saya.

“Anjxxx”
“Lo tugas jaga sampai hari minggu” “isi kamar jaga”
“Gw ga butuh dijilat, moxxxx”
“Xxxx, Anxxxx loe”
“Anjxxx anjxxx, balik kalian semua”

Sudah saatnya kita mengoreksi diri bersama sama. Saya juga staf pengajar mulai dari S1, Profesi Dokter, Spesialis dan Subspesialis.
Selama proses pendidikan kepada murid murid saya, saya belajar untuk menggunakan bahasa yang santun, karena saya ingin mereka juga menggunakan bahasa yang santun. Sesekali memang keluar ucapan yang sedikit keras, tetapi menggunakan kalimat Anjxxx, Moxxxx, Bxxx tidak pernah sama sekali.

Disalah satu pusat pendidikan spesialis seorang yang baru masuk akan jaga tiap hari selama sebulan dan jika ditanya sampai kapan jaga tiap hari malahan ditambah jaganya selama 15 hari. itu diluar pengetahuan staf pengajar, atau pura pura tidak tahu saya juga tidak tahu. Dibagian lain seorang peserta didik bisa menghabiskan uang banyak untuk membiayai makan makan seniornya selama 6 bulan pertama pendidikan.

Boleh saja kita berbantah bantahan, tetapi ini adalah fakta yang harus kita akui, sehingga seorang sejawat saya berhenti pendidikan ( bukan dari spesialisasi saya) karena kehabisan uang.

Kita juga tahu hal ini bukanlah dilakukan institusi. Tetapi pembiaran oleh institusi juga merupakan suatu kesalahan besar. Kita tahu hal ini tidak dilakukan semua senior, tetapi pembiaran oleh senior lain juga merupakan suatu kekeliruan besar.

Batas antara bulli dengan disiplin memang susah. Yang melakukan akan berlindung dibalik pernyataan bahwa itu dilakukan untuk meningkatkan disiplin. Menyuruh yunior untuk melakukan “push up” dilapangan bola karena terlambat bukanlah suatu pembullian tetapi lebih tepat memang penegakan disiplin. Tetapi menyuruh yunior jaga terus menerus adalah pembullian, menyuruh yunior membayarkan tiket pesawat adalah pembullian, menyuruh yunior membawa mobil dan mengantarkan istri ke pasar adalah pembullian. Memaksa yunior mengisi kulkas dan kamar jaga dengan makanan, adalah suatu pembullian. memaksa yunior membiayai makan senior jaga adalah pembullian.

Saatnya kita harus introspeksi sistem pendidikan kita, saatnya kita melihat kedalam. Saatnya kita bercermin , melihat muka sendiri, melihat bopeng sendiri, melihat borok sendiri.

Saya tahu hal ini kontroversial, tetapi kalau tidak kita buka, akan terus berjatuhan korban korban pembullian bagi yunior kita. Saatnya kita menghargai dokter dokter yang ingin bersekolah dengan wajah ramah dan tangan terbuka. Kita hargai mereka sebagai sejawat yang ingin melanjutkan pendidikan. Kita sayangi mereka sebagai generasi penerus kita.

Beban mereka yang melanjutkan pendidikan sudah sangat susah, sebagian besar mereka sudah berkeluarga, mereka tidak lagi bisa berpraktek diluar, mereka tidak lagi menerima gaji kalau diswasta, bagi PNS kehilangan semua tunjangan. Bayangkan kesusahan keluarga dan anak anak mereka yang masih membutuhkan asupan makanan yang bergizi sementara tulang punggung keluarga tidak lagi produktif. Bukan hanya tidak produktif, bertemu keluarga saja susah karena waktunya dihabiskan di RS sebagai pekerja gratisan.

Jika kita tidak bisa membantu, janganlah menambah penderitaan mereka.

Jika kita tidak bisa memberi mereka uang, janganlah bertindak sebaliknya memaksa mereka membayar tiket pesawat, foto kopian buku.

Jika kita tidak bisa memberi mereka uang janganlah mengambil bekal dari dompet mereka yang tipis dan kumal.

Jika kita tidak bisa memberi suasana ruangan yang nyaman bagi mereka, janganlah memindahkan kebun binatang keruangan residen atau ruangan jaga.

Jika kita tidak bisa mengajak makan mereka di restoran mahal janganlah berlaku sebaliknya menyuruh mereka mengisi ruangan jaga dengan segala macam makanan.

jika kita pelit kepada mereka karena kita juga tidak punya uang banyak, janganlah mereka diperas dengan memaksa mereka membayar makanan seluruh PPDS jaga hari itu

Karena tidak mungkin pendidikan tanpa jaga atau dinas emergensi janganlah sebaliknya memaksa mereka jaga berturut turut selama seminggu bahkan sampai sebulan.

Jakarta, 4 Agustus 2016

Patrianef Patrianef
Staf Pengajar di Program Pendidikan Dokter Umum, Spesialis dan Subspesialis.

Mengutip juga dari tumblr nya mas kuntawiaji yang menceritakan perjuangan seorang residen menempuh pendidikan PPDS nya. Emang bener banget, yang berjuang tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga keluarganya.

kunatawiaji perjuangan ppds

Saya juga tidak begitu mengerti untuk tujuan apa hal tersebut harus dilakukan. Terkadang sesuatu yang dipermasalahkan malah menyangkut kehidupan yang sangat pribadi. Toh mengapa harus diungkit ke forum umum?

Entahlah. Semoga rantai yang sudah berlangsung entah sejak jaman kapan ini diperbaiki dan tidak ada lagi pembiaran-pembiaran yang terjadi :”