#throwback koas mata

Sudah berapa bulan lama ya saya tidak menulis? hehehe

Tulisan ini tentang dunia per-koas-an ‘lagi’ yang saya jalani satu bulan terakhir.. Kali ini tentang stase mata.

Sebelum saya masuk stase ini,  mata menurut saya adalah alat indera yang paling rapuh, yang kayaknya kalo bola mata disentuh sedikit saja bisa mencederai bagian-bagian belakangnya. Dan saya ingat sekali kuliah yang gambar-gambarnya paling mengerikan dulu ketika S1 adalah kuliah tentang trauma mata.

Sebulan kemarin, saya menjalani stase ini dengan dosen pembimbing klinik yang masih muda dan easy going. Dan ternyata mata bukan organ yang serapuh itu. Bahkan tindakan jahit menjahit bola mata juga bisa dilakukan seperti jahit menjahit kulit (tentunya dengan alat yang disesuaikan).

Stase ini banyak memberikan pelajaran buat saya. Pelajaran pertama adalah bahwa dengan sebuah keharusan, ternyata saya bisa lebih banyak belajar hehe. Loh kok? iya, karena saya dapet dosen pembimbing yang menilai mini cex dengan mengamati kami memeriksa pasien secara langsung. Bahkan di minggu pertama saya sudah dijadwalkan mini cex dengan beliau (padahal secara koas baru minggu pertama kan belum ngerti apa-apa -_- *alasan*). Akhirnya karena itulah dari hari kedua saya sudah periksa-periksa pasien dan baca-baca textbook hehe.

Pelajaran yang kedua adalah do not overthink about something, unless you go through it by yourself. Kalau yang ini akumulasi dari stase-stase sebelumnya juga sih. Akhir-akhir ini saya lebih banyak memilah dan memilih informasi yang ‘katanya’ dan bersifat sangat subjektif tergantung dari perspektif masing-masing orang. Karena, dunia per-koas-an sangat rentan dengan hal seperti itu. Misalnya, ketika kita mendapat stase jejaring di Rumah Sakit A, dengan dokter B, kemudian ada yang bilang kalau di rumah sakit tersebut dokternya blablablablabla… Nah ini yang tidak selalu benar… saya sebisa mungkin menjadikan informasi tersebut hanya untuk berhati-hati, jangan sampai informasi yang demikian membuat saya kemudian menjadi ragu melakukan sesuatu selama saya berada dalam koridor aturan yang berlaku.. karena sekali lagi, informasi seperti ini sangat bersifat subjektif… Dan di stase ini, terbuktilah bahwa overthinking itu akan sangat merugikan..

Pelajaran yang ketiga… huft… *tarik nafas dulu*… ini the hardest part. The first time ever and i hope it will be the last. Pelajarannya? let the time heals a scar…

Maaf ya tulisan ini jadinya curhatan gak jelas dari saya…

Hari pertama di RS jejaring

Tulisan di bawah ini sudah mengendap hampir 3 bulan di laptop saya…

48884
Sumber : medpagetoday.com

Stase pertama yang saya jalani adalah Ilmu Penyakit Dalam. Agak deg-degan juga karena stase ini adalah stase besar dan dengan target-target penguasaan penyakit yang begitu luas. Karena ini adalah stase besar, kami bergabung dengan kelompok 16108 dan menjalani stase 10 minggu ini bersama-sama.

Seminggu pertama kami habiskan waktu untuk bimbingan koas dari para konsulen dan senior di RSUP dr. Sardjito. Dan minggu ini adalah hari senin di minggu kedua.

Saya bersama 4 orang lainnya kebetulan mendapatkan jadwal 2 minggu selanjutnya di RSA UGM. Dari kabar burung yang beredar, kasus Ilmu Penyakit Dalam di RS ini tidak sesibuk di RS jejaring lainnya. Pasiennya tidak terlalu banyak dikarenakan RS ini masih tergolong baru (usia 4 tahun menurut sang direktur).

Dan hari kemarin adalah hari senin (saya menuliskan ini di hari selasa karena kemarin saya terlalu lelah untuk menulis). Kami datang pukul 7 pagi dan mendapat sekilas orientasi rumah sakit hingga jam 10. Kemudian kami menemui dr. Putu SpPD sebagai penanggung jawab kami. Dokter putu adalah orang yang ramah dan lucu dengan suara cempreng dan halusnya. Beliau sangat ceria dan periang. Dari situ saya kemudian mulai sedikit demi sedikit mengamati bahwa dokter-dokter yang akan saya temui nantinya adalah orang-orang yang hebat dan disukai pasien karena sifatnya yang periang.

Setelah menemui dr. Putu, kami berlima membelah diri (kayak amuba aja) menjadi 3 kelompok. Dari pembicaraan bersama dr. Putu, wajib hukumnya kami belajar dan menemui dr. Agit karena beliau adalah ‘adik bungsu’ IPD yang sangat pintar, masih freshgrad, dan sangat semangat mengajarkan para koass. Saya dan dua teman saya akhirnya memasuki poli dr. Eko dan yang lainnya memasuki poli dr. Putu.

Dr. Eko adalah orang yang sangat ramah dan humoris. Semua pasien dan setiap saat dia selalu bersenda gurau (tentu dalam batas-batas kewajaran). Beliau mempersilakan kami untuk memeriksa para pasien dan kemudian mengkonsultasikannya kepada beliau.

Mayoritas pasien yang kami temui hari ini adalah pasien dyspepsia. Hmm, diagnosis ini memang masih sangat general menurut saya, dan ternyata banyak sekali faktor yang mencetuskan pasien dapat menderitadyspepsia. Terutama adalah faktor psikologis dan stress.

Selain itu, di Poli kami juga bertemu dengan pasien HHD LVH, PPOK disertai BTA + terapi 4 bulan, CHF, dan DM. Saat menjumpai pasienTB BTA +, kami tidak menyadari dan tidak memakai masker. Teman saya yang kebetulan memeriksa kemudian menjadi cemas karena dia kontak dengan sangat dekat ketika memeriksa tanpa menggunakan masker. Wahh, kalau dulu kami hanya mendapat cerita-cerita dan peringatan unutk berhati-hati dari konsulen, kemarin kami benar-benarmenghadapinya sendiri. Ya, menjadi dokter atau tenaga medis lainnya memiliki resiko sangat besar untuk tertular penyakit infeksius. Semoga Allah SWT melindungi kami, aamiin.

Setelah poli selesai, kami berkumpul kembali. Kami membagi jadwal jaga IGD untuk hari pertama ini disaat jadwal jaga dr. Agit. Singkat cerita, saya, dan dua teman saya  yang kebagian menjaga pada malam ini (dari jam 4 sore-8 malam).

Karena saya tidak membawa jaket saat itu,saya dan teman pulang ke rumah dahulu untuk mengambil jaket. Kami sampai ke IGD pukul 15.00 dan langsung menunaikan sholat ashar di mushola. Seusai sholat ashar dan kembali ke IGD, kami melihat kegawatdaruratan sedang terjadi di balik gorden warna merah. Pasien cardiac arrest, dan seorang kakak angkatan kami yang kebetulan juga berjaga pada saat itu sedang melakukan RJP. Sontak saya merinding dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Untung situasi saat itu tidak ada kepanikan. Tapi ya Allah, pasien pertama saya adalah pasien cardiac arrest di usia yang sudah sepuh.

Kami pun bergantian melakukan RJP hingga kira-kira 6 siklus. Epinefrin juga sudah masuk, tetapi ternyata pasien tersebut tidak bisa ROSC. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Di pasien pertama ada 1 nyawa yang hilang.

Saat itu, saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan yang saya rasakan. Syok, tidak tega karena melihat bahwa ternyata RJP yang asli di pasien sungguhan pasti akan mematahkan sternum pasien tersebut. Saya pegang akral nya yang dingin dan saya pandangi wajahnya. Ajal memang tidak bisa diduga kapan datangnya. Saat itu, hujan deras pun mengguyur wilayah kami, padahal sesaat sebelumnyacuaca masih sangat cerah.

Pasien-pasien lainnya pun berdatangan silih berganti, yang saya ingat, ada pasien yang visum et repertum, pasien anak dengan tertusuk duri ikan lele saat makan malam, pasien anak dengan kamasukan cutton bud di telinga kirinya seminggu yang lalu tetapi orang tua dan anak tersebut sangat tidak memperlihatkan kepanikan, mahasiswa dengan suspek dengue fever dan disertai penurunan trombosit, pasien TB relapse usia sepuh dengan apex paru yang sudah hilang dan disertai suara amforik, pasien kecelakaan motor karena miss komunikasi dengan temannya dan dia mendapat luka baret/gesekan, pasien dengan migrain, dan pasien dengan anemia di usia sepuh.

Pelajaran utama hari kemarin bagi saya adalah, bahwa melayani dengan hati akan terasa lebih melegakan dan lebih enak. Pasien anak, sangat sulit untuk mendapat kepercayaan darinya. Kita perlu melakukan pendekatan-pendekatan untuk anak-anak yang jauh berbeda dengan pendekatan pada pasien dewasa. Saya masih harus banyak belajar dan bersabar dengan pasien anak.

Pelajaran kedua hari kemarin adalah, kita tidak perlu lah mengejar kompetensi dengan terlalu berlebihan hingga merugikan orang lain. Karena saya juga percaya bahwa Allah SWT akan menolong kita dan semua yang terjadi pada saat koas ini adalah jodoh kita.

Baitul Quds, 5 April 2016 pukul 05.54

NB: mohon maaf banyak istilah medis yang tidak saya terjemahkan

 

Bersiap web ini ada yang baca (selain saya)

Sebetulnya niat awal saya membuat laman pribadi untuk mendokumentasikan kejadian-kejadian yang saya alami, pendapat yang mungkin telah tersampaikan atau ingin saya garisbawahi, atau mungkin beberapa pendapat yang cuma masih pemikiran saya saja (belum ada yang tahu) agar bisa dibaca ulang atau suatu saat bisa saya lihat-lihat lagi atau saya ketawain kalo lagi bosen alias ga ada kerjaan.

tapi kemudian saya berfikir, siapa tahu laman pribadi ini bisa juga menjadi bermanfaat untuk orang lain, walaupun saya harus menekankan mohon pembaca pilih-pilih ya yang mana yang menurut anda baik yang mana yang tidak.

dan mungkin jika ada yang membaca, saya menjadi lebih semangat menulis, lebih rutin menulis dan berbagi pengalaman, dan laman ini menjadi lebih terurus.

alhasil….

taraaaaaa

akhirnya saya memutuskan, bismillah, saya ingin coba lebih terbuka lagi kalo saya punya laman pribadi hahaha

ini nih buktinya

bukti publikasi laman pribadi haha

26 juni 2016 pukul 11.20 status line saya berubah haha, kalo ada yang sampe bisa buka laman ini berarti mungkin dia nyari di google laman pribadi saya alamatnya apa (geer abis si dhila, emang bakal ada yang nyari :P)

btw, kalo ga setuju sama tulisan saya mah santai aja, bilang aja ya bisa via line, WA, atau ngomong langsung, saya juga terbuka masukan dari orang-orang, mungkin kita bisa diskusi lebih lanjut 🙂

Rindu

Tidak terasa, 10 hari terakhir bulan Ramadhan tahun ini tiba…

ah, rasanya amalan saya masih sangat kurang dan naik turun

alhamdulillah masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk sampai di 10 hari terakhir ini, artinya, masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki amalan-amalan yang belum maksimal…

suatu malam di masjid, saya rindu, rindu sekali dengan suasana IC, rindu dengan suara adzannya, rindu dengan bacaan sholat imam nya, rindu dengan tilawah Al-Qur’an yang selalu berkumandang lewat pengeras suara di masjid, di sepanjang jalan setapak, dan di dalam asrama. Rindu dengan suasana dimana membaca Al-Qur’an kapanpun dan dimanapun menjadi hal yang sangat biasa, rindu dengan hal-hal kecil yang bisa memotivasi diri menjadi pribadi yang lebik baik, rindu dengan suasana orang-orang yang berlomba-lomba melakukan kebaikan…

Terimakasih Ya Allah, karena telah memberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang yang luar biasa…

 

 

The Beauty

beauty_face-1456083

Sumber : http://www.google.com (keyword: beauty)

Isi dari tulisan ini sebagian besar terinspirasi dari kuliah dan presentasi teman saya yang berjudul sama seperti judul tulisan ini.

Cantik dan tampan. Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin menjadi cantik dan tampan? Setiap orang setidaknya sekali dalam hidupnya pasti ingin dibilang cantik atau tampan, apakah dia seorang selebritis, seorang model, bahkan seorang alim sekalipun.

Tapi apakah sebetulnya cantik itu? Bagaimana seseorang dikatakan orang yang tampan? Apakah yang berhidung mancung, pesek, setengah mancung setengah pesek, mancung 5 cm, mancung 10 cm? Berkulit putih seperti chelsea olivia, hitam manis seperti anggun c sasmi, atau seperti oprah winfrey?

Berdasarkan diskusi saat saya kuliah, cantik adalah sebuah konstruksi sosial. Image cantik adalah sebuah pandangan yang terbentuk dari lingkungan sosial kita. Yang dikatakan cantik disini mungkin saja berbeda dengan yang dikatakan cantik disana. Cantik menurut orang indonesia bisa jadi tidak cantik menurut orang eropa. Sama seperti cantik menurut si ini belum tentu cantik menurut si itu. Dan anggapan cantik atau tampan juga akan mengalami perubahan dinamis seiring berjalannya waktu. Cantiknya era 70 an mungkin berbeda dengan cantik di era 90an. Cantik adalah subjektif.

Karena pembahasan cantik ini akan terlalu luas berdasarkan sosial nya masing-masing, mari kita kerucutkan di lingkungan kita saja, Indonesia.

Trend nya saat ini (karena saya merupakan generasi 90an, dalam tulisan saya akan menghubungkan dengan jaman saya :P), karena banyak yang sedang demam korea, seseorang dikatakan cantik atau tampan jika punya wajah oval, kulit putih, tidak ada jerawat di wajah, kutilang (kurus tinggi langsing), hidung mancung, dan tidak ada lemak berlebih di wajah. Ini memang anggapan physically.

Maka, saat ini klinik-klinik kecantikan sangat menjamur dan semakin berkembang apalagi di kawasan per-kampus-an. Dulu, akses klinik kecantikan ini mungkin tidak bisa didapatkan oleh orang-orang sebanyak jaman sekarang. Dulu klinik kecantikan ini mungkin hanya bisa diakses oleh orang-orang high-class atau orang-orang yang memang job nya sangat physical. Tapi saat ini klinik-klinik ini sudah dapat diakses oleh lebih banyak orang. Bahkan mahasiswa (yang notabene nya duitnya pas2an) sudah mendominasi sebagai customer klinik-klinik kecantikan di sekitar kampus. Tidak heran, semakin hari semakin banyak klinik kecantikan yang tumbuh di sekitaran kampus.

Seperti misteri telur dan ayam, klinik kecantikan ini juga sulit ditelusuri apakah didahului oleh kebutuhan pasar atau adanya klinik ini yang mendorong kebutuhan konsumen?

Orang-orang yang dulu merasa asing dengan klinik kecantikan, saat ini malah merasa kurang jika belum pernah ke klinik kecantikan. Dulu yang merasa tidak butuh, sekarang melakukan perawatan di klinik mungkin sudah dimasukkan ke anggaran bulanan. Kalau sudah ada klinik kecantikan seperti ini, what you wanna do is your own right.

Sayangnya, terkadang kita lupa bahwa setiap trend yang berkembang di masyarakat, pasti memiliki akibat untuk masyarakat itu sendiri, baik itu akibat negatif atau positif. Berkembangnya klinik kecantikan dan berbondong-bondongnya orang untuk perawatan di klinik tersebut akan membuat image cantik yang baru. Orang-orang ingin menjadi cantik seperti itu. Akan tetapi tidak semua orang bisa mengakses klinik tersebut. Ya, memang melakukan perawatan membutuhkan extra cost yang harus kita sisihkan. Dan inilah yang akan membuat gap yang besar antara yang mampu perawatan dan tidak mampu perawatan.

Untungnya, dalam hal kecantikan ini Indonesia belum seperti sebuah negara di suatu belahan dunia yang lain. Di negara tersebut, mayoritas pekerjaan menuntut calon pegawainya untuk cantik secara fisik (menurut konstruksi sosial mereka). Kesempatan pada orang yang cantik secara fisik ini akan lebih besar dibanding yang lain. Kalau sudah seperti ini, maka gap yang ada pun akan semakin besar. Logikanya, akan terbentuk 2 golongan seperti ini (hanya berdasarkan asumsi saya) :

  1. Orang yang mampu -> perawatan rutin -> cantik -> mudah mendapatkan pekerjaan dan naik tingkat -> penghasilan bertambah -> budget untuk perawatan bertambah -> perawatan yang lebih advance -> dst.
  2. Orang yang tidak mampu -> tidak bisa perawatan -> kalah dalam persaingan mendapatkan pekerjaan -> tidak punya kerja -> tidak ada penghasilan -> jangankan perawatan, kebutuhan primer pun sulit dipenuhi -> dst.

Akibatnya, yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin miskin. Dan bukan suatu hal yang mustahil di Indonesia suatu saat nanti trend nya akan bergeser seperti ini. Dan kita bisa jadi menjadi salah satu yang berperan dalam keadaan ini.

Sosial media, tayangan di televisi, dan obrolan sehari-hari kita juga mungkin saja berperan banyak dalam membentuk image ‘cantik’ saat ini. Ya, mungkin kita harus lebih sering mengingat-ingat bahwa cantik secara fisik belum tentu akan membuat hidup kita bahagia. Cantik secara fisik belum tentu akan selalu membawa kebaikan setiap saat. Cantik yang lebih indah adalah cantik dalam segala perbuatan kita, kalau bahasa kerennya inner beauty 😛

Selamat membangun kecantikan dari dalam diri masing-masing guys! Buat abang-abangnya juga, selamat membangun ketampanan dari dalam diri masing-masing!

Di penghujung tahun dan menjelang ujian.

Yogyakarta, 30 Desember 2015

 

Moving

Hai!

Posting pertama di laman pribadi saya yang kedua. Bukan tanpa alasan saya akhirnya membuat akun baru dan memilih wordpress sebagai domain laman pribadi yang kedua.

Cerita singkatnya setelah lama tidak membuka tumblr, saya ganti gadget, bersamaan dengan saran tumblr untuk mengganti password akun saya, dan saya lupa password email rujukan, akhirnya tumblr yang lama saya tidak bisa dibuka lagi *hiks hiks*. Padahal ada beberapa tulisan yang beberapa waktu lalu saya buat dan tersimpan di laptop saya.

Harapan saya ga muluk-muluk, semoga laman pribadi yang kedua ini lebih terurus dan lebih sering jadi tempat berbagi cerita