60 days challenge

here i am.

menulis dari Bangka!

Self-challenge saya pribadi selama 60 hari kedepan adalah puasa sosial media (blog ini pengecualian)  haha cuma mumpung aja sih lagi KKN dan saya mau mengetes seberapa ketergantungan kah saya dengan sosial media terutama *G dan dan f***b**k

Advertisements

tulisan kedua hari ini

tau gak. sekarang jam 1 malem. dan saya belom tidur. lebih tepatnya saya gabisa tidur. dan tetiba pengen nulis (lagi) untuk hari ini.

jadi saya baru pulang. gak baru juga sih, udah 2 jam yang lalu. saya baru pulang habis ketemuan dengan geng kecil masa alay puber bin galau-galauan saya. geng saya jaman SMP (saya mah anak nya nge gang ya gimana ya ._.)

terus saya jadi scroll laman saya ini. liat-liat tulisan yang dulu. karena… iceu habis buka kartu kalo saya punya blog (wkwkwk yaampun ceuu). jadilah saya pengen lihat tulisan-tulisan saya ini seberapa bermanfaat sih. sodara-sodara, blog saya ini ntar lagi beneran bakal dibaca lebih dari satu dua orang! (padahal paling nambah satu-dua orang).

terus saya baca-baca, ternyata 75% isinya curhat, 20% random, dan 5% tulisan serius.

tingkat kepentingannya paling 90% ngga penting, dan cuma 10% penting.

sampai di postingan terlama di blog ini, saya buka link tumblr saya yang dulu. terus scroll sampe habis.

dan ternyata saya malu. malu kok rasanya lebih wiser saya yang jaman dulu ya… lebih punya nyali buat bermimpi saya yang jaman dulu… lebih idealis dan berprinsip saya yang jaman dulu… terus sekarang rasa-rasa itu seperti lekang oleh waktu, terkikis sedikit demi sedikit #tsaaah

jadi, kemana perginya sebagian diri ini yang jaman dulu? #eh gimana ya ini struktur kalimatnya

 

Untuk ibadah

“Niatkan untuk ibadah”

Itu kata-kata yang mulai sering saya dengar sejak SMA. Saat itu saya bingung. Tidak terbayang bagaimana belajar yang diniatkan untuk ibadah. Karena sejak dulu saya belajar ya seperti memenuhi kewajiban anak sekolah. Masih sering terlintas belajar untuk mencari nilai. Biar nanti nilai di rapot bagus dan bisa masuk jurusan yang diinginkan. Jadi orang sukses. Seperti itulah mindset saya saat itu.

Kata-kata yang tidak saya mengerti bagaimana mengaplikasikannya. 

Tapi sebetulnya sayapun ingin meniatkan untuk ibadah. Yang saya yakini dulu, itu pasti sesuatu yang baik. Akhirnya setiap mau belajar atau sekolah yang bisa saya lakukan adalah mengucapkan secara lisan ‘saya niat belajar untuk ibadah Ya Allah…”

Semoga masih bernilai pahala yaa :”

Saat ini, di usia saya yang menjelang 23 ini, (semoga) lebih mengerti makna sesungguhnya belajar dan melakukan sesuatu yang lainnya untuk ibadah itu seperti apa. Saya tidak lagi selalu memasang target harus nilai bagus, harus seperti ini dan seperti itu. Hanya berharap semoga setiap apa yang saya lakukan diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Menakar

Tidak semua hal dalam hidup ini bisa ditakar

Tidak semua hal dalam semua urusan perlu ditakar

Adakalanya, ukuran kita tidak sama dengan ukuran orang lain

Kita hanya perlu mengerti bahwa setiap kita punya kekurangan

Kita hanya perlu memahami dan menyikapi sesuai keistimewaannya masing-masing

 

Adakalanya, tidak semua hal bisa kita paksakan seperti apa yang kita mau

Karena tidak setiap dari kita berada dalam satu tubuh yang sama

Adakalanya, kita tidak perlu memasang standar-standar yang harus dipenuhi

Karena pada akhirnya kitalah yang perlu menurunkan standar

 

Cukup kita menerima seseorang apa adanya, dan berbuat seperti apa kita ingin diperlakukan

Kebaikan perempuan

satu lagi. 

Sumber : disini

kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yaitu mengalah, mengabdi, dan menerima–menerima dari awal sampai akhir. kebaikan perempuan adalah juga kewajibannya, yang apabila tidak ditunaikan, dirinya sendiri yang akan kekurangan, kesusahan. yang apabila ditunaikan, dirinya sendiri yang akan dicukupkan, dibahagiakan.